by

Puluhan Pelajar Janji Tidak Menikah Sebelum Waktunya

Bupati Beltim Yuslih, menyerahkan Piagam Penghargaan kepada perwakilan pelajar di Kabupaten Belitung Timur, usai Program Generasi Berencana (GenRe) di Ruang Rapat Bupati Beltim, Kamis (8/11/2018).(foto: ist).

MANGGAR – Sebanyak 50 orang pelajar SMK dan SMA se Kabupaten Belitung Timur mengucapkan ikrar untuk tidak melakukan pernikahan pada usia dini. Ikar diucapkan dalam acara Program Generasi Berencana (GenRe) di Ruang Rapat Bupati Beltim, Kamis (8/11/2018).

Ikrar yang digagas oleh Kantor Perwakilan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung itu bertujuan menekan jumlah angka pernikahan usia dini di Kabupaten Beltim.

Berdasarkan data BPS Tahun 2017, Provinsi Babel menempati peringkat ke III tertinggi se-Indonesia untuk pernikahan usia dini. Sedangkan Kabupaten Beltim, berada di posisi ke empat setelah Bangka Selatan, Bangka Barat dan Bangka Tengah untuk pernikahan usia dini se-Provinsi Babel.

“Kabupaten Beltim ini masih tinggi angka pernikahan usia dini-nya. Sekarang di posisi ke empat se-Babel,” ungkap Kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, Fajar Supriadi Santosa.

Fajar menyatakan dua penyebab utama tingginya angka pernikahan usia dini di Provinsi Babel adalah masalah sosial budaya dan tingkat pendidikan. Di beberapa daerah seperti khususnya di Pulau Bangka ada masyarakat yang memiliki budaya nikah masal.

“Budaya Kawin Masal di Bangka Selatan itu besar pengaruhanya. Terus pendidikan yang rendah, kalau remaja tidak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dia akan cenderung dinikahkan oleh orang tuanya,” terang Fajar.

Untuk menekan angka penikahan dini tersebut, BKKBN terus melakukan kampanye ke sekolah-sekolah yang ada di setiap Kabupaten/Kota. Selain itu juga melalui konselor BKKBN juga memberikan masukan dan gambaran kepada calon pengantin usia dini tentang kerugian menikah usia dini.

“Begitu ada remaja yang mau nikah, langsung diberikan diajak agar mengurungkan niatnya. Caranya dengan membagikan pengalaman pribadi si konselor tadi,” jelas Fajar.

Angka Pernikahan Dini Berbanding Lurus Dengan Percerian

Sementara itu, Bupati Beltim Yuslih Ihza saat memberikan pemaparan menyatakan tingginya angka pernikahan usia dini juga selaras dengan tingginya angka perceraian di Kabupaten Beltim. Ia menyebut jika pernikahan usia dini salah satu penyebab perceraian.

“Kurang baik, kalau menikah usia dini banyak negatifnya. Salah satunya tinggi resiko perceraian, makanya kalau angka pernikahan dini tinggi, angka perceraian pun ikut tinggi,” sebut Yuslih.

Banyak kasus perceraian diakibatkan karena masing-masing pasangan belum siap membina rumah tangga. Baik itu siap materi, jasmani maupun mental atau kedewasaannya berpikir.

“Namanya juga menikah usia dini, pemikirannya belum matang. Emosi lebih labih, belum ada kerjaan tetap hanya mengharapkan orang tua, belum siap mental,” kata Yuslih

Yuslih pun menekankan bahwa pernikahan seharusnya merupakan proses yang sakral, semuanya harus terencana dengan matang. Ia pun mengajak seluruh pelajar yang hadir untuk mengajak kawan-kawan di sekolah menghindari menikah di usai dini.

“Kepada anak-anak semua, tolong berikan virus kepada kawan-kawan di sekolah atau lingkungan rumah agar menolak menikah usia dini. Apa yang kalian ikrarkan hari ini harus ikut didengungkan ke kawan-kawan lain,” ujar Yuslih.

Dalam ikrar ada empat poin penting yang disepakati dan diikrarkan pelajar dalam aksi GenRe tersebut. Mereka bertekad tidak menikah di usia muda atau akan menikah di usia ideal yakni 21 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk laki-laki, menghindari seks bebas dan penyalahgunaan napza.(yan/3).

Comment

BERITA TERBARU