Ramadhan, Memahami Kebangkitan Islam

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi

Setelah melalui malam Nudzulul Qur’an, tentu kita melihat masjid-masjid di bulan Ramadhan mulai berkurang jamaahnya. Banyak masjid hingga tak sampai separuh bila dibandingkan dengan malam pertama Ramadhan untuk menunaikan shalat Isya’, Tarawih dan Witir berjamaah. Apalagi shalat-shalat fardhu di waktu lainnya, maka terlihat lebih sedikit lagi.
Sebagai seorang muslim, seharusnya kita menunaikan ibadah hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu juga dengan menuntut ilmu, luruskan niat semata hanya karena mengejar ridha Allah dan perintah Allah. Sebagaimana perintah-Nya: “menuntut ilmu diwajibkan atas seluruh muslimin”. Kewajiban menuntut ilmu yang diwajibkankan kepada setiap muslim tersebut menegaskan bahwa Islam adalah system keyakinan sekaligus aturan kehidupan bagi manusia yang sangat mengutamakan kemajuan peradaban kehidupan manusia melalui pencapaian penguasaan sains dan teknologi di segala bidang. Sebaliknya, Islam sangat mengecam keras segala bentuk kebodohan (jahiliyah). Bulan Ramadhan dimana banyak masjid yang mengadakan tausiyah, ceramah dan kultum Ramadhan bisa dijadikan sebagai majelis ilmu untuk memperdalam ilmu yang kita butuhkan.
Jika kita cermati, masyarakat di negeri ini telah mengalami pendangkalan pemahaman yang parah terkait kemajuan peradaban suatu bangsa atau masyarakat di suatu negeri. Materialisme telah menjadi faham yang diadopsi luas oleh masyarakat sehingga dengan faham tersebut pandangan hidup tentang kehidupan dunia didominasi oleh asas manfaat dan kepentingan sesaat. Kebodohan hanya dipandang dari sisi bahwa seseorang telah gagal dalam memajukan tingkat pengetahuan dan teknologinya ketika menjalani kehidupan, sehingga kewajiban menuntut ilmu hanya diarahkan kepada penguasaan sains (murni dan terapan), dan teknologi.
Padahal sebagai seorang muslim, sesungguhnya sudah luas pula difahami bahwa kewajiban; termasuk kewajiban menuntut ilmu; dapat dibagi menjadi kewajiban kifayah dan kewajiban ‘ain. Kewajiban kifayah adalah kewajiban yang apabila telah dilaksanakan oleh seseorang maka menjadi gugurlah kewajiban orang lain sehingga terhindar dari dosa, atau bersifat komunal. Adapun kewajiban ‘ain adalah apabila telah dilaksanakan oleh seseorang maka gugurlah kewajiban hanya atas orang tersebut saja, tidak menggugurkan kewajiban atas orang lain, sehingga harus ditunaikan secara pribadi atau bersifat individual.
Penguasaan sains dan teknologi adalah contoh perkara yang harus ditunaikan sebagai kewajiban kifayah, sehingga apabila di suatu kampung atau negeri sudah ada seseorang yang menuntut atau menguasainya maka gugurlah dosa orang lain di negeri tersebut. Di kampus kita ini banyak bidang sains dan teknologi yang didirikan atau akan didirikan dalam rangka memenuhi kewajiban kifayah tersebut. Namun pernahkah kita berfikir bagaimana dengan penunaian kewajiban ‘ain dalam aktivitas atau amal menuntut ilmu ini? Apakah malah kita telah melalaikan kewajiban tersebut?
Semoga dengan hadirnya tulisan ini bisa untuk kembali mengetuk kesadaran, menakar lagi timbangan, meneguhkan keputusan bahwa harus ada langkah-langkah pembenahan dan perbaikan atas apa yang sudah kita jalani di institusi atau pranata pendidikan tinggi ini. Universitas riset adalah dambaan kita semua, bahwa dengan semangat tersebut akan kita raih produk-produk dan metode terbaik dalam menjawab tantangan kehidupan. Namun penting untuk diingat, bahwa peradaban sebagai suatu kumpulan pemahaman manusia tentang kehidupan tidak hanya dihubungkan pada aspek-aspek universal dalam kehidupan yang dapat dikuasai melalui metode ilmiah. Peradaban juga harus dibangun di atas akidah yang khas tentang kehidupan.
