Ramadhan: Pemimpin Begitu Dekat dengan Umat

No comment 78 views

Oleh: Mahbub Zarkasyi
(Pengamat Politik Islam)

Ramadhan 1438 Hijriyah menjadi bulan dimana banyak penguasa melakukan blusukan ke tengah-tengah kaum muslim. Tidak hanya penguasa, kepala polisi, wakil rakyat dan calon penguasa atau calon wakil rakyat juga menjadikan momentum Ramadhan untuk mendekatkan diri dengan umat. Suasana yang dirindukan kaum muslim di bulan-bulan lainnya. Mereka membuat jadwal full di bulan Ramadhan untuk mengunjungi masjid-masjid tempat kaum muslim berkumpul melakukan Shalat Isya, Tarawih dan Witir berjamaah. Mereka membuat agenda yang disebut Safari Ramadhan. Sungguh senang rasanya bisa shalat berjamaah bersama para penguasa, apalagi mereka yang mengisi tausiyah dan imam shalatnya.
Dalam Islam memang beban tugas selalu diberikan kepada orang-orang yang memiliki keistimewaan. Karena syariat menuntut agar tugas tersebut bisa terlaksana dengan sempurna. Beban berat, tugas penting, amanah utama dan tugas istimewa tak mungkin terlaksana secara sempurna oleh orang lemah. Karena bila diserahkan kepada yang lemah maka akan dilaksanakan secara sembarangan, berkualitas rendah dan tak mungkin menghasilkan kesempurnaan. Dan kewajiban sering kali terlalaikan. Namun tak jarang amanah dipegang oleh orang yang lemah dan tidak amanah sehingga membuat para pemimpin menjadi tidak menunaikan hak-hak rakyatnya. Jadi beban berat kepemimpinan harus dipikul oleh orang yang memiliki keutamaan, kuat dan hebat serta faqih fiddin.
Suatu tugas juga harus diserahkan kepada ahlinya. Bilamana tugas diberikan kepada bukan ahlinya, yang dihasilkan malah ketidakstabilan dan kehancuran. Untuk membuat rumah tentu harus dilakukan oleh ahli bangunan, tidak bisa diberikan kepada ahli dalam pembuatan pesawat terbang. Begitu juga sebaliknya, untuk membuat pesawat terbang tak mungkin dilakukan oleh ahli bangunan.

Penguasa Muslim yang Dirindukan
Islam hanya bisa diajarkan dengan sistem Islam itu sendiri. Tak pernah ada di zaman Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabiin, dan ulama-ulama shalafush shalih, Islam diajarkan dengan selain Islam. Mereka menda’wahkan Islam bersama negara sehingga Islam dinaungi sebuah sistem. Maka berbondong-bondonglah umat masuk Islam dengan sendirinya tanpa ada paksaan. Itu terjadi karena Islam memberikan rahmat untuk semesta alam. Rasulullah SAW selain sebagai Rasul Allah, beliau juga menjadi kepala negara di Madinah. Begitu juga para Khulafaur Rasyidin yang menjadi kepala negara di Jazirah Arab, mereka juga mengemban da’wah Islam dan membentuk sistem dengan Islam itu sendiri.
Namun fakta sekarang, muncul ide untuk menda’wahkan Islam dengan faham sekulerisme, pluralisme dan liberalisme (SPILIS). Dan yang terjadi, tawar-menawar terhadap syariat Islam. Islam hanya membidangi bidang ibadah ritual semata. Dengan sekulerisme, Islam fokus di bidang menikah, shalat, zakat, puasa dan haji. Sedang dalam tatanan sistem negara hanya menggunakan hawa nafsu manusia dengan meninggalkan syariah Islam. Dalam tatanan pergaulan kita lihat faktanya campur baur antara laki-laki dan perempuan seolah tanpa batas. Berpakaian tak menutup aurat atau sekedar membalut tubuh yang memperlihatkan bentuk lekuk tubuh. Yang terjadi dimana-mana perzinahan, pemerkosaan, perselingkuhan dan lain-lain menjadi berita dan pandangan biasa setiap hari.
Dalam lingkungan pendidikan, para siswa dicampuradukkan di ruang kelas, interaksi antar siswa dan siswa dan guru tanpa batas. Kurikulum pun tak ada unsur da’wah di sana. Pelajaran agama yang diajarkan pun hanya seputar aqidah dan ibadah. Sejarah-sejarah yang diajarkan pun diputarbalikkan sehingga yang ditonjolkan adalah peradaban barat yang tak memiliki nilai-nilai Islam, sedang ilmuan Islam dan peradaban gemilang Islam disembunyikan serta ditutup rapat seolah tak pernah ada. Dalam perpolitikan yang terjadi malah pembohongan publik, pencitraan palsu, money politic, black campaign dan pendzaliman terhadap rakyat dengan memberikan kebijakan-kebijakan tidak pro rakyat. Tentu itu semua tidak berdasar Islam.
Dalam sistem peradilan malah mengambil dari hukum penjajah saat menjajah Indonesia. Ketika ditawarkan atau diopinikan tentang hukum syariat yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah seolah kejam. Misal disampaikan tentang hukum potong tangan bagi pencuri dan hukum rajam bagi pelaku zina, maka membuat ummat risih dan takut terhadap hukum tersebut. Padahal hukum itu hanya akan ditimpakan kepada pelaku. Jadi seharusnya bagi yang tak terlibat atau bukan pelaku tak perlu risih dan phobia karena hukum tersebut tidak akan ditimpakan kepada bukan pelaku. Dalam pembiayaan negara pun ternyata sistem sekuler membuat pos yang bukan dari syariat Islam. Yaitu pajak dan utang luar negeri sebagai nomenklatur utama penerimaan negara. Sedang pos-pos sebagaimana yang telah disyariatkan malah diabaikan.

