by

Rendahnya Budaya Literasi Masyarakat  Toboali (KKN Tematik Desa Gadung, Toboali)

-Opini-343 views

Oleh: Agus Cik
Mahasiwa Jurusan Teknik Pertambangan UBB

Agus Cik

Membaca adalah cara untuk menjelajah dan membuka jendela dunia. Menjelajah dunia dalam arti lain adalah mencari informasi/pengetahuan tentang apa yang ada di dunia ini. Jelajahi dunia dapat dilakukan dengan cara yang mudah dan praktis yaitu dengan cara membaca. Tetapi, selalu saja ada pro dan kontra pada setiap hal, begitu juga dengan membaca. Ada orang yang suka membaca, ada pula yang begitu kurang suka membaca. Membaca sering diartikan hanya dengan cara membaca.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, definisi membaca yaitu melihat dan paham isinya, bisa dengan melisankan atau dalam hati saja. Menurut Mr. Hodgson terbitan tahun 1960 halaman 43-44, definisi membaca yaitu proses yang dilakukan oleh para pembaca agar mendapatkan pesan, yang akan disampaikan oleh penulis dengan perantara media kata – kata maupun bahasa tulis. Apabila pesan tersurat dan tersirat dapat dipahami, maka proses dari membaca itu akan terlaksana dengan baik.

Sedangkan menurut Mr. Fredick Mc Donald dalam Burns terbitan tahun 1996 halaman 8, definisi membaca merupakan rangkaian beberapa respon yang lengkap, yaitu mencakup respon sikap, kognitif, dan manipulatif. Definisi membaca tersebut dapat di bagi menjadi sub keterampilan, meliputi sensori, persepsi, sekuensi, pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, afektif, dan konstruktif. Beberapa definisi membaca dari para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa membaca merupakan suatu proses memahami dan mengambil makna dari suatu kata – kata, gagasan, ide, konsep, dan informasi yang telah dikemukakan oleh pengarang pada bentuk tulisan.

Minat membaca menggambarkan tingkat melek huruf suatu daerah. Jika suatu daerah memiliki tingkat baca yang tinggi, maka dapat dipastikan kualitas sumber daya manusia pada daerah tersebut akan baik pula, begitupun juga sebaliknya. Minat baca masyarakat Indonesia tergolong masih sangat rendah. Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan oleh program for international students ASSESMENT (PISA) pada tahun 2012, Indonesia menempati peringkat ke 60 dari 65 negara di dunia dalam tingkat budaya literasinya. Sementara, hasil penelitian dari Central Connectitut State University America Serikat tahun 2016 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara terkait literasi. UNESCO pada 2012 melaporkan bahwa indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya, dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca. Keinginan untuk meningkatkan minat membaca di kalangan peserta didik di sekolah ternyata tidak mudah mewujudkannya.

Rendahnya budaya literasi juga terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, salah satunya di Kabupaten Bangka Selatan. Kabupaten Bangka Selatan berdiri sejak 25 Februari 2003 dengan sektor pertanian (lada, karet, dan kelapa sawit) sebagai komuditas utamanya. Selain sektor pertanian, sektor pariwisata, pertambangan dan kelautan perikanan merupakan sektor andalan masyarakat setempat. Sektor pembangunan dan pendidikan menjadi sasaran utama di Kota Toboali. Meskipun pendidikan telah menjadi fokus pemerintah, namun budaya literasi pada masyarakat setempat masih rendah, mengingat keterbatasan lokasi yang terletak jauh dari pusat kota yang menjadikan jarang dilakukan penggiatan literasi serta dalam hal mengakses fasilitas literasi.

Fenomena di atas kemudian menjadikan pemerintah turun tangan dalam mengoptimalisasi literasi, ini dapat terlihat dari program – program yang di keluarkan pemerintah dalam upaya meningkatkan literasi, sebut saja kebijakan pengiriman buku gratis kepada para pegiat literasi serta optimalisasi mobil perpustakaan yang bergerak dari suatu tempat ke tempat lain. Namun, kebijakan ini belum mampu meningkatkan budaya literasi yang ada dalam masyarakat, terutama masyarakat – masyarakat pelosok dan terpencil. Rendahnya minat baca masyarakat disebabkan oleh banyak faktor. Faktor utama adalah pendidikan dasar dari orang tua atau keluarga masing – masing. Jika sejak dini orang tua telah menanamkan budaya membaca pada anak – anak mereka, maka niscaya hingga dewasa budaya itu tetap akan ada. Faktor kedua adalah pengaruh lingkungan. Perkembangan teknologi seperti internet memudahkan siapa saja mengakses informasi. Masyarakat tidak perlu repot – repot membaca koran atau buku untuk memperoleh informasi sekarang ini. Cukup bermodalkan gawai. Tidak mudah memang membuat masyarakat untuk terdorong menjadi rajin membaca buku. Membaca merupakan kebiasaan yang terbentuk sejak dini agar tercipta generasi yang minat baca nya tinggi.

Ada beberapa cara atau langkah yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat, diantaranya adalah Bangunlah motivasi minat baca. Meningkatkan minat baca harus di mulai dengan motivasi diri dalam membaca. Bagi Penulis pribadi pandangan selintas di atas sudah cukup untuk memicuakan pentingnya membaca  bagi masyarakat, sebab itu adalah sebuah keharusan bila kita ingin menguasai dunia. Dengan membaca, pandangan kita menjadi terbuka terhadap hal – hal baru yang tidak ketahui sebelumnya. Kedua, Mulailah membaca sesuatu yang kita sukai. Salah satu kesalahan terbesar dari seseorang yang ingin memulai membiasakan diri untuk membaca adalah image buku dan bacaan yang sebenarnya ia buat sendiri, berat dan membosankan. Padahal banyak sekali jenis buku dengan karakteristikyang beragam.

Penulis dulunya memulai dengan membaca cerita fiksi seperti cerpen dan novel, berlanjut ke buku – buku praktis, lalu berlanjut lagi ke buku motivasi dan pengembangan diri, hingga sekarang Penulis sudah mulai membaca buku – buku politik dan sejarah. Satu hal yang pasti, sesuaikanlah dengan minat kita agar niat untuk membaca buku menjadi lebih baik. Cara yang ketiga ialah Menyisihkan waktu yang tepat dan nyaman untuk membaca. Beragam orang punya momentum baca yang tepat, ada yang suka membaca saat pelajaran kosong saat sekolah, atau lagi istirahat di sekolah, ada juga yang nyaman membacanya saat perjalanan, beberapa saat sebelum tidur, dan saat di perpustakaan. Pakailah waktu – waktu yang biasa kita habiskan untuk bengong dan menunggu untuk mmebaca

Menumbuhkan rasa ingin tahu. Minat baca harus di picu dari diri kita untuk menumbuhkan rasa ingin tahu. Kita harus membuat pertanyaan setiap hal yang ada di sekitar kita dan carilah jawaban di buku. Biasanya, rasa ingin tahu dan penasaran sangat efektif untuk menggerakkan diri untuk membaca. Dan yang terakhir yaitu Membaca lah seperlunya saja. Selagi masih belajar membacalah seperlunya saja. Tak usah berlebihan. Keperluan orang itu tergantung dari hasratnya masing – masing untuk memperoleh informasi. Makin perluanda terhadap informasi, maka sudah pasti kuantitas dan kualitas membaca anda pun pasti akan makin banyak dan baik.(****).

 

Comment

BERITA TERBARU