Ramadhan, Waktunya Akrab dengan Orang Shalih

  • Whatsapp

Oleh. Mahbub Zarkasyi

Suasana Ramadhan tentu membuat kita banyak dekat dengan orang shalih. Setiap hari kita mendengar tausiyah baik berupa kultum ramadhan maupun ceramah agama dalam bentuk lainnya. Apalagi setiap waktu shalat fardhu kaum muslim menyibukkan diri dengan shalat berjamaah di masjid. Ramadhan 1438 Hijriyah ini begitu istimewa, masjid walau sudah melewati separuh Ramadhan, namun masih banyak yang dipenuhi dengan jamaah. Semoga hal ini terus berlangsung walau Ramadhan nanti telah pergi.
Berteman dengan orang-orang shalih tentu sangat mempengaruhi kepribadian kita.Kita pun jadi ikutan apa yang biasa mereka kerjakan.Seperti banyak baca Al-Qur’an, Shalat berjamaah dan kita mendengarkan tausiyah agamanya dengan duduk di majelis ilmu bersama mereka. Ketika seseorang bergaul dengan teman yang berakhlak baik maka niscaya ia akan menjadi sosok yang berkahlak baik. Namun sebaliknya, ketika ia bergaul dengan teman yang berakhlak buruk maka ia pun akan menjadi sosok yang berakhlak buruk pula. Maka dari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar selektif dalam memilih teman, khususnya teman dekat atau sahabat karib. Hal itu disebabkan karena agama seseorang itu sangat ditentukan oleh agama teman dekatnya. Kepribadian atau perilaku seseorang juga biasanya sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya. Karena itu, tak salah jika dikatakan,
“Bergaul dengan tukang minyak wangi akan kecipratan wanginya. Bergaul dengan ‘pandai besi’ akan terpercik apinya.”
Ini sebetulnya sesuai dengan sabda Baginda Nabi SAW, sebagaimana penuturan Abu Musa al-Asy’ari ra., yang menyatakan, “Sesungguhnya kawan duduk dalam rupa orang yang shalih dan kawan duduk dalam rupa orang yang suka maksiat adalah seumpama tukang minyak wangi dan pandai besi. Tukang minyak wangi boleh jadi akan mencipratkan minyak wangi ke badanmu, atau engkau membeli minyak wangi dari dia, atau engkau mendapatkan bau harum dari dirinya. Adapun pandai besi boleh jadi memercikkan api ke bajumu atau engkau mendapati bau busuk dari dirinya.” (Mutaffaq ‘alaih).
Maknanya, bergaul dengan orang baik akan terbawa baik atau kecipratan kebaikannya. Sebaliknya, bergaul dengan orang jahat akan terbawa jahat atau kecipratan keburukannya. Dalam hal ini, seseorang biasanya akan mencontoh perilaku orang lain yang ada dalam lingkungan pergaulannya. Di sisi lain, seseorang biasanya akan bergaul dengan orang yang ia sukai atau ia cintai, dan ia tidak akan bergaul dengan orang yang ia benci. Karena itu, mencintai kebajikan dan para pelakunya, itulah yang sejatinya harus ditunjukkan oleh seorang Muslim. Sebab, Baginda Nabi SAW pernah bersabda kepada Abu Dzar ra.,
“Anta ma’a man ahbabta (Engkau bersama dengan orang yang engkau cintai).” (HR al-Bazzar).
Seorang Muslim yang baik sejatinya memahami benar ungkapan dan hadits di atas. Karena itu, dalam kehidupan kesehariannya, ia akan banyak bergaul dengan orang-orang shalih dan bertakwa; bukan banyak bergaul dengan para pendosa dan tukang maksiat. Dengan kata lain, ia akan selalu ber-mujalasah (duduk-duduk atau bergaul) dengan para pelaku kebajikan (ahl al-khayr), bukan dengan para pelaku keburukan (ahl al-ma’shiyah). Dalam hal ini, Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Al-Mar’u ‘ala dini khalilihi, falyanzhur ahadukum man yukhalilu (Seseorang itu bergantung pada agama sahabatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat).” (HR Abu Dawud).
