Ramadhan Bulan Menundukan Lisan

  • Whatsapp

Oleh : Mahbub Zarkasyi

Kita sudah berada di pekan terakhir Ramadhan 1438 Hijriyah. Terasa begitu sedikit amal bagi kaum muslim yang terus meningkatkan amal ibadahnya. Namun Ramadhan menjadi bulan yang begitu berat bagi kaum muslim yang tak berusaha menjadi insan yang bertaqwa sebagaimana hikmah Shaum Ramadhan. Di penghujung Ramadhan ini, pantas lah untuk bersedih, ketika sedikit amal yang dirasakan ketika menggapai malam Lailatul Qadar dimana bulan yang lebih baik daripada seribu bulan. Sayang, tentu sangat disayangkan ketika amal dilipatgandakan semalam yang bagai ibadah lebih dari 83 tahun tersebut.
Lisan manusia sering menjadi ancaman ketika banyak menceritakan aib muslim lainnya. Dosa lisan bisa menjerumuskan seorang yang beriman kedalam dasar neraka Jahannam. Lisan merupakan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Lisan merupakan anggota badan manusia yang cukup kecil jika dibandingkan anggota badan yang lain. Akan tetapi, ia dapat menyebabkan pemiliknya ditetapkan sebagai penduduk surga atau bahkan dapat menyebabkan pemiliknya dilemparkan ke dalam api neraka. Biarpun tidak memiliki tulang tapi ia bisa menusuk sampai ke hati manusia. Bahkan tidak sedikit karena lisan manusia bisa membunuh orang lain karena menghina, mengejek, merendahkan orang lain yang membuat pelaku tersakiti.
Hati yang tidak mengenal dengan Rabbnya, tidak melakukan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkanNya, dicitaiNya dan diridhaiNya. Bahkan selalu memperturutkan nafsu dan syahwatnya serta kenikmatan dan hingar bingarnya dunia, walaupun ia tahu bahwa itu amatlah dimurkai oleh Allah dan dibenciNya. Akan mudah terpengaruh untuk berkata tidak baik. Ia tidak pernah peduli tatkala memuaskan diri dengan nafsu syahwatnya itu diridhaiNya atau dimurkaiNya, dan ia menghambakan diri dalam segala bentuk kepada selain Allah. Apabila ia mencintai maka cintanya karena nafsunya, apabila ia membenci maka bencinya karena nafsunya, apabila ia memberi maka itu karena nafsunya, apabila ia menolak maka tolakannya atas dasar nafsunya, maka nafsunya sangat berperan dalam dirinya, dan lebih ia cintai daripada ridha Allah. Ia juga akan berbicara berdasarkan hawa nafsunya bukan lagi berdasarkan aqidah yang diyakini.
Dengan demikian maka hendaklah seorang mukmin menghindari dan jauhkan dari ucapan yang tidak berguna seperti berdusta, suka mengadu domba, ucapan yang keji, ghibah, namimah, suka mencela, bernyanyi, menyakiti orang lain dan lain sebagainya. Itu semua merupakan racun-racun hati sehingga apabila seseorang banyak melakukan seperti ini maka hati akan teracuni dan bila hati sudah teracuni maka lambat laun, cepat atau lambat akan mengakibatkan sakitnya hati, semakin banyak racunnya akan semakin parah penyakit dalam hatinya, dan kalau tidak tertolong akan mengakibatkan mati hatinya. Matinya hati akan rusak lisan dalam berbicara. Maka barangsiapa yang menginginkan hatinya menjadi hati yang selamat hendaklah membersihkan diri dari racun-racun hati, kemudian dengan menjaganya tatkala ada racun hati yang berusaha menghampirinya, dan apabila terkena sedikit dari racun hati bersegeralah untuk menghilangkannya dengan taubat dan istighfar.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya setiap muslim memperhatikan apa yang dikatakan oleh lisannya, karena bisa jadi seseorang menganggap suatu perkataan hanyalah kata-kata yang ringan dan sepele namun ternyata hal itu merupakan sesuatu yang mendatangkan murka Allah Ta’ala. Perkataan seorang muslim hendaklah dipikirkan terlebih dahulu sebelum diucapkan, ia harus bertanya dalam dirinya, apakah perkataan saya mengandung kebaikan atau justru sebaliknya ? oleh karena itu, kita tidak boleh asal bicara, asal bunyi, asal berkomentar lebih baik jika tak bisa berbicara baik lebih baik diam, itulah diam adalah emas.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah perkataan yang baik atau jika tidak maka diamlah.”(Muttafaqun ‘alaihi)
Hadits ini menjelaskan bahwa jika kita betul-betul beriman kepada Allah dan hari akhir hendak berpikir dulu sebelum berbicara. Bayangkan hadits ini menjelaskan berbicara dikaitkan dengan beriman kepada Allah dan hari akhir. Artinya perkara ini sangat penting diperhatikan muslim agar berkata harus mengandung manfaat dan kebaikan bagi manusia. Imam Asy-Syafi’i menjelaskan makna hadits di atas adalah, “Jika engkau hendak berkata maka berfikirlah terlebih dahulu, jika yang nampak adalah kebaikan maka ucapkanlah perkataan tersebut, namun jika yang nampak adalah keburukan atau bahkan engkau ragu-ragu maka tahanlah dirimu (dari mengucapkan perkataan tersebut).” (Asy-Syarhul Kabir ‘alal Arba’in An-Nawawiyyah)
Bahkan Rasulullah SAW bersabda dari riwayat yang lain: “Barangsiapa yang dapat memberi jaminan kepadaku dari apa yang ada di antara jenggot dan kumisnya (lisan) dan kedua pahanya (kemaluan), maka aku jamin untuknya Surga.” (HR. Al-Bukhari). Hadits ini memberikan jaminan kepada muslim bila mereka menjaga lisan dengan baik tidak menyakiti perasaan orang maka jaminan surga. Tapi sesuatu yang ada jaminan berupa surga tentu tidak mudah mendaptkannya karena tantangan dan godaan iblis lebih besar pula agar kita tergelincir dalam berbiacara. Istiqamah menjaga lisan dari kebaikan harus senantiasa kita jaga. Apapun bentuk untuk memancing diri kita untuk berkata kotor atau buruk harus betul-betul kita kontrol diri. Jangan sampai lepas kontrol justru akan merugikan diri dan menghinakan diri kita.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” Oleh karena itu, termasuk di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia menjaga lisannya dan meninggalkan perkataan-perkataan yang tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya atau bahkan perkataan yang dapat mendatangkan bahaya bagi dirinya. Pertanyaan dalam diri kita, sudahkah kita menjaga lisan dari perkataan buruk? berapa banyak perkataan kita mungkin telah banyak menyakiti perasaan orang lain? sudahkah kita memaksimalkan lisan kita dalam rangka mengajak orang lain dalam kebaikan atau sebaliknya?

