Ramadhan ala Rasulullah SAW

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi

Mahbub Zarkasyi

Alhamdulillah hari ini kita sudah dihari ketiga Ramadhan 1438 Hijriyah. Semoga dipekan pertama Ramadhan ini kita terus konsisten mengejar rahmat dan ampunan-Nya. Untuk lebih memaksimalkan Ramadhan ini, tentu kita perlu tips Ramadhan ala Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam memanajemen ibadah dan nalurinya. Sebelum memasuki Ramadhan, sejak bulan Rajab kaum muslim telah banyak diajarkan doa oleh asatidz (ustadz-ustadz) agar sampai di bulan Ramadhan.
Tips pertama, bagaimana umat terbaik Sang Suri Tauladan kita mengajarkan saat memasuki Ramadhan. Saat hilal muncul di ufuk pertanda Ramadhan tiba, Rasul dan para Sahabat melihat dan menyambutnya dengan suka cita sambil membacakan doa seperti yang diceritakan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dalam hadits berikut, yang artinya :
“Dari Ibnu Umar dia berkata: Bila Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melihat hilal (anak bulan) dia berkata: Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikanlah hilal ini bagi kami membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan taufik kepada yang dicintai Robb kami dan diridhai-Nya. Robb kami dan Robbmu (hilal) adalah Allah.” (HR. Addaromi).
Alhamdulillah, di bumi nusantara ini banyak wilayah kaum muslim mampu melihat hilal dengan jelas. Memasuki Ramadhan pun kita bisa bersama baik dengan metode hisab saja, ru’yat lokal maupun ru’yat global, sehingga kaum muslim bisa memasuki Ramadhan bersama-sama di seluruh penjuru dunia. Semoga keyakinan, pikiran dan perasaan kita akan kerinduan hati Allah Subhanahu wa ta’ala kabulkan dengan mendapatkan keutamaan bulan Ramadhan. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan tahun ini bisa kita tunaikan dengan tulus dan ikhlas sehingga kita meraih rahmat dan ampunan-Nya.
Kedua, ketika memasuki Ramadhan, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para Sahabat sejak hari pertama hingga akhir Ramadhan fokus meningkatkan amal ibadahnya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para Sahabat mengendalikan berbagai naluri syahwat dengan menahan diri dari naluri baqa’, maupun keinginan-keinginan seperti syahwat perut (makan dan minum), syahwat kemaluan dan semua difokuskan pada memperbanyak beribadah serta mengingat Allah, menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kehidupan dunia. Latihan mengendalikan dan menundukkan berbagai syahwat ini dilakukan sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Inilah inti Shaum (puasa) Ramadhan yang diwajibkan Allah.
Apakah setelah sepanjang hari bergulat dengan dorongan-dorongan berbagai syahwat tersebut malam harinya digunakan untuk istirahat, makan, minum dan sebagainya? Ternyata tidak. Di malam harinya Rasulullah dan para Sahabat memanfaatkannya untuk qiyam (berdiri beramal ibadah) seperti Shalat Taraweh, berzikir, membaca dan Tadabbur Al-Qur’an hingga mengerjakan berbagai ibadah lainnya. Artinya, selama Ramadhan, Rasul dan para Sahabat benar-benar menfokuskan diri bertaqorrub kepada Allah melalu training manajemen syahwat dan sekaligus training manajemen ibadah. Dua hal inilah yang harus dimiliki oleh setiap hamba yang ingin mendapat ridha Allah di dunia dan bertemu dengan-Nya di syurga.
Aisyah meriwayatkan: “Rasulullah adalah orang yang paling dermawan. Di bulan Ramadhan Beliau lebih dermawan lagi ketika bertemu Jibril. Jibril menemui Beliau setiap malam Ramadhan untuk mengajarkan (mudarosah) Al-Qur’an. Sebab itu, kederwawanan Rasul Saw di bulan Ramadhan lebih kencang dari (tiupan) angin.” (HR. Bukhari).
Inilah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika mereka memasuki bulan Ramadhan. Hampir tak satupun syahwat yang tidak dapat mereka tundukkkan dan kendalikan. Tak satupun kebaikan dan amal sholeh yang mereka tinggalkan. Ramadhan benar-benar menjadi sistem penyeimbang dalam hidup sehingga mereka berhasil terbebas dari pengaruh syahwat buruk, karena merekalah yang mengendalikannya.
