Redi Wijaya: Adik-adik Saya yang Jadi Korban

  • Whatsapp
Gorna dan Rexi saat menjalani perawatan akibat tebasan senjata tajam di RSBT Pangkalpinang, dan sudah diserahkan keluarga ke pihak berwajib. (Foto: ist)

Dugaan Pengeroyokan di SPBU Kurau

Pangkalpinang – Kasus pengeroyokan yang dilakukan satu keluarga di sekitaran SPBU Desa Kurau Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (16/3/2019) pagi lalu mulai ada titik terang.
Viralnya foto dan CCTV perkelahian berdarah antara Hendi Cs melawan keluarga Reky (38), Risky (27), Rexi (25), Gorna di media sosial sangat disayangkan oleh pihak keluarga Rexi. Pasalnya, sampai saat ini masyarakat masih beranggapan pemicu perkelahian berdarah ditujukan kepada keluarga Rexi.
“Viralnya video perkelahian berdarah Kurau sangat merugikan keluarga kami. Kalau boleh jujur, sebetulnya adik-adik saya lah yang jadi korban, mereka melakukan itu semua karena membela diri,” kata Redi Wijaya dalam menyampaikan klarifikasi saat menyambangi Rakyat Pos, Senin (18/3/2019) malam .
Dari keterangan adik-adiknya, serta saksi mata di tempat kejadian perkara, Redi menjelaskan pemicu perkelahian justru diprovokasi oleh Hendy Cs.
Ini berawal menurutnya saat Sudik meminta jatah uang kepada petugas Nozel SPBU sebesar Rp50.000 atas jasa keaamanan yang sempat ditegur oleh Reky, dan permasalahan itupun bisa diselesaikan saat itu juga.
Namun tanpa diduga tiba-tiba datanglah Hendy menggunakan sepeda motor masuk ke area SPBU sambil berteriak ‘Lanjutkan”. Hendy juga mengambil balok kayu dan melayangkan ke arah tubuh Rexi.
Perkelahian pun tak bisa dielakan lagi. Sudik yang memegang senjata tajam (sajam) pada saat perkelahian, berhasil direbut Reky berlari membantu adiknya Risky yang tengah berupaya menepis serangan dari Septian dan Abot (teman Hendy) yang menggunakan senjata tajam. Sedangkan Rexi masih berjibaku dengan Hendy.
Reky yang tengah memegang parang sempat meminta Abot dan Septian untuk melepaskan Risky. Karena tak diindahkan khawatir dengan keselamatan nyawa adiknya Risky, Reky pun menebas keduanya. Hingga terlepaslah sajam yang dipegang Septian dan Abot.
Disaat Septian dan Abot tak berdaya itulah, Risky dan Gorna berupaya menyerang balik, namun berhasil dicegah oleh Reky.
“Saya tegaskan kembali, saat perkelahian terjadi adik-adik saya tidak ada yang membawa senjata. Justru disini keluarga kami nyaris jadi korban. Inilah kronologis sebenarnya, dan itu dikuatkan dengan keterangan para saksi dilapangan,” terang Redi Wijaya.


Sambung Redi, akibat dari perkelahian itu adiknya Rexy mengalami tebasan senjata tajam pada tangan kiri, dan bagian kaki kiri yang harus mendapat perawatan medis dengan luka 40 jahitan. Sedangkan Gorna pun menjadi korban dengan luka pada bagian kaki kiri 30 jahitan.
Disinggung keberadaan Reky dan Risky kini? Redi menerangkan saat ini pihak keluarga lain pun belum mengetahui keberadaan dua adiknya itu.
“Rexi dan Gorna sudah diserahkan keluarga ke pihak berwajib. Sedangkan Reky dan Risky butuh waktu untuk menyerahkan diri,” terang Redi seraya menjelaskan komunikasi yang dillakukan hanya melalui HP.
Redi Wijaya menjamin, saat ini ada kekhawatiran dari kedua adiknya (Reky-Risky) terkait keselamatan jiwa. Apalagi ada kabar diduga upaya balas dendam dari pihak Hendy Cs. Ditambah lagi dengan teror yang dirasakan secara tidak langsung dampak dari medsos yang terkesan menyudutkan keluarganya.
Kembali disampaikan Redi, peristiwa ini sangat memukul keluarga besarnya. Beragam persepsi di medsos, sangat berpengaruh pada ketenangan keluarga, terutama yang terjadi pada Reky dan Risky.
“Insya Allah dalam beberapa hari kedepan, kalau sudah ada jaminan, situasinya tenang, kedua adik (Reky-Risky) saya akan menyerahkan diri, dan akan diantar keluarga ke pihak berwajib,” paparnya.
Dipenghujung wawancara dengan wartawan, Redi Wijaya berharap ada keadilan yang ditegakan atas peristiwa yang melibatkan adik-adiknya itu. Meskipun dua dari empat adiknya dalam tahanan pihak berwajib, diyakininya pihak kepolisian akan bertindak profesional dalam menangani kasus ini. (rev/1)

Related posts