by

Puskesmas Bergerak, Indonesia Sehat

-Opini-90 views

Oleh: Beiti Lestari
Mahasiswi Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat UNSRI

Undang – Undang RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyebutkan, pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Indonesia belum mencapai maksimal pembangunan kesehatan tersebut.
Masyarakat belum terbiasa dengan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. Masyarakat sekarang sangat suka makan makanan yang instant dan makanan yang mengandung lemak tinggi. Tidak dapat dimungkiri bahwa Indonesia memang kaya akan sumber daya alam yang membuat masyarakat tebiasa dengan makanan yang berlemak.
Seiring berkembangnya zaman, perilaku masyarakat berpindah yang lebih mengacu kepada perilaku instant. Dalam konteks ini, bukan berarti makan makanan yang berlemak dan makanan instant tidak diperbolehkan, akan tetapi porsinya tidak berlebihan dan juga harus diimbangi dengan makanan yang mengandung serat dan melakukan aktivitas fisik. Hal ini merupakan tantangan bagi petugas pelayanan kesehatan untuk mengubah perilaku masyarakat. Apalagi sekarang Indonesia menghadapi dua masalah kesehatan sekaligus akibat transisi pola penyakit yaitu penyakit infeksi dan penyakit noninfeksi.
Penyakit infeksi yang paling banyak diderita masyarakat yaitu diare, yang disebabkan oleh masuknya bakteri e.coli kedalam tubuh dikarenakan sanitasi lingkungan yang kurang, kebersihan tubuh yang rendah, kelembaban tinggi, dan makanan yang tidak sehat. Anak-anak lebih rentan terkena diare karena sistem imun tubuh yang lemah. Diare ini ditandai dengan encernya tinja dan frekuensi buang air besar yang lebih tinggi dibandingkan dengan biasanya. Penyakit ini sering dianggap sepele namun bisa berdampak buruk jika dibiarkan terlalu lama, bahkan bisa menyebabkan kematian.
Berdasarkan data Riskesdas 2018, Prevalensi penyakit diare sebesar 12,3 persen, Prevalensi penyakit ISPA sebesar 4,4 persen, prevalensi malaria sebesar 0,4 persen. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2013, setiap tahunnya terdapat sekitar 1,7 miliar kasus penyakit diare pada anak, dengan angka kematian sekitar 525.000 anak balita. Saat diare, tubuh akan kehilangan banyak cairan.
Hal ini membuat orang yang mengalami diare rentan dehidrasi. Ketika kadar cairan dalam tubuh berkurang, maka keseimbangan ion dalam tubuh juga terganggu. Akibatnya, fungsi organ dan jaringan tubuh tidak bisa bekerja optimal. Apalagi diare sering terjadi pada anak-anak yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah yang berdampak kematian jika tidak ditindaklanjuti.
Dari data riskesdas tersebut juga diketahui bahwa penyakit non infeksi mengalami kenaikan. Prevalensi kanker 1,8 persen, stroke 10,9 persen, penyakit ginjal kronik 3,8 persen, diabetes melitus 8,5 persen, dan hipertensi 34,1 persen. Prevalensi tersebut terus meningkat dikarenakan pola hidup yang tidak baik seperti merokok, minuman beralkohol, jarang berolahraga, serta kurangnya konsumsi buah dan sayur.
Kasus ini bisa diturunkan jika ada kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan petugas pelayanan kesehatan dalam hal ini ialah Puskesmas. Perilaku masyarakat akan perlahan berubah jika terus adanya paparan informasi, ajakan, dukungan untuk mengubah perilaku yang kurang sehat menjadi perilaku hidup bersih dan sehat.
Dari pemerintah sendiri sudah menjalankan program gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS). Program ini bertujuan untuk menekan dan meminimalisir pertumbuhan penyakit infeksi maupun non infeksi. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menerapkan pola hidup sehat seperti melakukan aktivitas fisik, mengkonsumsi buah dan sayur, tidak merokok, tidak mengkonsumsi minuman beralkohol, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, menjaga kebersihan lingkungan, dan menggunakan jamban sehat. Tujuan dari GERMAS diharapkan bisa mengubah perilaku masyarakat dan bisa mengubah paradigma sakit menuju paradigma sehat di masyarakat. Program pemerintah ini sangat bagus jika diterapkan secara maksimal. Inilah tugas Puskesmas untuk melakukan health campaingn ke seluruh masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas tersebut.
Puskesmas memiliki tujuan mewujudkan masyarakat yang sehat secara mandiri, berdaya saing dan berkeadilan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut diperlukan pelayanan kesehatan yang menyeluruh, terpadu, berkesinambungan, dan bermutu bagi masyarakat. Pelayanan kesehatan di Puskesmas harusnya lebih menonjolkan pelayanan promotif dan preventif tanpa menghilangkan kuratif dan rehabilitatif untuk mewujudkan masyarakat yang sehat secara mandiri sesuai dengan tujuannya.
Akan tetapi, jika dilihat sekarang kerja Puskesmas lebih banyak mengarah pada pelayanan pengobatan (kuratif). Hal tersebut bertentangan dengan tugas pokoknya yang harus lebih memfokuskan pada pelayanan promotif dan preventif. Jika Puskesmas lebih condong menerapkan pelayanan kuratif, apa bedanya dengan rumah sakit? Untuk kedepannya diharapkan Puskesmas lebih meningkatkan pelayanan promotif dan preventif.
Menurut hemat Penulis, kinerja Puskesmas akan lebih efektif jika melibatkan masyarakat, karena masyarakat lebih tahu masalah dan kebutuhan kesehatan di wilayah mereka. Tugas dari pihak fasilitator adalah membuat perencanaan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut. Dalam menerapkan program, antara fasilitator dan masyarakat tidak ada tingkatan dalam artian fasilitator, dan masyarakat sebagai partner dalam menyelenggarakan program kesehatan. Dengan begitu masyarakat merasa dibutuhkan dan mau meluangkan waktu, tenaga, serta berbagi informasi.
Kinerja Puskesmas diharapkan kedepannya lebih optimal, peraturan yang lebih ketat bagi para fasilitator untuk bekerja secara maksimal bukan hanya duduk-duduk saja di kantor, dan para tenaga kesehatan diharapkan turun langsung ke tengah masyarakat agar program-program pemerintah dapat terealisasikan dengan optimal.
Mereka juga perlu mengajak masyarakat untuk sering datang ke pusat pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan dini, konseling, dan lain-lain, agar tercipta masyarakat yang mampu dan mandiri serta peduli akan kesehatan diri, keluarga, serta masyarakat. Masyarakat yang sehat akan menciptakan banyak keluarga yang sehat. Keluarga yang sehat akan menciptakan generasi yang sehat dan memiliki sumber daya manusia (SDM). Generasi tersebutlah yang nantinya berdampak besar bagi bangsa dan negara dengan segala kreasi dan inovasi yang dimilikinya. Dengan Puskesmas bergerak, tentu akan menjadikan Indonesia sehat.(***).

Comment

BERITA TERBARU