Rekor Dunia Penari Campak Terbanyak Pecah!!

  • Whatsapp
Rekor Dunia- 1.854 orang penari campak saat memecahkan rekor dunia Museum Rekor Indonesia (MURI) di Jalan Jenderal Sudirman Pangkalpinang, Selasa (30/4/2019). (foto: Nurul Kurniasih)

 

PANGKALPINANG – Rekor dunia Museum Rekor Indonesia (MURI) kategori penari campak terbanyak berhasil dipecahkan Provinsi Bangka Belitung, Selasa (30/4/2019). Tari campak yang digelar disepanjang 1,5 kilometer Jalan Jenderal Sudirman Kota Pangkalpinang ini diikuti sebanyak 1.854 orang.

Tari campak yang dibawakan oleh ribuan pelajar SMA dan SMK ini dalam rangka memeriahkan gebyar pendidikan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan bekerjasama dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dengan LPMP Babel, 29 April hingga 2 Mei 2019.

Manager MURI, Triyono mengatakan awalnya panitia mengusulkan untuk memecahkan rekor MURI, namun setelah diverifikasi dan dilihat oleh MURI, bahwa penari terbanyak ini belum pernah ada dan berhasil memecahkan rekor dunia.

“Setelah kita hitung peserta mencapai 1.854 pelajar, ini memecahkan rekor dunia, luar biasa untuk Babel,” katanya.

Ia menilai, tari ini cukup unik, karena dimainkan oleh penari berpasangan dengan pakaian yang menarik, dengan gerakan variatif termasuk ada gerakan seperti ular naga.

MURI memberikan apresiasi, terhadap tarian tradisional khas Babel yang diangkat kembali dan dimainkan oleh generasi muda. Ia berharap dapat melestarikan seni dan budaya di provinsi Babel.”Kita apresiasi mampu mengangkat tari tradisional ke generasi muda,” imbuhnya.

Gubernur Babel, Erzaldi Rosman menyebutkan, rekor MURI dapat membangkitkan jiwa seni dan melestarikan kesenian di daerah itu.

“Saya kagum dengan kreativitas anak-anak ini, rekor MURI ini dapat meningkatkan semangat pelajar untuk lestarikan seni dan budaya Babel,” imbuhnya.

“Ini menjadi semangat dan daya tarik pelajar untuk menari campak yang sudah mulai tenggelam, memacu pendidikan dan kebudayaan lebih memperhatikan seni tari, khususnya campak,” kata Erzaldi.

Melihat antusias ini, tari campak sudah masuk dalam materi muatan lokal di sekolah akan diusahakan bagaimana caranya sama seperti tari-tarian lain yang booming di Indonesia seperti maumere dan tobelo dengan gerakan riang gembira.

Ia mengapresiasi MKKS SMK, SMA dan SLB bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, dan LPMP yang telah menyelenggarakan gebyar pendidikan tahun 2019 ini, hingga berhasil mendapatkan rekor dunia.

Disinggung rencana rekor lainnya, Erzaldi menyebutkan bisa saja timbul kreativitas lain yang dapat meningkatkan semangat seni budaya siswa siswi di Babel.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Babel, M.Soleh menyebutkan, tari campak yang berhasil memecahkan rekor MURI ini sangat luar biasa, karena dikemas sedemikian rupa dan tampak semarak.

Kedepan, tak menutup kemungkinan bisa saja seni dan tradisi lainnya dapat memecahkan rekor MURI lagi, seperti makanan tradisional, misalnya membuat nganggung tradisional, pecah rekor MURI terbanyak.

“Kita cari yang tepat, kita konsultasi yang belum ada, penghargaan ini memberikan motivasi kepada siswa budaya kita perlu dilestarikan. Tari campak, ada yang sudah masuk muatan lokal. Ke depan dalam rangka tingkat kreativitas, ada event yang rutin, gebyar pendidikan, mungkin pekan pendidikan dan menjadi momen yang ditunggu dan anak-anak dapat mempersiapkan jadi lebih optimal,” tandasnya.

Hanya Dua Hari

Sementara itu, penata musik tari campak yang berhasil memecahkan rekor dunia, Budi Utomo menyebutkan, pihaknya mengaransemen ulang musik campak hanya dalam waktu dua hari.

Ia menyebutkan, tari campak masing-masing daerah memiliki ciri khas, demikian juga dengan musik dan tariannya dan dalam tarian campak yang dimainkan oleh 1.854 penari tersebut mengambil gerakan dari berbagai macam gerakan tari campak.

“Musik campak versi sangat banyak masing-masing kabupaten berbeda dan punya ciri khas, ini kami ambil satu nafas, kami susun kembali, artinya berbeda dan merangkum semua tanpa menghilangkan unsur tradisi, dari segi vokal ada pantun yang disampaikan, biasanya ciri khas untuk muda mudi remaja,” tutur guru seni SMK 4 Pelayaran Pangkalpinang ini.

Alat musik yang digunakan, merupakan akulturasi budaya eropa (Portugis – Spanyol), bertemu dengan budaya melayu, ada semacam perpaduan budaya. Dari kostum lebih condong ke Spanyol, musik perpaduan eropa dengan melayu dari alat musik biola dan akordion, serta melayu berupa gendang.

“Kendala kami waktu terlalu mepet tapi bisa dilaksanakan dengan baik, dua hari menata dan aransemen musik dan bisa digunakan bawakan dengan sempurna ileh peserta dengan durasi 4,5-5 menit,” pungkasnya.

Aksi ini, juga menarik minat warga di sepanjang jalan dan di sekitar alun-alun, mereka pun langsung mengabadikan moment langka ini melalui ponsel masing-masing.(nov/10)

Related posts