Refleksi Akhir Tahun, Menuju Kesejahteraan Masyarakat

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Tahir
Mahasiswa Sosiologi FISIP UBB/ Kader HMI Cabang Babel

Muhammad Tahir

Tak terasa hari terus berganti, begitupun bulan terus berganti dari Januari menuju Desember di tahun 2016. Mahasiswa, masyarakat dan pemerintahan membicarakan apa yang telah dilakukan selama 12 bulan di tahun 2016? Terlintas di kepala kita semua adalah kegagalan dan keberhasilan. Semua pasti sepakat apa yang dipikirkan, tapi mungkin muncul kembali pertanyaan dalam pikiran kita kegagalan dan keberhasilan seperti apakah yang telah terjadi selama 12 bulan berlangsung di tahun 2016. Dari segi pembangunankah? Pariwisatakah? Perekonomiankah? Kemudian, apakah telah sampai pada kesejahteran masyarakat?
Disini, saatnya kita bicarakan dengan akal sehat dan logika logis yang telah terjadi di lapangan secara kongkrit tanpa ada wacana-wacana ke belakang. Berbicara mengenai kegiatan yang terjadi di tahun 2016, dari segi pembangunan infrastruktur dapat dikatakan mengalami kegagalan dan ketidaksingkronan dalam penanganan dan perencanaannya, karena apa? Yang kita ketahui dalam pembangunan jalan dan jembatan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat dan pemerintah, melihat dari kasus pembangunan Jembatan Emas yang telah ditargetkan di bulan April 2016 sudah dapat dipergunakan, namun apa yang terjadi, keterlambatan dan bahkan seharusnya ketika Presiden datang dan mengesahkan jembatan tersebut, sudah dapat dilewati dan dipergunakan selayaknya jembatan pada umumnya. Akan tetapi, kenyataannya sampai pada awal tahun 2017 ini pun belum terealisasi penyelesaiannya apalagi peresmiannya. Selain itu, pembangunan jalan yang terjadi di Kabupaten Bangka, yaitu Jalan Raya Sungailiat target yang telah dijanjikan oleh Dinas Pekerja Umun (PU) tidak maksimal, jalan yang diinginkan tidak sesuai, karena kualitas pembuatannya tidak mumpuni, baru beberapa hari penyelesaian jalan tersebut telah terjadi kerusakan baik itu jalan bergelombang dan dipinggiran aspal retak, apa karena kurang tebalnya aspal atau ada apa?
Lalu, menuju pada Kota Pangkalpinang yang terjadi penggalian besar-besaran di beberapa titik, yakni penggalian pipa saluran air. Kenapa penggalian pipa dilakukan setelah terjadi pengaspalan ulang yang dilakukan dibeberapa tempat dikawasan pangkalpinang itu? Bahkan akhirnya di timbun dan diaspal kembali. Hal ini menjadi persoalan dan pemborosan keungan daerah, parahnya lagi terjadi insiden yang tidak diinginkan oleh masyarakat, karena bekas galian yang belum tertimbun itu membuat beberapa warga setempat luka-luka bahkan patah tangan, seperti yang dialami warga kacang pedang salah satu anak muda yang masuk kedalam galian, karena ketidaktahuannya ada galian jalan didepannya ketika mengendarai sepeda motor. Dari pemaparan insiden tersebut, dapat dikatakan kegagalan dan ketidaksingkronan dari segi pembangunan infrastruktur, dan letak keberhasilan pembangunannya terlihat juga pada Jembatan Emas, letaknya strategis dan menghasilkan tempat pariwisata baru bagi warga Bangka Belitung (Babel), sehingga masyarakat berbondong-bondong mengunjunginya tiada henti sampai saat ini.
Beralih pada sektor pariwisata, perkembangan objek wisata Babel terkhusus Pulau Bangka sangat berkembang dengan cepat dari segi objek wisata pantai yang terletak di Kabupaten Bangka yakni Pantai Tongachi, yang dulunya hanya menjadi pantai penangkaran penyu sekarang menjadi objek wisata yang tengah naik reting dibanding pantai-pantai lainnya. Pantai ini, dihias sedemikian rupa, sehingga menarik perhatian masyarakat untuk berkunjung kesana, dikarena banyak background yang menarik, sehingga tempat yang dinamakan lokomotif itu dipakai untuk berfoto bersama keluarga, pacar, dan teman-teman serta asik digunankan