Ramadhan, Momentum Mengejar Naungan-Nya

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi

Banyak di tengah-tengah manusia segolongan kaum muslim yang selalu menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah dan bersungguh-sungguh menolong agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara mereka saling tolong-menolong dan menguatkan demi mengumpulkan butir-butir biji dzarrah kebaikan sebagai hujjah dihadapan Allah di akhirat nanti. Mereka menjual harta, jiwa dan raganya guna menghadapi makar-makar musuh Islam. Semoga kita menjadi bagian dari mereka dan mendapat naungan-Nya di saat tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala sang penguasa hari pembalasan telah berfirman: “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat); dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya; dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”; pada hari itu bumi menceritakan beritanya; karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya; Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka; Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya; Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (TQS al-Zalzalah [99]: 1-8).
Manusia yang dha’if memang sering melupakan atau tidak menyadari tujuan penciptaan manusia. Padahal manusia tidak diciptakan kecuali untuk menyembah, beribadah dan mengabdi kepada-Nya. setiap muslim pasti tau, setiap muslim pasti meyakini bahwa dirinya dan seluruh manusia lainnya di akhirat akan di hisab dengan aturan-Nya.
Aktivitas muslim tak sedikit yang berbuat maksiat selama hidupnya. Mereka yang banyak ilmu agamanya kemudian menjual ayat-ayat Allah dengan harta dan kedudukan dunia. Mereka melakukan kedzaliman dengan berbuat menentang hukum-hukum Allah atau membela penista ayat-ayat Allah dengan menafsirkan ayat Allah sesuai dengan apa yang orang-orang kafir dan fasik inginkan. Sebagian muslim yang lain menyibukkan diri dengan amalan sia-sia sehingga tak ada bekal untuknya di akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk baik dari bangsa jin maupun manusia. Semoga laknat Allah di dunia kepada mereka yang membuat makar terhadap agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di dalam surat Al Zalzalah sebagaimana di atas telah memberikan peringatan kepada kita bahwa bumi dan seluruh alam semesta akan dihancur-leburkan pada suatu hari. Hari tersebut disebut dengan hari kiamat. Kemudian manusia akan dihidupkan kembali pada hari kebangkitan dengan keadaan yang bermacam-macam. Semuanya akan dibangkitkan dengan diperlihatkan seluruh aktivitasnya di dunia baik aktivitas fisik maupun hatinya. Baik yang dilakukan secara terang-terangan dihadapan manusia dan maupun yang disembunyikan dari khalayak ramai.
Hadits riwayat Ibn Hatim, dari A’isyah ra. bahwa Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Ibrahim tatkala dicampakkan kedalam api, semua binatang yang melata dimuka bumi ini mencoba memadamkan api, kecuali cicak, kerana sesungguhnya dia (cicak) meniupkan api atas Nabi Ibrahim…”
Kita juga sering mendengar alkisah burung pipit dengan paruhnya berusaha bolak-balik mengambil air kemudian terbang ke atas api untuk memadamkannya. Api tersebut digunakan oleh Raja Namrud untuk membakar Nabi Ibrahim as. Di sisi yang lain Cicak berusaha meniupkan api agar tetap menyala dan membakar Nabi Ibrahim as. Kontras yang dilakukan oleh burung pipit dan cicak. Cicak pun mencela dan menertawakan ikhtiar burung pipit yang menghasilkan air beberapat tetes saja di dalam paruhnya sedang api begitu besar menyala-nyala. Kemudian burung pipit menjawab celaan cicak tersebut yang sungguh menyadari tak mungkin memadamkan api yang begitu besar hanya membawa sedikit air dengan paruhnya. Tetapi burung pipit tersebut ingin menunjukkan dipihak bahwa ia berada dipihak pembela Agama dan Rasul Allah.
