Ratusan Hektar Padi Gagal Panen

  • Whatsapp
Ratusan hektar persawahan padi Desa Trans Rias Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan mengalami kekeringan dan terancam gagal panen. (foto: Dedi Irawan)

Petani Rias Kesulitan Air

TOBOALI – Kemarau panjang yang hingga kini belum juga terlihat akan turun hujan membuat sekitar 600 hektar tanaman padi di Desa Trans Rias SPA, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan kesulitan air hingga terancam gagal panen.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sepakat Jaya, Ariyanto mengatakan 600 hektar padi mulai mengalami kekeringan.

“Saat ini sekitar 600 hektar padi mengalami kekeringan akibat kekurangan air dikarenakan musim kemarau mengurangi debit air di sumber perairan tersebut,” ucapnya Rabu (21/8/2019).

Kekurangan air di sebagian persawahan tersebut merupakan ancaman bagi ratusan petani yang dalam waktu dekat ini akan melangsungkan panen raya.

“Persawahan tersebut mengandalkan 3 sumber air yakni yang utama bendungan mentukul, kolong pumpung dan kolong yamin. Namun kolong yamin saat ini sudah mengalami kekeringan” ujarnya.

Patkul (60), salah satu petani mengatakan, puluhan petak sawah miliknya juga mengalami kekurangan air. Bahkan Patkul memperkirakan padi tersebut hanya akan bisa bertahan 1 minggu dari sekarang.

“Sawah saya kering sudah 2 minggu ini, jadi kalau 3 hari kedepan tidak bisa mengaliri air ke sawah, padinya mati dan gagal panen,” imbuhnya.

Ariyanto memaparkan kekeringan air di sebagian persawahan SPA tersebut dikarenakan kolong yamin sudah kering total.

“Jadi sebagian persawahan SPA mengandalkan kolong pumpung yang saat ini sedang proses normalisasi, itu saja masih menggunakan pompa untuk mengaliri sebagian sawah, sebagiannya lagi sudah tak mampu di aliri,” paparnya.

Menanggapi persoalan ini, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, Suhadi mengklaim Pemkab Basel sudah melakukan upaya mengatasi kekurangan air untuk mengaliri persawahan tersebut dengan menormalisasi kolong pumpung.

“Sekarang kita lagi proses normalisasi di kolong pumpung untuk membantu aliran persawahan. Dinas Pertanian juga sudah memfasilitasi pompa air pada aliran persawahan tersebut untuk meminimalisir kekeringan sebagian,” jelasnya.

Untuk menangkal kerugian jika terjadi gagal panen, pihaknya mengalokasikan asuransi Jasindo untuk para petani di Desa Trans Rias .

“Untuk asuransi, yang dinilai Jasindo yakni terkena penyakit, hama, lalu bencana alam, apakah kekeringan bisa dimasukkan kategori bencana alam nanti Jasindo yang akan mengevaluasinya,” ujar Suhadi.

Asuransi itu bersifat gratis, jadi diwajibkan petani untuk mendaftarkan asetnya untuk diasuransikan untuk meminimalisir kerugian. “Petani akan mendapatkan Rp 6 juta/ hektar untuk klaim asuransi jika terjadi gagal panen,” pungkasnya. (raw/6)

Related posts