Puluhan Nelayan Kunjungi Smelter RBT

  • Whatsapp

Diajak Melihat Cerobong Asap Pabrik
Ridwan: Banyak Smelter Bau tak Sedap

SUNGAILIAT – Pabrik peleburan timah (smelter) milik PT Refined Bangka Tin yang berlokasi di Jalan Kawasan Industri Jelitik, Sungailiat Kabupaten Bangka, Jumat (24/11/2017) didatangi puluhan nelayan Parit Pekir. Semula para nelayan ini memprotes bau asap dan debu yang dihasilkan smelter. Namun kemudian diajak mengunjungi seluruh kawasan smelter, termasuk melihat cerobong asap yang awalnya diduga mencemari lingkungan tapi tidak terbukti.
General Manager PT RBT Yuriawan mengakui kedatangan puluhan nelayan tersebut semula untuk memprotes bau asap yang diduga ditimbulkan dari kegiatan produksi pabrik mereka.
Pada kesempatan itu, kata dia pihaknya mengajak perwakilan nelayan berdialog dan melakukan peninjauan terhadap kegiatan produksi didalam perusahaan tersebut.
?”Yang dikomplain asap putih tebal dan saat dilakukan kroscek tadi pagi, tidak terlihat asap tebal putih seperti yang dikeluhkan,” kata Yuriawan.
Memang diakui dia, sebelumnya pihak PPN Sungailiat pernah menyurati pihaknya terkait masalah polusi tersebut dan sudah ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan untuk menekan polusi udaranya.
Bahkan kata Yuriawan, agar kegiatan produksi perusahaan tidak menyebabkan polusi, pihaknya melakukan pergantian dengan peralatan baru yang didatangkan dari luar pulau Bangka.
“Setelah selesai, kita kirim surat dengan tembusan ke perikanan dan DLH. Tetapi mungkin LH sibuk, perikanan sibuk, mereka tidak hadir untuk melakukan peninjauan kelapangan. Tapi semenjak itu, sampai hari ini kita sudah mengendalikan dan sudah tidak timbul polusi lagi,” katanya.
Akan perbaikan tersebut, dikatakan Yuriawan, perusahaan ini telah meminimalisir bentuk polusi udara yang dikeluhkan masyarakat nelayan.
“Tadi makanya kita ajak temen temen dari nelayan kita ajak visit ke lapangan,” tukasnya.
Ketua HNSI Bangka, Ridwan yang mendampingi nelayan saat dikonfirmasi membenarkan dirinya ikut serta saat menyampaikan aspirasi kepada RBT.
“Tadi saya mendampingi temen temen nelayan terkait masalah keluhan akibat dari asap smelter yang sangat mengganggu sistem pernapasan nelayan setempat,” kata Ridwan.
Ia berharap, melalui pertemuan itu, keluhan nelayan setempat untuk ditindaklanjuti. Terlebih saat pertemuan, pihak RBT merespon dengan baik kedatangan perwakilan nelayan Parit Pekir tersebut.
“Intinya mereka mau secepatnya memperbaiki cerobong asap tersebut dengan catatan efek yang dirasakan masyarakat harus diperhatikan juga,” terangnya.
Dibeberkan Ridwan, tak hanya smelter RBT saja yang mengeluarkan asap bau tak sedap, akan tetapi sejumlah smelter di kawasan Industri Jelitik lainnya.
“Jadi disitu ada beberapa smelter yang mengeluarkan asap hitam pekat termasuk smelter yang ada diseberang Jelitik itu juga mengeluarkan bau asap,”? tukasnya.
?Mewakili nelayan setempat, Ridwan mengimbau kepada pengusaha smelter yang ada dikawasan Industri Jelitik untuk segera memperbaiki sistem filter saringan cerobong asap dan diberikan deadline waktu 3 hari dari sekarang.
?Namun apabila dalam jangka waktu 3 hari tak jua diperbaiki, nelayan setempat akan melakukan aksi.
“?Kalau tak diindahkan, kami minta mereka untuk menutup kegiatannya sementara waktu sampai asapnya tidak mencemari lingkungan setempat,” tegasnya.
Karena menurut Ridwan, dampak dari asap smelter tersebut tak hanya dirasakan oleh orang dewasa namun juga anak anak yang tinggal dilingkungan Parit Pekir, Sungailiat.
“Jadi dilingkungan pelabuhan, Parit Pekir dan kampung baru itu menjadi permasalahan oleh asap ini,” pungkasnya.
Ambo Lung, salah satu nelayan Parit Pekir mengatakan, debu dari beberapa pabrik peleburan kemana-mana dan baunya menyengat sehingga menggangu penciuman.
Menurutnya, kejadian ini terjadi sejak 2 bulan terakhir ?yang mana debu dan asap putih tebal yang dihasilkan dari pembakaran dalam smelter tersebut menyebabkan dada menjadi sesak.
“Kalau cuaca lagi tidak ada angin, baunya menyengat sekali dan membuat dada sesak. Apalagi kalau pagi pagi, asapnya itu mengganggu penciuman kami saat kami sedang bongkar muatan di Pelabuhan,” kata Ambo.
Selain itu, kata dia, kapal nelayan yang baru selesai di cat terkena imbas dari debu yang berterbangan kemana-mana ini.
“Kapal nelayan yang baru dicat juga kena imbas dari debu smleter ini,” tukasnya.
Ditambahkan Sudirman, kedatangan sejumlah nelayan setempat ke smelter memang awalnya memprotes terkait bau asap menyebabkan polusi udara yang berdampak dengan kesehatan masyarakat nelayan setempat.
“Itu baunya seperti belerang. Keluar asap bercampur debu itu sore hari. Dan kalau asap itu sudah keluar, sampai ke TPU itu tidak kelihat?,” ujarnya.
Parahnya lagi kata dia, polusi yang ditimbulkan dari cerobong asap milik pabrik peleburan ini sampai ke pemukiman warga lingkungan Parit Pekir.
“Ini masuk ke pemukiman warga dan efeknya sesak nafas,” imbuhya.
Selain itu, protes bau asap tersebut sudah pernah dilakukan nelayan Parit Pekir ke PPN Sungailiat. Dan oleh pihak PPN Sungailiat menyurati pihak perusahaan ?untuk ditindaklanjuti.
“Hanya saja sampai sekarang keluhan kami ini belum ada penjelasan apapun yang diberikan kepada nelayan setempat,” bebernya.
Nelayan Parit Pekir pun memberikan waktu deadline selama 3 hari kepada smelter untuk memperbaiki sistem filter cerobong asapnya yang diduga telah mencemari lingkungan masyarakat nelayan setempat.
“Intinya kami meminta mereka untuk memperbaiki filter cerobong asapnya dan waktu itu kita berikan 3 hari dari sekarang,” kata dia mengingat polusi yang ditimbulkan oleh asap smelter itu menyangkut hajat hidup orang banyak. (snt/1)

Related posts