by

Ratusan Mahasiswa Duduki DPRD Babel

MAHASISWI ORASI – Seorang mahasiswi berhijab tampak berorasi di hadapan ratusan mahasiswa dan pimpinan DPRD Bangka Belitung, kemarin sore. Ia membakar semangat mahasiswa untuk menolak pengesahan revisi UU MD3 yang dinilai membelenggu demokrasi. Pada demo gabungan ini para mahasiswa menguasai ruang sidang paripurna DPRD untuk memuluskan tema aksi ‘menjadi anggota dewan sehari’. (Foto: Roni Bayu)

Tolak Revisi UU MD3 Disahkan, Dukung JR
Mahasiswa dan Polisi Sempat Tegang

PANGKALPINANG – Ratusan mahasiswa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), bersama mahasiswa dari perwakilan BEM se-Sumbagsel (Sumatera Bagian Selatan) berhasil menduduki ruang Sidang Paripurna gedung DPRD Provinsi Babel, Senin (12/3/2018) sore. Mereka saat aksi hanya memberikan satu tuntutan yakni menolak pengesahan revisi Undang-undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) Nomor 17 tahun 2014.
Dalam aksi itu, kursi pimpinan sidang paripurna yang biasanya diduduki oleh pimpinan DPRD Babel maupun Gubernur dan Wakil Gubernur, kali ini hanya diduduki oleh Ketua DPRD Babel Didit Srigusjaya, Wakil Ketua DPRD Babel Hendra Apollo serta empat mahasiswa perwakilan BEM Babel, Sumsel, Jambi dan Bengkulu. Sedangkan mahasiswa lainnya menduduki kursi para anggota dewan dan kursi tamu yang biasa diduduki pejabat Forkominda.
Jadi wakil rakyat sehari, menjadi tema mahasiswa untuk menduduki ruang Rapat Paripurna DPRD. Mereka kemudian menegaskan menolak dan menentang keras pasal-pasal kontroversial dalam UU MD3 yakni Pasal 73 ayat 4, Pasal 122 huruf k, dan Pasal 245 yang dinilai bertentangan dengan penyelenggaraan proses demokrasi di Indonesia dan tidak sesuai ideologi Pancasila dan UUD 1945.
Ratusan mahasiswa ini diterima oleh Ketua DPRD Babel Didit Srigusjaya dan Wakil Ketua DPRD Hendra Apollo.

Dengan tegas, pernyataan sikap pun diserahkan ke DPRD Babel dan ditandatangani Ketua DPRD Babel, Koordinator Wilayah BEM SI Sumbagsel, Zulfan Sholeh Idris dan Presma BEM KM UBB, Rully Rizki Rivaldo.

“Menuntut Presiden RI untuk menyatakan sikap terkait upaya pembatalan pasal-pasal yang kontroversial di dalam UU MD3 demi menjaga stabilitas kehidupan berbangsa dan benegara Indonesia,” demikian pernyataan sikap BEM SI se-Sumbagsel.

Selain itu mereka mendukung segala upaya uji materi atau judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait UU MD3 demi kembalinya marwah Negara Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi.
Kemudian, mahasiswa menentang keras segala upaya pembatasan dan pembungkaman hak rakyat dalam bersuara, berekspresi dan memberikan kritik terhadap pemerintah.

“Menuntut DPR kembali kepada marwahnya sebagai wakil rakyat dengan mengutamakan kepentingan rakyat, bukan kepentingan politik individu dan golongan dalam setiap pelaksanaan tugas negara,” dalam pernyataannya lagi.

“Menuntut DPRD Babel agar mendukung dan menyepakati untuk membatalkan pasal-pasal kontroversial dalam UU MD3 serta menyampaikan tuntutan-tuntutan ini ke DPR RI,” tutup perwakilan BEM SI Sumbagsel itu.
Menanggapi itu, Ketua DPRD Babel Didit Srigusjaya menyambut baik keinginan mahasiswa menyampaikan aspirasinya ke gedung DPRD Babel. Ia hanya berharap, aksi damai yang dilakukan, berjalan dengan baik dan kondusif.
“Kami tidak anti akan ada aksi ataupun demo. Kami sebagai tuan rumah sudah menghargai, jadi mari kita saling menghargai. Kami menyambut baik aksi ini,” kata Didit.
Dia menegaskan DPRD segera menyampaikan pernyataan sikap mahasiswa itu ke DPR RI. “Kita akan langsung fax pernyataan itu ke DPR RI dan Presiden RI. Apa yang disampaikan mahasiswa ini bukti konkrit keresahan masyarakat.
Lembaga DPR ini lahir dari rakyat untuk rakyat. Wajar rakyat mengkritik wakil rakyat, tolonglah buat kebijakan harus sesuai situasi kondisi rakyat. Kita apresiasi luar biasa atas aksi mahasiswa ini,” tukas Didit.Sedangkan Hendra Apollo mengapresiasi mahasiswa yang melakukan aksi damai di gedung DPRD Babel itu. Dia menilai, ternyata mahasiswa tidak berdiam diri dan cerdas. Mereka berani menganalisa persoalan politik dan hukum terutama masalah MD3.

“Kalau ini lolos sangat berbahaya bagi bangsa ini. Menjadi kekuatan Super Body dan anti kritik. Saya mendukung sekali, semoga ini dapat ditindaklanjuti Ketua DPR. Mereka menolak revisi pasal kontroversial dan ini akan kita sampaikan ke DPR RI, untuk ke presiden Ketua DPRD Babel yang urus,” urainya.

Sempat Tegang
Dalam pantauan Rakyat Pos, aksi mahasiswa yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dan berakhir sekira pukul 17.45 WIB di depan Gedung DPRD Provinsi Bangka Belitung kemarin, semula sempat berlangsung tegang dengan aparat kepolisian.
Ketegangan ini terjadi saat beberapa mahasiswa peserta aksi ingin membakar ban bekas dan meminta anjing pelacak yang dibawa oleh anggota kepolisian untuk dibawa keluar dari arena aksi mahasiswa.
“Kami ini manusia, kami minta anjing itu dibawa keluar dari sini, kalau tidak kami tidak akan pulang dari gedung DPRD ini,” kata salah satu peserta aksi.
Agar jalan aksi ini tetap kondusif, pihak kepolisian kemudian memenuhi permintaan mahasiswa. Oleh petugas, anjing pelacak dibawa keluar dari arena aksi dan mahasiswa diperbolehkan membakar ban bekas di luar gedung DPRD Babel.
“Adik-adik mahasiswa sudah kami terima secara baik-baik, kami mohon adik-adik untuk menjaga aksi ini agar tetap kondusif dan mari kita saling menghargai,” kata Ketua DPRD Babel, Didit Srigusjaya kepada para mahasiswa. (ron/1)

Comment

BERITA TERBARU