Ramadhan Bulan Penuh Keberkahan

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi (Syabab Hizb)

Ahad sore kemarin kaum muslimin di seluruh penjuru Tanah air dan seluruh dunia umumnya sibuk menunaikan kewajiban Kifayah dalam menentukan awal Ramadhan. Alhamdulillah walau di Indonesia cenderung banyak awan tebal menyelimuti langit dimana matahari terbenam, dengan begitu luasnya wilayah tanah air dan atas kehendak Allah SWT beberapa titik ru’yatul hilal berhasil melihat hilal (bulan baru) sebagai tanda berakhirnya bulan Sya’ban dan masuknya bulan Ramadhan.

Mengejar Keberkahan Ramadhan
Ketika Ramadhan sudah dipastikan masuk, tentu kaum muslimin sibuk memperbanyak ibadah dan mengurangi porsi kerja dunia. Karena kita tentu merindukan dimana amal ibadah kita menjadi banyak ketika ibadah dilipatgandakan di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Oleh karena itu bagi mukmin yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika tiba bulan Ramadhan maka mereka akan berharap seluruh bulan laksana bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, “Sekiranya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan yang terdapat di bulan Ramadhan, tentulah mereka mengharapkan agar seluruh bulan adalah bulan Ramadhan” [HR. Ibnu Huzaimah]
Ramadhan menjadi bulan dimana kita sibuk meningkatkan kuantitas ibadah. Banyak kita memanfaatkan momentum ramadhan dalam meningkatkan amal ibadahnya seperti Shaum (puasa wajib), shalat tahajud saat bangun sahur, shalat shubuh di masjid, tilawah Al-Qur’an setelah menunaikan shalat Tarawih dan witir berjamaah di masjid, dan pelaksanaan shalat Fardhu lebih banyak dikerjakan di masjid. Ada juga yang menanfaatkan sahur dan ifthar (buka puasa) perdana bersama keluarga. Suka-citanya kaum muslim dalam menyambut bulan ramadhan perlu kita apresiasi. Bulan yang dimana awal turunnya Al-Qur’an, bulan yang mana ibadah dilipatgandakan pahalanya dan bulan yang di dalamnya terdapat malam Laila al-Qadar (malam yang lebih baik dari 1000 bulan).

Pembuktian Keimanan
Suasana yang berbeda dari bulan-bulan biasanya, ketika di bulan Ramadhan kaum muslimin mampu menahan lapar dan haus dari sebelum shubuh hingga masuk waktu maghrib. Lihatlah bagaimana kita biasanya yang sarapan pagi harinya, siang harinya sudah terasa lapar dan kita bersegera makan siang. Kaum muslim pun harus ekstra menahan syahwat termasuk kepada istrinya pada siang hari. Dan ketika perintah berperang (jihad) dijalan Allah datang pada pada bulan suci Ramadhan pun, kaum muslim pun tetap menunaikannya. Pemain sepak bola muslim di Eropa, mereka harus tetap bermain bola pada siang harinya, namun mereka pun tetap bisa bermain bola selama 90 menit walau harus tanpa makan dan minum karena dalam keadaan berpuasa.
Sungguh, Allah lah yang memberikan rasa lapar dan haus, dan Allah pula lah yang memberikan kekuatan dan energi yang kadang diluar kebiasaan kita. Mereka yang bersunguh-sungguh menunaikan kewajibannya, tentu karena tuntutan Aqidahnya. Tuntutan aqidah ini tentu membuat banyak orang melakukan penelitian betapa keberkahan Ramadhan menaungi orang-orang yang menjalankannya walaupun dengan bersusah payah.
Benarlah firman Allah SWT berikut ini, “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”. [TQS. Al-Baqarah: 286]
Dan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku…”. [HR. Turmudzi]
Kaum muslim yang menunaikan apa-apa yang Allah wajibkan atas mereka, hingga mereka pun sanggup untuk melakukannya. Tentu mereka menunaikannya karena diluar kebiasaan manusia, dimana di bulan Ramadhan kaum muslim harus menahan lapar dan haus pada siang harinya dalam kurun waktu 1 bulan penuh. Walaupun mereka tetap melakukan kewajiban yang lain, seperti shalat, puasa, bayar zakat, atau umrah di bulan ramadhan hingga berjihad (berperang) melawan musuh-musuh Allah di bulan Ramadhan. Kaum muslim sanggup tentu karena mereka selalu berprasangka baik kepada Allah yang membuatnya sanggup menahan lapar dan haus selama 1 bulan penuh.
Namun lihat orang-orang yang berprasangka buruk kepada Allah dimana mereka berfikir tidak sanggup menahan lapar dan haus selain menunaikan aktivitas yang lainnya, hingga mereka pun tak berpuasa di bulan Ramadhan, tidak pula menggantinya di bulan-bulan lainnya. Atau mereka yang berhijab di bulan Ramadhan, namun setelah ramadhan mereka membuka hijabnya lagi. Tentu mereka berhijab di bulan Ramadhan, karena tuntutan peran mereka pada suasana ramadhan sebagaimana publik figur, sehingga mereka tak bisa melanjutkan berhijab di bulan-bulan lain setelah Ramadhan. Tuntutan mereka berhijab di bulan Ramadhan karena tuntutan peran, maka mereka pun membuka hijabnya diluar Ramadhan karena mereka harus berperan tanpa hijab bukan tuntutan Aqidah mereka.