Khatimah
Semoga bulan Ramadhan tahun 1438 Hijriyah ini menjadi bulan untuk kita melatih diri berpuasa dari perkataan buruk, mendidik kita senantiasa dalam kehidupan keseharian untuk berbicara baik. Agar perkataan kita senang dinanti orang disekitar, karena ciri seorang muslim yang baik adalah lisan terjaga dari perkataan buruk.
Allah Swt berfirman dalam surat Fushshilat ayat 33 “ siapakah perkataan yang lebih baik daripada orang mengajak kepada Allah dan beramal sholih dan berkata, “ bahwasanya aku termasuk orang – orang berserah diri ( muslim )” . hendaklah kita diberikan nikmat lisan oleh Allah kita gunakan dalam rangka mengajak manusia kepada jalan Allah. Bayangkan bila orang lain dari kemaksiatan menuju kepada ketaatan asbab lisan kita, alangkah banyaknya pahala akan kita dapatkan ditambah lagi orang tersebut mengajak orang lain. Inilah pahala multilevel yang akan kita dapat. Semoga kita termasuk muslim senantiasa menjaga lisan kita dimanapun dan kapanpun. Aamiin… Aamiin… Yaa Rabbal’Aaalamiin.
Wallahu’alam bishawab []MZiS

 

Related posts