Refleksi Akhir Tahun 2018, Malapetaka Negeri Mayoritas Muslim

  • Whatsapp

Oleh: Mirendy Wahyu Ferary
Sekjen Gema Pembebasan Bangka Belitung

Bangsa Indonesia telah melalui beragam duka dan proses ratapan yang sangat panjang, khususnya dalam setahun terakhir ini. Belum reda ratapan atas gempa di Lombok, datang menyusul gempa di Palu, tak lama kemudian datang lagi tsunami di Banten dan Lampung yang menelan ratusan korban meninggal dan terluka. Terakhir di Longsor di Sukabumi Jawa Barat yang juga menelan korban meninggal dunia.

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, sebagaimana lagu yang dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade, salah satu musisi terkenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih. Benar-benar menyayat hati kita ketika musibah dan bencana yang datang bertubi-tubi melanda negeri yang dikarunia kekayaan alam melimpah ruah. Kepedulian berbagai elemen masyarakat untuk membantu meredakan duka korban terus dilakukan mulai dari menggelar kegiatan aksi solidaritas dan doa bersama hingga menggalang dana di berbagai titik.

Hal ini tentu merupakan hukuman atau adzab yang ditimpakan kepada negeri yang memiliki mayoritas umat muslim, namun mengingkari nikmat yang dikaruniakan Tuhan kepada kita, dan kedzaliman terjadi secara terang-terangan oleh penguasa. Salah satu bentuk pengingkaran kita kepada nikmat Tuhan diantaranya dengan membiarkan kekayaan alam kita dikeruk habis oleh orang asing, kemudian ditambah dengan kedzaliman atas rakyat kecil yang harus menjerit kelaparan akibat kesenjangan ekonomi. Belum lagi mereka dipalak dengan pajak untuk menambah pendapatan negara bak sapi perah yang tega memungut hasil dari jerih payah rakyatnya sendiri.

Tidak hanya itu, kemaksiatan merajalela dimana-mana tak terkontrol lagi. Perzinahan, minuman keras, aktivitas riba hingga kaum LGBT bak kacang goreng yang dijual murah di pinggir-pinggir jalan, sehingga menambah keyakinan kita bahwa Tuhan memang benar-benar murka terhadap Bangsa Indonesia. Perbuatan keji semacam itu sangat mencemaskan kita semuanya, terutama umat Islam yang tidak mencegah dan memperingati orang-orang yang berbuat kerusakan tersebut. Secara moralitas, kita telah gagal menjadi contoh bagi negeri muslim lainnya yang tidak memiliki umat Islam dalam kuantitas yang begitu besar.

Mengapa hal demikian dapat dibiarkan dan semakin menyebarluas di kalangan umat Islam? Padahal agama Islam mengajarkan kita tentang bagaimana menjaga diri dari perbuatan keji dan zalim semacam itu. Islam benar-benar menekankan umatnya untuk senantiasa menasehati dalam kebenaran dan kesabaran agar tidak turun bencana akibat perbuatan mereka sendiri. Bahkan menurut Syeikh Abdul Aziz bin Baz, salah satu ulama kontemporer yang ahli dalam bidang sains, memandang aktivitas menyerukan kebaikan dan mencegah keburukan menjadi wajib bagi seorang muslim dengan sebab perubahan kondisi dan keadaan.

Lalu, apakah umat Islam tidak menjalankan agamanya dengan baik dan benar? Jawaban yang logis dari pertanyaan tersebut adalah dengan melihat persoalan fakta yang ada. Beberapa ulama yang lurus berusaha menasehati penguasa dan mencegah kemungkaran, namun harus berhadapan dengan polisi akhir-akhir ini. Mereka terus diintervensi dan ditahan bahkan dijadikan tersangka oleh kepolisian dengan tuduhan ujaran kebencian. Padahal mereka hanya menyampaikan kebenaran agar tidak terjadi kerusakan di bumi pertiwi ini. Tidak ada keadilan bagi mereka yang menjadi korban politik rezim represif hari ini.

Lucu bercampur dengan kesedihan melihat kondisi negeri yang carut marut hari ini. Wajarlah jika Tuhan ingin memberi peringatan kepada kita yang setiap hari meneriakkan “NKRI dan Pancasila harga mati!” Namun tidak pernah mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang terdapat dalam Pancasila dan mengkhianati jasa para ulama terdahulu dalam mengusir penjajah. Arogansi yang berlebihan tidak akan memberikan kemaslahatan umum hanya untuk memuaskan syahwat kekuasaan semata, melainkan kemudharatan besar dan bencana yang tiada henti-hentinya. Tidak hanya kepada orang-orang zalim, tetapi juga kepada orang-orang baik disekitarnya.

Apa yang telah terjadi kepada negeri kita di tahun ini, telah sepatutnya untuk berbenah dengan menjauhkan perkara-perkara yang mengundang bencana selama ini. Hal yang terpenting ketika melihat saudara sebangsa kita dilanda bencana alam, seharusnya menjadi pelajaran untuk kita betapa besar kekuasaan Tuhan yang menciptakan alam semesta. Jadi, menjalankan segala aspek kehidupan kita hendaklah berdasarkan aturan-Nya demi kemaslahatan umat manusia agar menjadi negeri yang diberkahi dan mrenghindari malapetaka yang terus menerpa Negeri mayoritas muslim ini.(***).

Related posts