by

Rekonsiliasi Atas Pemaknaan Sumpah Pemuda 1928

Oleh: Arka’a Ahmad Agin
Pemerhati Sosial

Tanggal 28 Oktober 1928 menjadi momentum bersejarah bagi Bangsa Indonesia, karena dianggap sebagai hari lahirnya Sumpah Pemuda. Secara historis, pemuda yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara bersatu menyamakan persepsi dan semangat dalam menyusun langkah perjuangan merebut kemerdekaan. Belenggu penjajahan Belanda di era tersebut, telah menyebabkan rasa ketertindasan dan ketidakadilan, sehingga perlu dilakukan tekad bersama untuk menumbuhkan semangat nasionalisme. Sembilan puluh tahun peristiwa itu telah terjadi, tetapi sampai saat ini, masih terpatri dalam jiwa seluruh anak negeri. Bukan hanya momen historisnya saja tetapi substansi dari makna Sumpah Pemuda terus digali sebagai modal penting membangun generasi bangsa ini.

Era saat ini, memang sangat signifikan berbeda dengan generasi pemuda 1928, generasi pemuda saat ini menyebut dirinya sebagai generasi melineal atau milenium. Milenialisme merupakan suatu paham oleh suatu kelompok, baik kelompok keagamaan, sosial, atau politik tentang suatu transformasi besar dalam masyarakat yang akan mengubah ke arah yang positif dan juga bisa negatif. Artinya, pandangan tentang milenialisme tergantung perspektif mana yang akan digunakan. Banyak orang mengatakan saat ini memasuki era milenial karena akselerasi kemajuan global yang sangat cepat dalam segala bidang sehingga mampu meretas pembatas antar dunia. Misalkan, kemajuan teknologi informatika sebagai salah satu bentuk kemajuan globalisasi, menjadi potret nyata yang spektakuler bagi manusia dan mampu mempersingkat dinamika waktu dan ruang bagi manusia dalam membangun komunikasi, baik personalitas maupun komunitas. Entitas hegemoni budaya dan gaya hidup manusia seakan-akan mengalami sebuah transformasi yang begitu cepat, baik secara fisik maupun nonfisik.
Selain itu, generasi milenial seringkali menyebut dirinya sebagai generasi baru yang mampu meninggalkan budaya lama yang sudah tidak uptodate lagi. Generasi milenial mulai menggeserkan nilai-nilai idealisme tradisi ke idealisme industri. Kenyataan ini, memang harus diterima dan disadari sebagai sebuah perubahan. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa dibalik nilai positifnya, milenialisme juga menumbuhkan dampak negatif yang tidak sedikit. Kecanggihan teknologi tidak senantiasa menyadarkan manusia untuk memahami makna sebuah proses. Seringkali yang muncul justru pragmatisme. Segala kemudahan yang dilahirkan dari sebuah hasil teknologi dapat melahirkan budaya instan yang ingin serba mudah, serba cepat, dan menggampangkan, sehingga sering melupakan substansi arti sebuah proses. Bahayanya adalah tanpa disadari, maka secara sistematis akan melahirkan generasi bangsa yang kurang ulet dan konsumtif.

Oleh karena itu, perlu kesadaran bersama mulai dari orang tua, pendidik, sampai dengan pemerintah membuka ruang dan kesempatan yang baik dalam pembentukan karakter generasi bangsa, khususnya dalam menghadapi tantangan dan hambatan dari milenialisme itu sendiri. Komitmen dan konsistensi yang kuat dan berkesinambungan harus terus menjadi fokus dalam membangun mentalitas generasi yang berkarakteristik pancasilais. Kita tidak ingin lagi mendengar terulangnya peristiwa tragis pembunuhan anak bangsa hanya gara-gara sepak bola seperti yang dialami Haringga Sirilla. Kita pun tidak ingin lagi mendengar terulangnya peristiwa penciptaan berita hoax seperti yang dilakukan Ratna Sarumpaet, dan kita pun tidak ingin mendengar adanya perkelahian antarpelajar yang sampai merenggut nyawa sering marak terjadi di beberapa tempat di negeri ini. Semua itu membuktikan bahwa generasi muda bangsa ini mulai mengalami degradasi moral dan mental.

Generasi muda harus menjadi generasi harapan yang memiliki kompetensi yang kuat dan handal. Generasi yang memiliki idealisme dan komitmen yang berintegritas dan responsibilitas dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Generasi muda harus menjadi generasi yang kreatif dan inovatif. Tidak mudah menyerah apabila diberikan tugas dan tanggung jawab. Bukan menjadi generasi yang emosional dan baper, berjiwa kerdil, pragmatisme, dan konsumtif. Oleh karena itu, program pendidikan sebagai media pembentukan karakter generasi muda bangsa ini harus mampu dibuktikan penuh manfaat, yakni dari sebuah program idealis (das sollen) menjadi sesuatu yang nyata atau konkrit (das sein). Pendidikan bukan hanya mampu meningkatkan kompetensi sumber daya manusia Indonesia dalam tataran kognitif semata, tetapi harus mampu menjadi media pembentukan generasi bangsa yang berbudaya dan berakhlaq mulia.

Milenialisme bisa menjadi tantangan dan juga hambatan. Milinialisme menjadi tantangan apabila generasi bangsa tersebut tangguh dan handal dengan dilapisi karakter pribadi yang berakhlaq mulia. Akan tetapi, milenialisme bisa menjadi hambatan apabila seluruh pemangku kepentingan mengabaikan materi pendidikan generasi bangsa agar tetap dalam koridor yang kuat sesuai nilai, etika dan moral kepribadian bangsa yang pancasilais. Generasi muda yang dilahirkan dari hasil pendidikan yang keliru akan menjadi generasi yang egois, individual, kurang peka lingkungan sosial, dan ahistoris.

Akhirnya, semua gambaran yang disampaikan penulis dimuka bermaksud untuk menggugah semua anak bangsa bahwa sangatlah tepat jika bangsa ini melakukan re-evaluasi dan rekonsiliasi dalam memaknai Sumpah Pemuda 1928. Generasi muda harus diberikan ruang yang sama dalam mengaktualisasikan kemampuan dirinya sesuai semangat Sumpah Pemuda 1928. Dominasi kaum tua yang senantiasa menganggap dirinya superior harus mulai tersubstitusi menjadi sebuah tindakan positif yang mampu memberikan nilai tambah bagi generasi muda. Apabila memang diperlukan, maka generasi muda harus mulai diprioritaskan dalam peran-peran strategis bangsa ini. Penulis perlu menyampaikan ini karena secara real, meskipun saat ini sudah disebutkan sebagai era berkemajuan dan terbuka, tetapi fakta sosiologis ternyata di negeri ini masih memperlihatkan realitas kuatnya dominasi kelompok tua tersebut. Oleh karena itu, jika tidak ingin milenalisme bukan hanya sebatas jargon, maka milenialisme harus dijadikan ruang untuk perubahan peradaban yang berkemajuan bagi generasi muda di negeri sesuai nilai-nilai kepribadian bangsa. Generasi muda seperti inilah yang disebut generasi milenialisme yang tangguh dan handal. Wallahua’lambissawab.(***).

Comment

BERITA TERBARU