by

Ramadhan, Buka Puasa Bersama & Kajian Sosiologis dalam Perspektif Modal Sosial

Oleh: Berlian Saputra
Humas Karang Taruna Desa Jelutung Kecamatan Namang/Alumni Sosiologi FISIP UBB

Berlian Saputra

Ramadhan tak lepas dari buka puasa. Ramadhan juga sebagai bulan berbagi dengan saudara muslim. Maka dari itu, tak heran kalau buka puasa tak boleh ditunda-tunda. Kalau waktu berbuka telah tiba, saatnya santap makanan dalam keadaan tidak berlebihan, untuk mengembalikan energi tubuh secara cepat.
Buka puasa adalah kegiatan yang dilakukan untuk makan saat waktu Maghrib tiba pada waktu bulan Ramadhan, dimulai dari waktu fajar (Subuh) sampai waktu Maghrib ketika berpuasa. Momentum buka puasa merupakan hal yang dinanti-nantikan oleh setiap individu atau masyarakat yang sedang berpuasa, untuk membatalkan dengan makan/minum yang manis. Bahkan, sudah menjadi tradisi menjelang bulan suci Ramadhan. Berbagai hidangan makanan/minuman yang tertata dengan rapi dapat meyakinkan untuk menyantapnya bagi yang berpuasa. Tak lupa pula, suguhan susunan acara buka puasa bersama menjadi lebih menarik dengan diisi tausiyah atau ceramah agama selama beberapa menit. Lingkungan yang nyaman dan asri menjadi faktor pendukung.
Sebagai umat muslim, tentunya tak asing lagi dengan istilah buka puasa bersama atau yang disingkat dengan kata “bukber”. Buka puasa bersama menjadi suatu kegembiraan bagi kita semua yang merasa umat muslim. Apalagi buka puasa bersama sebagai ajang untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan reuni yang dilaksanakan dengan keluarga besar, teman sekolah/kuliah sambil reuni, rekan kerja, anak yaitm, kaum dhuafa, dan lainnya dengan perayaan yang istimewa dibandingkan dengan waktu buka puasa yang ala kadarnya saja atau cukup sederhana. Karena apa? Dengan buka puasa bersama, menjadikan insan yang solid dan memperkuat kekuatan sosial. Disitulah kita dapat mengambil makna yang tersembunyi dengan adanya buka puasa bersama. Jika buka puasa hanya dengan sendirian, tak enak rasanya bila ada yang menemani kita, bahkan cenderung suasana yang masih sepi. Oleh karena itu, harus membangkitkan rasa gairah dalam kebersamaan.
Berkaitan dengan hal di atas, Penulis coba akan mengaitkan dengan kajian sosiologis dalam perspektif modal sosial. Modal sosial merupakan relasi, jaringan, kepercayaan, yang ada dilingkungan masyarakat untuk membentuk suatu integrasi dalam mencapai tujuan tertentu. Terlebih lagi, relasi, jaringan, dan kepercayaan tak lepas peran dari modal sosial untuk menciptakan hubungan sosial yang erat di mata masyarakat. Artinya, seringkali setiap bulan Ramadhan, dilaksanakanlah ajang buka puasa bersama di tempat yang telah ditentukan dengan suasana yang begitu meriah dan kebersamaan. Dengan tujuan yaitu untuk menumbuhkan rasa semangat persaudaraan, membentuk solidaritas sosial (ukhuwah Islamiyah), membangun silaturahmi, dan membangun toleransi antar muslim serta umat beragama lainnya. Ketika semua ini telah tercakupi atau sudah melengkapi, maka individu atau masyarakat mudah menerima dalam bentuk apapun.
Penulis memberikan contoh yang terjadi selama buka puasa bersama. Salah satu contoh sederhana yaitu berbagi atau tukar makanan dengan teman, saudara keluarga, bahkan tetangga, sehingga terjalin interaksi sosial dalam bentuk balas budi dan saling merasakan makanan yang dimakan. Contoh lainnya adalah ikut buka puasa bersama dengan teman sesama muslim meskipun dirinya bukan muslim. Hikmah dari contoh tersebut? Yaitu adanya saling menghargai dan saling toleransi yang membentuk ikatan jaringan dan kepercayaan. Dan juga ikut merasakan bagaimana berpuasa dan suasana buka puasa bersama. Hal inilah yang menimbulkan rasa ingin tahu yang tinggi. Yang terpenting bagi kita adalah menjalani dengan kegembiraan, baik sesama muslim maupun antar umat beragama.
Jadi, momentum buka puasa bersama dapat membentuk sebuah modal sosial dilingkungan masyarakat dengan adanya relasi, jaringan, kepercayaan yang dapat menyatukan agar terciptanya suasana persaudaraan dan keharmonisan. Begitulah realita dalam menjelang berbuka bersama, semua orang yang berpuasa tak mau melewatkan atau menolak hal-hal yang seperti ini, apalagi diadakan satu kali dalam setahun selama bulan Ramadhan. Berbagi adalah suatu bentuk terjalinnya modal sosial di bulan Ramadhan. Sehingga dijuluki sebagai bulan solidaritas sosial, melakukan kegiatan positif, dan menyantuni kaum-kaum yang kurang mampu. (****).

Comment

BERITA TERBARU