untuk berselfie. Ini menjadi titik keberhasiannya, namun dimana letak keggaalannya? Mari kita rasakan dan kita lihat dari hasil pendapatan mayoritas masyarakat Bangka dan keresahan masyarakat ketika berkunjung tempat objek wisata yang menggunakan karcis masuk atau uang parkir. Disitulah letak kegagalannya, seharusnya untuk menjadikan tempat wisata itu agar selalu dikunjungi oleh banyak masyarakat tanpa berfikir beberapa kali, seperti yang terjadi di Kabupaten Bangka, tepatnya disekitaran Pantai Matras, dalam pembayaran parkir sangat banyak, dan dapat dikatakan doeble, karena berdasarkan pengalaman Penulis dengan teman-teman Penulis, sebelum masuk pintu gerbang matras itu sudah membayar uang parkir sekian, dan ketika masuk ke pantai Tanjung Kelayang itu kembali dikenai pembayaran uang karcis. Apakah ini tidak memberatkan pengunjung yang berkunjung kesana? Menjadi harapan kita bersama bahwa objek pariwisata itu seharusnya tidak menggunakan uang parker. Seharusnya, untuk membangun pariwisata itu yang mendukung penuh pemerintahan kabupaten sendiri yang harus mampu mandiri dalam mengelola sarana dan prasarana yang diperlukan oleh objek wisata tersebut.
Dan yang terakhir, beralih pada sektor perekonomian di Babel, melihat keadaan perekonomian di Babel sangat memperhatinkan bagi Penulis, karena berdasarkan informasi yang didapatkan beberapa bulan kebelakang, perekonomian merosot hingga mencapai 4 % dari hasil maksimal perekonomian di Babel, sehingga timbul dibenak kita semua kenapa itu terjadi, padahal penghasil timah terbesar di Indonesia yaitu pulau Bangka, yang mana pendapatan dari timah itu, menurut Penulis mumpuni untuk menompang perekonomian di Babel. Tetapi, kenapa itu terjadi? Oke, sah-sah saja perekonomian di Babel merosot, kemungkinan besar berkurangnya pendapatan timah.
Mungkin kita pernah mendengar timah di Babel telah memasuki pasca timah. Maka itu wajar terjadi, tetapi apakah Babel hanya mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA) yang tidak dapat diperbaharui tanpa menganggap SDA yang dapat diperbaharui seperti karet, sayur-sayuran, Lada, coklat, kelapa sawit dan masih banyak lainnya, yang mampu menopang perekonomian di Babel jika ditangani dengan serius dan berkelanjutan. Selain itu, Harga-harga SDA tidak stabil seperti karet dan lada yang menjadi pendapatan pokok masyarakat Babel. Ironisnya lagi, pemasaran harga barang terlalu mengikuti harga pasar dunia seperti lada dan karet. Disini letak kegagalan perekonomian Babel yang belum mampu menangani hal tersebut. Namun, letak keberhasilannya terlihat di tahun 2017 ini, di bulan Januari harga karet naik, sehingga membuat petani karet dulunya menjerit tanpa bersuara sekarang berteriak dan bersemangat sekuat-kuatnya.
Persoalan-persoalan yang telah dijelaskan di atas tidak begitu luas, melainkan hanya saja mengulas sedikit permasalan yang terjadi 12 bulan ke belakang telihat sangat jelas dan signifikan. Maka harapan kita semua setelah mengulas kejadian yang menurut masyarakat dan pemerintah tidak sesuai dengan keinginan yang terjadi di lapangan di tahun sebelumnya, maka tahun selanjutnya yaitu 2017 ini, mari kita satukan tekat dan langkah kita untuk menjadikan Babel menuju kesejahteraan masyarakatnya, serta tidak lupa kepada pemimpin baru yang nantinya terpilih menjadi pemimpin daerah di Babel dapat menyelesaikan segala hal yang belum diselesaikan oleh pemimpin kita yang lama, dengan program baru, pemerintahan baru, langkah baru, dan semangat baru tanpa melupakan pemerintahan yang lama. Selain itu, menjadikan Babel pulau pariwisata yang didalamnya terdapat pantai, bukit, perkebunan dan perternakan yang berbasis pariwisata, sehingga menambah nilai jual Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di mata nasional dan internasional. (****).

Related posts