Kaum muslim hari ini sengaja dijauhkan dari Syariah Islam dengan membangun persepsi Islamophobia. Amerika Serikat adalah satu contoh tentang bagaimana suatu peradaban dibangun di atas suatu suatu system keyakinan atau akidah yaitu sekularisme. Faham keduniaan ini telah membawa Eropa dan Amerika beberapa abad lalu keluar dari kegelapan menuju pencerahan (renaissance). Kebangkitan Eropa saat itu bertolak dari kondisi masyarakat yang tertindas di bawah persekongkolan keji kerajaan dan gereja, sehingga memuncaklah tuntutan perubahan di sana dari kalangan cendekiawan di bawah semboyan “gantung leher kaisar terakhir dengan usus pendeta terakhir”.
Propaganda anti kerajaan dan anti gereja ini meluas di daratan Eropa. Singkatnya, mereka tidak lagi yakin dengan pemerintahan kerajaan yang didukung oleh wibawa gereja (pemerintahan berkedok agama) tersebut akan membawa kebangkitan bagi peradaban hidup mereka. Akhirnya kita lihat hasil dari perubahan pemikiran dan akidah mereka hari ini, Eropa dan kemudian Amerika tampil sebagai bangsa yang bangkit mencapai kemajuan dalam sains dan teknologi setelah dengan sadar meninggalkan dominasi gereja, ya…mereka harus menjadi secular terlebih dulu untuk kemudian mampu meraih kebangkitan. Sisi lain dari peradaban yang bangkit di atas akidah secular tak boleh luput dari pengamatan kaum intelektual mahasiswa muslim.
Kebangkitan kaum muslim tiada lain yaitu dengan berpegang teguh dengan Syariah Allah sebagaimana Rasulullah dan para Shahabat membangun peradaban Islam yang mulia membungkam peradaban Persia dan Romawi. Kebangkitan di atas landasan atau akidah secular sesunggungnya bukan kebangkitan yang hakiki atau sejati. Realitas telah banyak berbicara tentang bagaimana sesungguhnya ada borok dan kebusukan yang ada di dalam peradaban tersebut. Dari rahim akidah secular tersebut kemudian lahirlah system ekonomi kapitalistik, system pendidikan materialistic, system politik opportunistic, system pemerintahan korporatokrasi. Tidak hanya sebatas itu, system kehidupan yang begitu mereka agungkan tersebut mereka propagandakan ke seluruh dunia sebagai faham demokrasi yang seolah indah padahal sesungguhnya di dalamnya mengandung pesan singkat yang sangat bertentangan dengan akidah seorang muslim yaitu demokrasi meletakkan kedaulatan (hak membuat hukum) di tangan manusia. Faham inilah yang kemudian merusak tatanan hidup umat manusia khususnya kaum muslimin di seluruh negeri-negeri mereka.

Khatimah
Di bulan Ramadhan 1438 Hijriyah ini, maka sangat penting untuk membangun kembali kesadaran dan pemahaman kaum muslim tentang metode berfikir dalam rangka menentukan arah kebangkitan peradaban yang shahih selain dari sains dan teknologi. Aktivitas shaum di bulan mulia penuh dengan barokah dan ampunan ini harus dipenuhi dengan perbaikan dan komitmen akan kebaikan itu sendiri, membangkitkan umat ini dengan kesadaran ideologis terhadap Islam, daya juang yang tinggi dalam penguasaan sains, teknologi, komitmen dengan akidah dan aturan kehidupan agamanya sehingga peradaban unggul yang diidamkannya benar-benar terwujud sebagai kebangkitan yang hakiki.
Semoga di Ramadhan tahun ini bisa menjadikan kaum muslim memimpin peradaban dunia dengan Iptek dan Imtaq. Sehingga kaum muslim di seluruh dunia bisa terbebas dari belenggu peradaban kufur barat. Dan dakwah bisa sampai keseluruh manusia di muka bumi. Aamiin… Aamiin… Yaa Rabbal ‘Aalamiin.
wallaahu a’lam bishshawab. []MZiS

Related posts