Ramadhan Bulan Berbakti Ke Orang Tua

  • Whatsapp

oleh: Mahbub Zarkasyi

Assalamualaikum Wr. Wb

Hampir dua pekan kita melalui Ramadhan tahun 1438 Hijriyah. Keseriusan menjalankan ibadah bulan Ramadhan sebagai momentum melatih diri agar terbiasa bertaqwa. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dari hadits Abu Hurairah Ra yang diriwayatkan dalam kitab ash-Shahiihain:
“Puasa itu adalah perisai, jika suatu hari salah seorang diantara kalian dalam keadaan berpuasa, maka hendaknya dia tidak berkata kotor dan berteriak-teriak. Jika seseorang mencela dan mencacinya, hendaknya ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’ Sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: “Puasa adalah perisai,” maknanya bahwa puasa memelihara pelakunya dari adzab Neraka pada hari Kiamat, puasa memeliharanya dari hawa nafsu dan kemungkaran dalam kehidupan dunianya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah membimbing orang yang berpuasa untuk meninggalkan perkataan kotor dan keji, perbuatan-perbuatan yang buruk serta meninggalkan emosi kemarahan. Dan akhlak pelaku puasa yang mulia ini akan membantunya meraih derajat takwa.
Kesempatan bagi setiap muslim untuk melipatgandakan investasi pahalanya di sisi Allah, salah satunya amal kita di bulan Ramadhan. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaki dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadhan bernilai seperti amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadhan. Raihlah setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya ‘sekadar’ tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi dan inovasi dalam berbuat kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah.
Dan salah satu ibadah teragung di dalam Islam setelah mentauhidkan Allah adalah berbakti kepada orang tua. Ketahuilah, sungguh bahwasanya berbakti kepada orang tua hukumnya adalah wajib, fardhu ‘ain. Tak peduli siapa orangtua kita, pekerjaannya, kehidupan sehari-harinya. Yang kita panggil ayah atau ibu, mama atau papa di rumah. Merekalah orang tua kita. Pernahkah terbayang dalam benak kita, saat kita sedang berada dalam perut ibu, betapa susahnya ia membawa kita kemanapun ia pergi? Namun sekalipun ia tak pernah mengeluh, ada makhluk lain yaitu kita sendiri dalam perutnya.
Pernahkah terbayang dalam benak kita? Ayah atau bapak setiap hari bekerja tak kenal lelah. Ia banting tulang mencari uang hanya untuk membiayai hidup kita. Agar kita bisa makan dan sekolah dengan enak. Betapa beratnya beban dan tanggung jawab yang ada pada pundak-pundak mereka? Sungguh Allah SWT telah berfirman dalam Al-quran surat Luqman ayat 14: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbakti) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang betambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurklah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah tempat kembalimu.”
Ada suatu kisah, menceritakan tentang tiga orang yang terjebak di dalam goa. Diantara ketiga orang tersebut adalah satu orang yang bertawasul, berdoa dengan menggunakan perantara berbakti kepada kedua orang tuanya. Dia berkata, “Ya Allah, aku memiliki orangtua yang sudah lanjut usianya dan aku tidak pernah memberikan minum kepada siapapun sebelum keduanya minum, baik dari keluargaku dan hamba sahaya yang aku miliki. Pada suatu hari aku mencari kayu dan daun-daunan untuk makan ternak di tempat yang amat jauh.
Aku belum bisa pulang menemui kedua orangtuaku hingga mereka tertidur. Setelah itupun aku masih memerah susu untuk keduanya, dan saat aku menemui keduanya untuk memberikan minuman tersebut ternyata kedua masih tertidur lelap. Aku tidak bisa membangunkan mereka dan memberikan minuman tersebut kepada siapapun sebelum kedua orangtuaku meminumnya, sekalipun untuk keluarga dan hamba sahayaku. Aku tetap menantikan bangun keduanya dengan gelas itu dan tetap ada di tanganku, hingga fajar menyingsing, di saat itulah anak-anak kamu menangis karena lapar. Maka, setelah keduanya bangun dari tidurnya lalu merekapun meminumnya. ‘Ya Allah, jikalau aku yang mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keridhaan-Mu, makan lapangkanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutup ini.” Kemudian batu besar itupun tiba-tiba terbuka sedikit.