Hadits ini menunjukkan dengan tegas konsekuensi dari persahabatan seseorang, baik dengan orang yang baik ataupun dengan orang yang buruk. Sahabat yang paling dekat bagi seseorang tentu saja adalah istri/suaminya. Sebab, kehidupan suami-istri sesungguhnya adalah kehidupan persahabatan. Karena itulah, terkait dengan mencari pasangan dalam rangka membangun kehidupan rumah tangga, Baginda Rasulullah SAW pernah memberikan tuntunan, “Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya; karena keturunannya; karena kecantikannya; karena agama (ketakwaan)-nya. Maka dari itu, carilah wanita (untuk dijadikan istri) yang bagus agamanya, niscaya engkau beruntung.” (Muttaffaq ‘alaih).
Beberapa sabda Baginda Nabi SAW di atas tegas mengajari kita untuk selalu bergaul dan bersahabat dengan orang-orang yang shalih atau yang bagus agamanya. Dalam kesempatan lain Baginda Rasulullah SAW bersabda, “La tushahib illa mu’min[an] wala ya’kul illa taqiy[un] (Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang Mukmin. Janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Maknanya, kita harus banyak bergaul dan bersahabat dengan orang Mukmin dan bertakwa. Lebih baik lagi, seorang Muslim hendaklah banyak bergaul dengan para ulama dan para pengemban dakwah yang mukhlish. Sebab, dengan banyak bergaul dengan mereka, selain kita akan menjadi orang-orang shalih atau berperilaku baik, juga memungkinkan diri kita menjadi mushlih, yakni terdorong untuk selalu melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat. Jika kita tidak sanggup bergaul dengan mereka, maka cintailah mereka, jangan memusuhi mereka. Sebab, sabda Nabi SAW, “Al-Mar’u ma’a man ahabba (Seseorang akan bersama dengan orang yang dia cintai).” (Mutaffaq ‘alaih).
Selain itu, ada riwayat penuturan Anas ra, bahwa seorang Arab pedalaman pernah bertanya kepada Baginda Rasulullah, “Kapan Hari Kiamat?” Baginda balik bertanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi Kiamat?” Ia menjawab, “Cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu Baginda bersabda, “Engkau akan bersama dengan yang engkau cintai.” (Mutaffaq ‘alaih).
Perhatikanlah wahai saudaraku, saat berbagai jenis manusia datang dalam kehidupan seorang muslim, maka ia akan terpengaruh oleh orang-orang yang datang dari sekelilingnya tersebut. Anak-anak muda yang dahulunya rajin mengaji dan memiliki komitmen terhadap agamanya, semakin hari semakin banyak mengenal berbagai jenis kefasikan dari orang-orang fasik yang dikenalnya di kampus atau di tempatnya bekerja. Dan setiap muslim yang menemukan orang-orang sholeh dalam hidupnya juga menjumpai orang-orang yang fasik dan kafir yang notabene jumlahnya lebih banyak dan mudah ditemui di manapun. Lalu mulailah muncul dalam lintasan pikirannya, bahwa kehidupan agamis dan spiritualis yang lekat dengan orang-orang sholeh tampak begitu monoton dan membosankan. Kehidupan seperti itu tidak keren, tidak memiliki prestise, dan tidak memiliki landasan ilmiah yang kuat.
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan tatkala diperlihatkan kepada Allah isi hatinya tampaklah ia sebagai orang yang paling keras pertentangannya” (Al-Baqarah: 204)

Khatimah
Semoga kebiasaan kita akrab dengan orang-orang shalih, khususnya para ulama dan pengemban dakwah yang mukhlish tidak hanya saat ramadhan saja, namun terus keakraban ini terjalin hingga di kehidupan setelah kehidupan dunia ini yaitu di Al-Jannah. Jika tak sanggup maka cintailah mereka dan jangan sampai membenci mereka. Jika sampai kita membenci mereka, sungguh tak ada lagi kebaikan sedikitpun yang bisa kita raih.
Wama tawfiqi illa billah.

Related posts