by

Refleksi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah

-Opini-110 views

Oleh: Yulham Fridanto, S.Pd
Guru SMA Negeri 1 Pemali, Kabupaten Bangka

Bahasa Inggris merupakan sarana komunikasi global. Penguasaan Bahasa Inggris diharapkan membantu peserta didik memahami dan memperkokoh budaya lokal, budaya nasional, serta mengenal dan memahami budaya internasional. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Inggris seharusnya dilaksanakan dengan memperhatikan aspek-aspek ketiga budaya tersebut. Di samping itu, memberikan pengertian yang mendalam kepada para peserta didik akan pentingnya mempelajari Bahasa Inggris. Para guru juga diharapkan mampu mencari cara-cara yang efektif maupun akurat dalam memberikan materi pelajaran, sehingga para peserta didik menjadi tertarik mengikutinya, karena disesuaikan juga dengan lingkungan maupun masa yang ada.

Hampir sebagian guru setiap kali datang dan masuk ke kelas langsung mengajar. Sebaiknya sangatlah penting jika guru memberitahu apa kegunaan dari belajar Bahasa Inggris. Ini adalah cara guru dalam memberikan motivasi maupun semangat kepada para peserta didik. Menurut penulis, kekurangan dalam kurikulum 2013 adalah terlalu dipadatkan, semua mau dicapai meski sedikit-sedikit, misalnya pada pelajaran Bahasa Inggris dalam suatu teks sudah mencakup pada keempat unsur kecakapan dalam mempelajari bahasa, meliputi kecakapan writing, speaking, listening, dan reading.

Kurikulum yang sarat beban ini, mengakibatkan peserta didik merasa terlalu berat, sehingga tidak bisa berkonsentrasi pada suatu pelajaran tertentu. Dalam memberikan pelajaran bahasa Inggris di sekolah, guru tidak akan mencapai apa-apa apabila tidak tersedianya cukup banyak buku berbahasa Inggris atau literatur lain yang relevan berkaitan dengan topik-topik aktual. Kemampuan guru Bahasa Inggris saat ini boleh dikatakan juga sangat bergantung pada petunjuk yang sudah ada di buku paket, sehingga tidak mampu berimprovisasi dan kreatif dengan materi pengajaran yang ada.

Oleh karena itu, apabila kita tidak segera memperbaiki cara pengajaran Bahasa Inggris di sekolah, tentu peserta didik akan menjadi bosan dan proses pembelajaran menjadi tidak menyenangkan. Dan pastinya kita akan semakin tertinggal dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura maupun Thailand yang penguasaan bahasa Inggris dikalangan perguruan tingginya sudah mulai membaik.

Lebih lanjut problema yang terjadi ialah pada buku-buku pelajaran bahasa Inggris di toko-toko buku yang disusun berdasarkan materi kurikulum 2013. Buku-buku berbahasa Inggris sekarang sebagian tidak relevan, karena menggunakan pendekatan komunikatif, akan tetapi kenyataan masih sebagian menekankan pada strukturalisme. Perubahan dari pendekatan strukturalis ke komunikatif itupun tidak sepenuhnya tepat. Pendekatan komunikatif cocok untuk lingkungan yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama atau kedua. Pendekatan strukturalis juga apabila dilakukan dengan pengulangan dan pelatihan (drill) dengan menunjuk langsung benda-bendanya, sebenarnya bersifat komunikatif pula. Pendekatan komunikatif tidak sepenuhnya cocok untuk masyarakat Indonesia, selain bahasa Inggris bukan bahasa pertama dan kedua bagi sebagian besar penduduk Indonesia, sumber daya manusianya juga masih kurang.

Kegagalan pengajaran bahasa Inggris di sekolah diakibatkan pula oleh kurangnya waktu untuk latihan dan tidak adanya proses pengulangan. Seperti yang kita diketahui pelajaran Bahasa Inggris di Kurikulum 2013 hanya dua kali pertemuan di tiap kelas setiap harinya. Setiap belajar bahasa, mau tidak mau harus dilakukan pengulangan maupun pelatihan (Language Reinforcement). Belajar bahasa tanpa sering dilakukan pengulangan sudah pasti dan tidak mungkin dikuasai. Bagaimanapun bahasa sangat membutuhkan strategi memori tidak sekedar strategi kognisi.

Di masa yang lalu para guru bahasa Inggris masih sering melatih/mendrill terus menerus materi pelajaran seperti ini : “this is abook,this is a ruler,this a pencil”, sekarang sunyi sepi. Padahal cara inilah yang sangat efektif dalam pengajaran Bahasa Inggris apalagi dengan situasi keadaan lingkungan yang ada di daerah-daerah yang sebagian peserta didik belum terlalu tertarik mempelajari Bahasa Inggris. Persoalan lain yang mempengaruhi ketidakberhasilan pelajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah adalah karena lingkungan bahasanya yang tidak kondusif. Begitu anak keluar dari kelas pelajaran Bahasa Inggrisnya, para peserta didik sudah dihadapkan pada situasi sehari-hari yang tidak lagi menggunakan Bahasa Inggris. Oleh karena itu, masih ada sebagian orang terlalu mengagungkan pendekatan komunikatif dalam pengajaran Bahasa Inggris pada situasi sekarang ini, tanpa diadakannya pengulangan yang terus menerus dan juga memperbanyak latihan.

Pada akhirnya, mari kita refleksi pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah. Pembelajaran Bahasa Inggris memerlukan kreativitas guru dalam proses pembelajaran agar peserta didik lebih tertarik mengikuti pembelajaran dan tentunya dapat memahami materi pelajaran karena dianggap tidak membosankan justru menyenangkan. Selain itu, diperlukan pendekatan komunikatif dan strukturalis yang seimbang dalam memberikan materi sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. (***).

Comment

BERITA TERBARU