Refleksi HPSN 2019, Mewujudkan Lingkungan Bebas Sampah

  • Whatsapp

Oleh: Ilham Isnandi
Masyarakat Sipil

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2019 telah berlalu. Seperti tahun sebelumnya, HPSN tahun ini dilalui dengan cara aksi nyata dengan seksama. Berbagai kegiatan seperti seminar, talkshow dan workshop tentang arti penting dalam meningkatkan kepedulian terhadap sampah hingga kegiatan dengan aksi nyata lainnya meskipun hanya bersifat temporer seperti bekerja bakti, bergotong-royong memungut sampah di sungai, membersihkan sampah dari area pemukiman juga telah banyak dilakukakan. Sebagai refleksi Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun ini hendaknya kita bisa menumbuhkan kesadaran tentang arti penting lingkungan yang sehat bagi kehidupan.
Pada bulan Januari yang lalu, pemerintah juga telah menganugerahkan Adipura kepada 146 daerah sebagai salah satu wujud untuk mencapai target kebijakan dan strategi nasional untuk mengurangi 30% dan menangani 70% sampah sampai ditahun 2025. Hal itu juga tertuang dalam peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2017 tentang kebijakan dan strategi nasional pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga dengan target pengurangan sampah tahun ini (2019) yakni sebesar 20 %. Meski pada kenyataannya hingga saat ini pengelolaan sampah masihlah belum optimal.

Masalah sampah, terutama sampah plastik pastinya dengan lambat laun akan menjadi bom waktu yang siap meledak, jika permasalahan serius ini tidak dibenahi secara komprehensif dan agresif. Sebagai produsen sampah kadang kita lupa, belum atau bahkan tidak menyadari bahwa diri kita sendiri sebetulnya telah membuat masalah sampah menjadi tak terarah dan sulit untuk dibenah.
Dari banyaknya jenis sampah, jumlah sampah yang saat ini paling mengkhawatirkan adalah sampah plastik. Masalah sampah plastik telah menjadi salah satu permasalahan yang dialami oleh berbagai penjuru oleh karena sifatnya yang sulit diurai, namun keberadaannya semakin meningkat saja dari waktu ke waktu.
Negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika Utara pun cenderung memiliki total tumpukan sampah tinggi. Namun, negara-negara dikawasan tersebut memiliki risiko rendah dalam hal pencemaran, hal itu dimungkin adanya pengelolaan sampah yang jauh lebih baik dan tingkat kesadaran masyarakatnya yang jauh lebih bijak terhadap sampah. Dan negara-negara yang memiliki masalah dalam pengelolaan sampah-sampahnya berada di kawasan Asia Timur dan tenggara, terutama Tiongkok. Indonesia pun menduduki urutan kedua, di bawah Tiongkok yang masih bermasalah dengan pengelolaan sampahnya.
Dengan berbagai kondisi di daerah-daerah dan latar belakang yang berbeda-beda masing-masing daerah memiliki jumlah sampah dan pengelolaan yang berbeda pula. Namun, bisa jadi, daerah yang memiliki banyak sampah lebih minim risiko terkena dampak polusi plastik, karena memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, dan begitu juga sebaliknya. Lebih lagi dengan pengelola sampah non organik lainnya terutama sampah plastik yang belum banyak dikelola sebagai bahan yang bernilai ekonomi atau “disulap” menjadi salah satu sumber energi.
Berdasarkan data dari ScienceMag, jumlah produksi sampah plastik pada 2015 sudah mencapai 381 juta ton per tahun. Dan berdasarkan data our world in data Tahun 2015, Produksi sampah plastik sepanjang 2015 di bidang industrial, dapat diklasifikasi menjadi beberapa jenis. Paling banyak produksi yakni berasal dari sektor kemasan produk yakni sebanyak 146 juta ton per tahun. Dan disusul dengan sampah di bidang bangunan dan konstruksi sebanyak 65 juta ton. Jenis sampah lainnya adalah tekstil, produk konsumsi dan institusional, transportasi, elektronik, dan mesin industri.
Bahkan Ocean Concervancy’s Trash Free Seas Alliance memperkirakan terdapat 8 juta metrik ton sampah memenuhi lautan dunia. Puntung rokok menjadi sampah yang paling banyak ditemukan di sana. Posisi selanjutnya ditempati oleh plastik bungkus makanan, topi dan tutup, barang pecah belah, botol plastik, dan plastik kemasan. Padahal plastik butuh waktu yang sangat-sangat lama untuk bisa terurai secara alami. Oleh karena itu kita diharapkan untuk dapat bijak dalam penggunaan plastik, apalagi plastik yang bersifat satu kali pakai.agar terhindar dari pencemaran plastik terhadap kebersihan lingkungan.
Proses penguraian plastik menjadi tanah sangatlah panjang. Waktu paling lama dalam proses dekompisisi ialah sampah dari botol kaca, seperti botol sirup, saus, selai baru dapat hancur setelah 1 juta tahun. Disusul dengan sampah Botol minuman plastik dan Diapers yang banyak digunakan untuk bayi dan lansia selama 450 tahun. Jenis sampah lain dengan waktu terurai seperti gelas atau piring berbahan styrofoam yang biasa digunakan sebagai wadah makanan dan minuman serta sampah kantong plastik masing masing membutuhkan jangka waktu 50 tahun dan 10-20 tahun. waktu tersebutpun akan berbeda jika sampah tersebut berada diantara tumpukan sampah yang lain dikarenakan adanya perbedaan tekanan, oksigen, perbedaan cahaya dan sebagainya.
Dalam upaya untuk mengontrol penggunaan plastik, pada 2016 pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar untuk setiap kantong yang diserahkan kepada konsumen di kota-kota besar di seluruh Indonesia sebagai uji coba. Namun kebijakan itu hanya dilakukan di pusat-pusat perbelanjaan saja dan hal itu menjadi tidak konsisten. Serta belum adanya sosialisasi serta aturan hukum yang jelas dan tegas membuat kebijakan ini dianggap masih belum efektif dan pada akhir Tahun 2016 kebijakan tersebut kemudian dicabut untuk dievaluasi.
Kebijakan yang dibebankannya biaya kantong plastik dalam berbelanja memang dapat memaksa masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik secara berlebihan. Namun hal tersebut belum tentu bisa mengedukasikan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa plastik dapat berdampak sangat buruk bagi lingkungan.

