Ramadhan Bulan Pembersih Diri dan Kehidupan

  • Whatsapp

Oleh: Ust. Han Syafarian

Bismillahirrohmaanirrohiim,
Assalamu alaykum. Wr. wb
Alhamdulillahi Rabbi al-alamin, segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah swt, Tuhan semesta alam. Dialah Dzat yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi janji dan akan memenuhi janjinya, yang mengancam dan akan memenuhi ancamannya. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Sayyid al-anbiya wa al-mursalin, Rasulullah saw, beserta keluarga, para sahabatnya dan seluruh pengikutnya yang selalu istiqomah hingga datangnya hari akhir.

Tanpa terasa kita sudah berada di penghujung pertengahan bulan Ramadhan 1438 H, dan tentunya sebagai kaum muslimin kita sangat berbahagia masih bisa bersama pada bulan yang penuh ampunan ini, dan berharap setelah Ramadhan selesai nanti kita bisa seperti terlahir kembali sebagaimana seorang bayi tanpa membawa dosa. Kemuliaan, keberkahan, ampunan juga pahala yang berlimpah tidak hanya didapat oleh seorang muslim hanya dengan menjalankan ibadah puasa saja, namun yang paling penting adalah manakala seorang muslim menjalanakan seluruh perintah dan larangan Allah SWT, karena puasa hanyalah salah satu dari banyaknya perintah yang diturunkan Allah SWT, dan puasa itu sendiri adalah Perisai. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Puasa itu perisai, maka janganlah berkata keji dan jahil” (HR. Bukhari).
Yang dimaksud dengan ‘puasa sebagai perisai (junnah)’, adalah puasa menjadi pelindung dan pencegah diri dari berbagai perbuatan dosa. Adapun jahil (al-jahlu) dalam hadits itu bermakna perbuatan tidak pantas yang tidak berlandaskan ilmu, atau sia-sia. Bila seorang muslim telah melakukan hal-hal demikian, maka barulah ia layak mendapatkan berbagai keutamaan-keutamaan Ramadhan yang telah dijanjikan Allah SWT. Intinya, dengan bulan Ramadhan ini Allah menginginkan seorang muslim melakukan pembersihan diri (tazkiyatun nafs). Syahwatnya Allah minta untuk dikendalikan, jangankan kepada wanita yang bukan haknya, istrinya yang sah sekalipun tidak boleh ia datangi di siang hari saat Ramadhan. Begitupula makan dan minum yang halal pada bulan lain, harus ia jauhi selama berpuasa. Dengan begitu akan bersihlah dirinya dari berbagai hawa nafsu yang dapat merusak kepribadiannya.
Orang yang berpuasa juga diperintahkan menjaga lisan dan perbuatannya dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, apalagi yang mungkar. Kecuali perkataan yang haq seperti contonya mengoreksi penguasa yang zhalim dan mengingatkan umat akan kezhalimannya. Disisi lain ia pun diperintahkan untuk menghidupkan berbagai ibadah, seperti tadarrus al-Quran, bersedekah, i’tikaf, dan qiyamul lail, sehingga terbentuklah pribadi muslim yang jauh dari kemungkaran dan sebaliknya, senantiasa mendekat bertaqarrub kepada Allah SWT.
Merugilah seorang muslim yang menjalankan shaum Ramadhan dengan hanya sekadar menahan lapar dan haus, akan tetapi tidak membersihkan dirinya dari segala kemaksiatan. Allah SWT tidak membutuhkan puasa seseorang yang hanya menahan lapar dan dahaga tapi masih bergumul dengan perkataan dan perbuatan keji: “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan keji dan perbuatannya, maka tidaklah Allah membutuhkan perbuatannya meninggalkan makanannya dan minumannya” (HR. Bukhari).
Dengan Ramadhan ini, Allah tidak saja menginginkan seorang muslim membersihkan dirinya dari segala kemaksiatan pribadi, akan tetapi menghendaki agar seorang muslim pun bisa melepaskan diri dari sistem kehidupan yang penuh dengan kemungkaran. Karena kerusakan masyarakat saat ini yang terjadi di semua sektor, dikarenakan oleh sistem yang rusak yakni sistem atau aturan yang memisahkan kehidupan dari agama (Fash ludin ‘anil hayah). Bukan sekadar ditimbulkan oleh penyimpangan perilaku perorangan. Misalnya fakta yang terjadi, tata pergaulan pria-wanita yang liberal membuat banyak wanita merasa bebas mengumbar aurat, selain juga menyuburkan perzinaan. Ironinya di sepanjang Ramadhan perzinaan masih saja terus terjadi, banyak pasangan yang digerebek aparat tengah melakukan perbuatan mesum. Sistem ekonomi kapitalis dan liberal juga telah melegalkan produksi dan peredaran minuman keras yang menghancurkan bangsa. Menurut catatan Gabungan Industri Minuman Malt Indonesia (GIMMI), orang Indonesia mengonsumsi ratusan juta liter bir pertahun. Bahkan di Indonesia angka kematian akibat miras mencapai puluhan orang per hari, kalkulasi pertahun bisa mencapai puluhan ribu orang.
Kapitalisme juga telah merusak nuansa ibadah Ramadhan. Demi rating dan iklan, para pemilik televisi swasta justru menayangkan acara-acara Ramadhan yang tidak ada hubungannya dengan ibadah. Jika adapun lebih banyak mengedepankan sisi hiburan dan senda guraunya saja, bahkan sarat dengan perkataan yang tidak mendidik. Ironinya ada saja para ustadz yang juga ikut terseret dalam arus entertainment yang menodai dakwah dan ibadah Ramadhan. Sementara itu sistem pemerintahan demokrasi yang berlaku di tengah-tengah umat, termasuk selama Ramadhan ini, telah menciptakan berbagai problematika kemungkaran yang diperbuat oleh para politisi dan pejabat negara. Perkataan penguasa & politisi sering berbeda dengan perbuatannya alias hipokrit.