Kisah tersebut harusnya bisa memberikan inspirasi kepada kita bahwa sekecil apapun usaha yang bisa kita lakukan untuk menghadapi persoalan besar terhadap agama, maka itu akan menunjukkan kita berada dipihak yang mana. Kaum fasik dan munafik berusaha menjual agama Allah kepada orang-orang kafir demi mendapatkan harta dunia yang sedikit. Mereka berfatwa sesuai keinginan yang membayar mereka. Mereka tak segan mencela dan melecehkan aktivitas kaum muslim yang berusaha memadamkan makar-makar mereka. Kaum Muslimin bukannya mendapatkan harta, bahkan mereka harus mengeluarkan harta yang tak sedikit guna menolong agama Allah. Mereka berjuang dengan raga dan kedudukan mereka hanya untuk mencari hujjah dihadapan Allah diakhirat nanti bahwa mereka tetap berpegang teguh pada tali-tali Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sungguh, makar mereka kepada Allah sudah Allah ketahui, dan Allah akan menuntut balas atas perbuatan mereka. Allah maha Mengetahui. Pastinya Allah pun sudah mengetahui apa-apa yang tersembunyi di hati mereka dan perjanjian mereka kepada orang-orang kafir. Allah pasti membalas makar mereka dengan azab neraka jahannam yang menyala-nyala.Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (TQS. Ibrahim [14]: 46)
Kita telah melihat banyak manusia yang dilahirkan dalam keadaan tak memiliki apa-apa. Kita pun pun pastinya dulu berasal seperti mereka bayi-bayi baru lahir yang tak memiliki apa-apa. Kita menyaksikan pula banyak orang-orang tua satu per satu meninggalkan kita. Kita pun pasti akan seperti mereka nantinya. Kita telah melihat kelahiran dan kematian hanya berjarak rata-rata 60-70 tahun saja. Sangat jarang yang melebihinya. Jadi hidup sebelum kehidupan akhirat lebih lama di alam kubur dibandingkan hidup di kehidupan dunia.
Sejak lahir hingga masuk usia baligh sekitar 15 tahun kita tidak dihisab. Hidup 60 tahun di dunia masih tersisa 45 tahun jatah mengumpulkan bekal untuk kehidupan hari esok. Maka bagi kaum muslim yang masih bergabung dengan musuh-musuh Allah segeralah bertaubat. Mumpung nyawa masih di kandung badan dan belum sampai ketenggorokan. Bagi kaum muslim yang menjadi penolong agama Allah, istiqamahlah dijalan tersebut. Tentu kita merindukan kematian terindah dimana kita berada dalam perjuangan membela agama-Nya. sibukkanlah diri untuk mengumpulkan butiran biji dzarrah amal kebajikan, insyaallah dengan kesungguhan kita Allah akan ganti dengan Syurga seluas langit dan bumi. Sibukkanlah diri kita mengumpulkan kepingan batu bata emas untuk istana kita di syurga nanti.
Bagi orang tua kami, anak-anak dan istri kami, jangan pernah halangi kami untuk berjuang di jalan kebenaran. Gelar syuhada bila kematian yang kami tempuh dalam perjuangan ini, pasti kalianlah orang-orang yang pertama kali yang kami beri syafaat atas izin Allah di akhirat nanti. Doakan kami, lepaskan kepergian kami atas ridha-Nya, pasti kalian mendapatkan pahala sebagaimana yang kami kerjakan.
Dalam sebuah riwayat hadist yang panjang pertanyaan Shahabiyah Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah radhiallahu ‘anha kepada Rasulullah Sahalallahu ‘Alaihi Wasallam, “Bahwa dia (Asma) mendatangi Rasulullah, sementara beliau sedang duduk di antara para sahabatnya. Asma’ berkata, ‘Aku korbankan bapak dan ibuku demi dirimu, wahai Rasulullah. Saya adalah utusan para wanita di belakangku kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada seluruh laki-laki dan wanita, maka mereka beriman kepadamu dan kepada tuhanmu. Kami para wanita selalu dalam keterbatasan, sebagai penjaga rumah, tempat menyalurkan hasrat, dan mengandung anak-anak kalian, Sementara kalian – kaum laki-laki – mengungguli kami dengan shalat Jumat, shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, berhaji setelah sebelumnya sudah berhaji, dan yang lebih utama dari itu adalah jihad fi sabilillah. Jika salah seorang dari kalian pergi haji, umrah, atau jihad maka kamilah yang menjaga harta kalian, menenun pakaian kalian, dan mendidik anak-anak kalian. Bisakah kami menikmati pahala dan kebaikan ini sama seperti kalian?‘ Nabi memandang para sahabat dengan seluruh wajahnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Apakah kalian pernah mendengar ucapan seorang wanita yang lebih baik pertanyaannya tentang urusan agamanya daripada wanita ini?’ Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak pernah menyangka ada wanita yang bisa bertanya seperti dia.’Nabi menoleh kepadanya dan bersabda, ‘Pahamilah, wahai Ibu, dan beritahu para wanita di belakangmu bahwa ketaatan istri kepada suaminya, usahanya untuk memperoleh ridhanya, dan kepatuhannya terhadap keinginannya menyamai semua itu.’ Wanita itu pun berlalu dengan wajah berseri-seri.” (Usudul Ghaayah fi Ma’rifatis Shahabah, 7:17, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, cet. 1, 1415 H, Asy-Syamilah)
Wallâhu a’lam bi ash-Shawâb. [] MZiS

Related posts