Meluruskan Persepsi
Sungguh manusia bergantung pada pemikirannya tentang sesuatu. Maka mari luruskan persepsi kita tentang kewajiban kepada Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Kita yang mencintai sesuatu tentu berbeda sikap kita dengan sesuatu yang kita membencinya. Atau sebaliknya kita respon kita pun akan berbeda dengan sesuatu yang kita tidak memiliki perasaan apapun tentang sesuatu. Kita yang bertemu dengan orang tua kita yang kita cintai tentu berbeda sikap kita jika bertemu dengan orang yang kita benci. Oleh karenanya, luruskan persepsi kita, tentang kewajiban menunaikan perintah Allah karena kebutuhan kita akan ridha dan Syurga-Nya sebagai hamba-Nya. Begitu juga kita meninggalkan apa-apa yang Allah larang, karena kita takut akan azab neraka-Nya di akhirat nanti. Persepsi ini akan mengantarkan kita akan selalu taat terhadap setiap perintah hingga bersegera melaksanakannya dan bersungguh-sungguh meninggalkan larangan-Nya.
Dalam hal ini, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).

Khatimah
Bulan Ramadhan dimana kita bersungguh-sungguh melaksanakan perintah baik ibadah sunnah atau pun ibadah yang difardlukan kepada kita dengan kuantitas lebih banyak, tentu harusnya bisa mempengaruhi ibadah kita di bulan lainnya. Khatam baca al-Qur’an hingga 2 kali atau lebih, shalat sunnah tarawih yang sangat banyak rakaahnya, harusnya mampu kita lakukan di bulan lainnya karena kita tidak sedang berpuasa siang harinya. Bulan Ramadhan dimana kita bisa menjauhi maksiat, harusnya bisa kita lanjutkan berhenti dari maksiat di bulan-bulan setelahnya.
Semoga ramadhan kali ini bisa menjadikan kita lebih baik dari bulan-bulan lainnya. Mari kita memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa-dosa kita, hingga kita meninggalkan ramadhan dalam keadaan tidak berdosa lagi dan penuh dengan amal shalih. Mulai sekarang luruskan persepsi kita kepada Allah dan kita yakin bisa melakanakan perintah Allah setelah ramadhan nanti baik ibadah sunnah maupun yang wajib sebagaimana di bulan Ramadhan.
Allahu’alam bishawab. []MZiS

Related posts