Sampah plastik yang telah menjadi sampah kehidupan bahkan telah sampah visual yang berdampak pada lingkungan menjadi tidak bersih, penyebab banjir dan menjadi sumber berbagai penyakit sebetulnya bukanlah hanya menjadi tanggung jawab satu individu atau pemerintah saja, melainkan menjadi tanggung jawab kita semua.  Jika hal ini tidak ada pengelolaan yang lebih baik bukan tidak mungkin dalam rentang waktu kedepan akan lebih banyak sampah-sampah plastik dibandingkan dengan manusia jika perilaku konsumen masihlah tidak bijak dalam penggunaannya. Jika kita ingin lingkungan tempat tinggal sekitar menjadi lebih “hijau”, hendaknya kita mulai dari hal kecil dari dalam pribadi kita masing-masing dengan menjadi pribadi yang bersih terlebih dahulu. Belajar mencintai lingkungan sekitar dan hindari aktivitas-aktivitas yang bisa merusak lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan dan mengurangi penggunaan produk dengan bahan plastik.

Kebersihan lingkungan yang lebih “hijau” akan pula bisa terwujud bila adanya sinergi, kolaborasi dengan konsep kemitraan yang baik antara pemerintah, masyarakat dan semua stakeholders lainnya. Melalui peringatan HPSN tahun ini yang bertema “Kelola Sampah Untuk Hidup Bersih, Sehat dan Bernilai” mari kita refleksikan peringatan tersebut paling tidak untuk dapat menumbuhkan kesadaran akan dampak plastik dan perjalanan proses dekomposisi serta dampaknya bagi lingkungan, kesehatan dan kehidupan.

Lebih dari itu, HPSN kali ini dapat meningkatkan kesadaran mendidik dan mengedukasi untuk hidup yang lebih bernilai terhadap lingkungan. Kebiasaan untuk hidup yang sehat dan bersih dari hal-hal yang kecil melalui cara memperlakukan sampah plastik mulai dari pribadi dan lingkungan sekitar diharapkan dapat berdampak bagi lingkungan, paling tidak bagi lingkungan kecil sekitar kita. Memang untuk meninggalkan plastik sama sekali sepertinya tidak mungkin. Yang bisa kita lakukan adalah berhemat plastik. Berusaha mengurangi pemakaian plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan Bawa Kantong Belanjaan Sendiri, menolak tawaran kantong plastik saat barang belanjaan masih bisa dikantongi atau pun disatukan dengan kantong belanjaan yang ada. Jika memiliki waktu dan kreatifitas yang tinggi, manfaatkan sampah-sampah plastik menjadi berbagai barang-barang kerajinan merupakan prilaku bijak dalam mengurangi sampah plastik.

Menjual sampah plastik, memilih kemasan plastik yang lebih besar untuk produk yang sejenis. Dan menggunakan kemasan dengan isi yang lebih banyak serta mengurangi produk kemasan sachet berarti mengurangi jumlah kemasan yang kemudian menjadi sampah. Dan Jika harus membeli barang yang berbahan plastik, pilihlah yang kuat dan awet. Karena semakin lama usia barang plastik yang kita pakai, semakin sedikit sampah yang dihasilkan. Mungkin itu beberapa cara praktik praktis dalam menghemat plastik untuk mengurangi sampah plastik. Bisa saja masih ada tips dan trik lain yang bisa dan biasa kita coba lakukan. Karena kita tidak mungkin bisa menghindari plastik, namun setidaknya kita bisa menguranginya. (***).

Related posts