Penguasa Sebagai Pengemban Da’wah
Islam sebenarnya telah mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya sebuah negara mengemban da’wah. Seorang pemimpin dalam Islam harus memimpin dengan Syariah Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul SAW dan Khulafa ar-Rasyidin ra. Di masa kekhilafahan Islam sebagai institusi negara, negara selain menerapkan hukum Islam kepada penduduknya, juga melakukan pembinaan terhadap ummatnya. Rasulullah SAW dan para shahabat mengajarkan Islam yang saat itu Masjid Nabawi menjadi pusat pemerintahan dan da’wah. Sehingga kepemimpinan dan da’wah Islam tak pernah dipisahkan. Rasulullah SAW juga pernah mengirim surat kepada Raja Persia dan Romawi untuk masuk Islam dan menerapkan Islam atas umat di negara yang mereka pimpin.
Khalifah-khalifah setelahnya pun dalam menda’wahkan Islam mengirim utusan-utusan kepada negara lain. Seperti dulu Khalifah mengirimkan para wali untuk menda’wahkan Islam ke nusantara yang terdiri dari banyak kerajaan bukan Islam hingga menjadi kesultanan Islam. Dengan rahmat Allah yang diturunkan kepada negeri-negeri yang menerapkan Islam, maka banyak kemashlahatan. Dengan penuh keimanan ummat berbondong-bondong memeluk Islam. Jadilah Indonesia menjadi Islam sebagai penduduk mayoritasnya.

Khatimah
Islam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, tidak ada sifat barbarian yang mementingkan suatu bangsa, suku ataupun kelompok. Sistem negara yang diterapkan yang bersih dari lumuran darah yang hanya berbeda faham termasuk kaum minoritas non-muslim, mereka akan dijaga harta, darah dan kehormatannya. Karena Sistem Islam bukanlah untuk suatu kelompok maupun madzhab tertentu. Namun Sistem Islam adalah sistem negara yang menaungi dan melayani kepentingan seluruh ummat Islam dan nonmuslim tanpa diskriminasi. Perbedaan madzhab tidak masalah selama masih bersumber dari dalil-dalil syar’i dan kaidah fiqih syar’i.
Semoga Ramadhan tahun ini menjadi bulan pengetuk pintu hati penguasa negeri kaum muslim untuk kembali kepada aturan Allah. Semoga Ramadhan tahun ini juga sebagai bulan pembuka rahmat Allah dimana kepemimpinan Islam dimulai untuk nantinya diserahterimakan kepada Imam Al-Mahdi sebagaimana yang Allah janjikan. Aamiin… Aaamiin… Yaa Rabbal ‘Alamin. Allahu’alam bishawab []MZiS

 

No Response

Leave a reply "Ramadhan: Pemimpin Begitu Dekat dengan Umat"