Sepenggal kisah di atas patut kita teladani. Hal tersebut merupakan contoh konkrit bagaimana seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya dengan cara tidak memberikan minum kepada siapapun sebelum orangtuanya minum. Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ajaran berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan Islam menjadikan berbakti kepada kedua orang tua sebagai sarana meraih Surga Allah. Sungguh sangat rugi dan celaka seorang muslim yang mendapati kedua orangtuanya masih hidup namun tidak bisa mengantarkannya kepada surga.
Berbuat baik kepada orang tua dalam Islam bersifat mutlak. Artinya andaikata ada diantara kita yang kedua orang tuanya kebetulan berbeda agama, Al-Qur’an tetap mengajarkan untuk berbuat baik kepada keduanya. Artinya, berbuat baik kepada kedua orang tua itu tidak didasarkan atas kesamaan agama, tetapi lebih karena jasa-jasa baik keduanya terhadap perkembangan dan jati diri kita. “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q, s. Luqman / 31:15).
Dalam rangka berbuat baik kepada kedua orang tua tersebut, Al-Qur’an mengajarkan agar kita berdo’a: “Ya Tuhanku, berilah rahmat kepada kedua orang tuaku, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di waktu kecil.” (Q, s. al-Isra’/17:24). Maka, barangsiapa yang durhaka kepada kedua orang tua, Allah akan melaknatnya, dan mengharamkan surga baginya. “Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pula pada kemurkaan kedua orang tua.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
Diriwayatkan oleh Imam Ahlus Sunan kecuali Imam At Tirmidzi dengan sanad yang shohih hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiallohu ‘anhu beliau berkata : telah datang seseorang menghadap kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata : Saya datang menghadapmu membai’atmu untuk hijrah, sementara aku tinggalkan kedua orang tuaku menangis. Maka Nabi Shollallahu ‘alahi wasallam bersabda : “Kembalilah kepada kedua orang tuamu, lalu buat keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuatnya menangis.”
Hadits berikutnya yang terdapat dalam dua kitab shohih, shohih Bukhari dan Muslim hadist dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Seseorang mendatangi Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya : Wahai Rasulullah..siapa manusia yang paling berhak aku per-lakukan dengan baik? Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Ibumu”, Dia bertanya lagi : “Kemudian siapa?” Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Ibumu”, Dia bertanya lagi : “Kemudian siapa?” Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Ibumu”, Dia bertanya lagi : “Kemudian siapa?” Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Ayahmu”.
Hadits diatas menunjukkan kepada kita bahwa hak seorang ibu untukdiperlakukan dengan baik tiga kali lipat dibandingkan dengan seorang ayah, karena ibu telah : Mengandung ; Melahirkan dan Menyusui kita, adapaun Ayah bersama dengan ibu dalam mendidik kita. Dalam hadits yang shohih dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ada tiga orang yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat : 1. Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, 2. Wanita yang menyerupai laki-laki, 3. Dayyuts; Suami yang tidak cemburu ketika melihat dan mengetahui istrinya bermaksiat. Ada tiga orang yang tidak akan masuk surga : 1. Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, 2. Pecandu minuman keras, 3. Orang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya. [Diriwayatkan oleh Imam An Nasa’i, Imam Ahmad dan Al Hakim]
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Mua’dz bin Jabal Ra, beliau berkata : Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah mewasiatkan kepadaku sepuluh perkara [diantaranya] Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Jangan pernah menyekutukan Allah, meskipun engkau dibunuh dan dibakar!” “Jangan pernah durhaka kepada kedua orang tua, meskipun keduanya menyuruhmu untuk meninggalkan keluarga dan hartamu!” Wallahu’alam bishowab (MziS)

Related posts