Misalnya, ada pemimpin yang menjanjikan jutaan lapangan pekerjaan namun faktanya ratusan pribumi di PHK dan mengirim ribuan calon pekerja dari negara Cina. Pemimpin itu berjanji tidak akan menambah hutang negara oleh karena itu banyak subsidi yang dicabut, namun faktanya dalam waktu yang singkat hutang negara mencapai Rp4.000 trilliun. Bahkan hutang yang dibuat oleh era pemimpin sekarang sama jumlahnya dengan era pemerintahan Presiden Soeharto yang butuh waktu 30 tahun, namun dikemanakan hutang-hutang tersebut? Negara melepas tanggung jawabnya dibidang kesehatan, bahkan sebetulnya adalah pemalakan yang dilakukan penguasa atas nama BPJS. Pemimpin juga berjanji untuk tidak menaikkan harga BBM, namun faktanya subsidi BBM dicabut bahkan bukan hanya BBM, subsdi listrik pun dicabut. Belum lagi pencabutan subsidi premium, gas dan LPG yang semua itu berdampak pada naiknya harga kebutuhan pokok. Sedangkan pendapatan warga tidak mengalami kenaikan, sehingga terjadi inflasi yang tinggi. Tapi anehnya rakyat disuruh bersabar dan berjuang sendiri, sedangkan para penguasa asyik menikmati segala fasilitas mewah yang disiapkan oleh Negara. Pemimpin juga berjanji tidak akan memprivatisasi/menjual perusahaan negara, namun faktanya beberapa BUMN akan dijual ke pihak asing. Bahkan sumber daya alam kitapun 90 % telah dikuasai asing seperti tambang emas di Papua, tambang minyak di Cepu dan Kalimantan, serta yang lain-lainnya.
Di lembaga legislatif tidak jauh berbeda, bahkan sebagian anggota DPR sibuk dengan urusannya sendiri disaat kondisi rakyat tercekik. Bahkan lebih dari 50 undang-undang yang akan mereka sahkan pun kerap pesanan atau titipan pihak asing dan hanya berpihak kepada para pemilik modal/pengusaha. Sudah tidak ada lagi rasa malu dan benarlah kata Rasulullah bahwa suatu saat umat akan dipimpin oleh Ruwaibidhah (orang-orang yang hakikatnya zhalim/bodoh namun memiliki kekuasaan untuk mengurusi umat).
Oleh Karena itu, selain melakukan amal membersihkan diri melalui ibadah Ramadhan, kaum muslimin juga harus melengkapinya dengan upaya membersihkan sistem ini dari segala kemungkaran. Pangkal dari semua kemungkaran yang kini terjadi dan ini adalah kemungkaran terbesar (umul jaro’i), yaitu mengabaikan penerapan dan pelaksanaan syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penerapan sistem selain Islam dalam bernegara ini telah merusak kehidupan umat di semua lini, hingga ibadah pun turut dirusaknya. Inilah akibat ditinggalkannya syariat Islam. Padahal jelas-jelas Allah telah menunjukkan kepada umat manusia jalanNya yang lurus agar manusia tidak tersesat: “Dan sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), yang akan memecahbelahkan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa” (TQS. al-An’am [6]: 153).
Hendaknya kita taat kepada Allah dalam semua perintah dan laranganNya! Ketaatan adalah pangkal dari keberkahan dan kemuliaan hidup. Sedangkan pembangkangan hanya akan mengantarkan kepada mafsadat yang besar. Bukankah tujuan kita berpuasa adalah agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa..? Hendaknya kita taat kepada Allah dan tidak memilah/memilih perintah dan laranganNya! Bila kita bisa demikian bersemangat mengerjakan puasa, Shalat Tarawih dan Tadarrus al-Quran, mengapa kita tidak bersemangat menjawab panggilan Allah untuk bersegera menerapkan syariat Islam dalam semua aspek kehidupan termasuk berbangsa dan bernegara yakni dengan menegakkan daulah Khilafah? Atau apakah kita lupa dengan salah satu ayat alquranNya yang mungkin sedang kita tadaruskan dibulan ini: “Apakah kamu beriman kepada sebahagian kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”(TQS. al-Baqarah: 85).
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi sekaligus menundukkan diri kita kepada segenap perintah dan larangan Allah. Orang-orang yang lulus dalam berpuasa adalah mereka yang ikhlas mengikuti hukum-hukum Allah dengan tanpa pengecualian. Mereka pun bersabar melaksanakan semua syariat Allah SWT dan yakin bahwa tidak ada aturan yang terbaik melainkan yang diturunkan Allah bagi umat manusia. Bukankah kita ingin seluruh amal ibadah puasa diterima sepenuhnya oleh Allah dan dibalas dengan pahala yang berlipat-lipat? Maka jadikanlah ibadah puasa Ramadlan sebagai sarana untuk membersihkan diri dari segala kemungkaran dan membersihkan sistem kotor ini untuk kita gantikan dengan syariat Islam dalam bingkai Daulah KhilafahIslamiyah. Serta memperjuangkan tegakknya kembali apa yang telah menjadi janji Allah SWT dan berita gembira dari Rasulullah SAW dengan kembalinya Khilafah ala minhajin nubuwah. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. [**]

Related posts