Pada waktu yang sama, mereka berhasil meningkatkan kualitas diri dengan berbagai amal ibadah yang dilakukan dalam rangka taqorrub ilallah. Dengan demikian tercapai janji Rasul Saw, “Siapa yang shaum (puasa) di bulan Ramadhan dan dia mengetahui aturannya (batas-batasnya), dia menjaga apa yang seharusnya dijaga maka akan dihapus dosa-dosa sebelumnya.” (HR. Ahmad dan Baihaqi).
Ketiga, ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan jika meneliti perilaku hidup baginda Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para Sahabat, kita menemukan kekhususannya dan keutamaannya. Apalagi saat memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersama kaum muslim menghabiskan waktunya di masjid. Alhamdulillah, saat ini kaum muslim pun sudah banyak menjadwalkan i’tikaf di 10 malam terakhir. Bahkan banyak juga kaum muslim yang sengaja ke tanah suci Makkah dan Madinah untuk bisa beri’tikaf di sana mengambil 10 malam terakhir Ramadhan.
Walaupun masih banyak kita melihat potret kehidupan kaum muslim yang lain di bulan Ramadhan malah sibuk di kantor dan mengejar harta dunia lainnya. Harta tersebut kemudian untuk dihabiskan pada 10 hari terakhir Ramadhan. Mereka, malah memenuhi sudut-sudut pasar, pertokoan dan mall-mall. Menurut presepsi dan perilaku kebanyakan masyarakat muslim Indonesia, 10 terakhir Ramadhan itu adalah kesempatan berbelanja untuk mempersiapkan keperluan lebaran dan pulang kampung, kendati mengakibatkan harga-harga semua barang naik dan membubung.
Lalu apa yang terjadi? Berbagai syahwat cinta dunia tidak berhasil dikendalikan, dan bahkan cenderung dimanjakan di bulan yang seharusnya dikendalikan. Pada waktu yang sama, semangat beramal ibadahpun tidak terbangun dengan baik, sehingga kehilangan banyak momentum dan keistimewaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.
Coba bayangkan, terhadap janji Allah yang bernama Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari 1.000 bulan saja banyak dari kita yang belum tertarik. Jika tertarik, tentu mereka mengejarnya di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan cara beri’tikaf di dalamnya secara penuh seperti yang dicontohkan Rasul Saw. Ini yang terjadi pada salah seorang teman ketika ditanya kenapa gak jadi i’tikaf? Dia katakan: “Saya sedang sibuk-sibuknya sosialisasi ke daerah.” Lalu saya katakan: “Mana yang lebih mahal menurut Rasulullah, i’tikaf di masjid 10 hari terakhir Ramadhan atau sosialiasi pencalegan Anda? Kemudian Anda bisa jamin umur Anda akan sampai pada 10 terakhir Ramadhan yang akan datang?” Sungguh terkadang kita berlagak seakan lebih pintar, lebih hebat dan lebih sibuk berjuang dari Rasul Saw.

Khatimah
Patutlah kita meneladani kekasih Allah, Rasul yang mulia Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Majah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. beri’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Pada tahun terakhir berjumpa Ramadhan, Beliau i’tikaf selama 20 hari. Kebiasaan I’tikaf ini diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya sepeninggalan baginda.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran penting dari khutbah kekasih Allah Rasul yang mulia baginda Nabi Besar Muhammad SAW, sehingga kita bisa memanfaatkan bulan suci Ramadhan dengan amalan yang diterima disisi-Nya dan terhindar dari amalan yang sia-sia. Semoga dengan memanfaatkan momentum Ramadhan ini menjadikan kita pribadi yang selalu beramal shalih di bulan-bulan lain setelah Ramadhan. Semoga kita menjadi pribadi yang mendatangi Ramadhan dengan dosa yang telah diampuni dan masuk Syurga-Nya tanpa hisab. Aamiin aamiin yaa Rabbal’aalamiin. Allahu’alam bishawab! (MZiS)

Baca Lainnya

Related posts