Pulau Besar Angkat Budaya Ngarak Pusaka Kampung

  • Whatsapp
Bupati Bangka Selatan didampingi Ketua TP PKK Bangka Selatan, dan Kepala Dinas Pendidikan Babel, ketika disambut dalam acara Budaya Ngarak Pusaka Kampung dan Kirab Sedekah Bumi yang diangkat oleh Kecamatan Pulau Besar dalam rangka Peringatan Hari Jadi Ke – 16 Kabupaten Bangka Selatan di Desa Batu Betumpang, Sabtu (9/2/2019).(foto: dedi).

Dalam Peringatan Hari Jadi ke-16 Basel

PULAUBESAR – Budaya Ngarak Pusaka Kampung dan Kirab Sedekah Bumi kembali diangkat oleh Kecamatan Pulau Besar dalam peringatan Hari Jadi Ke – 16 Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2019 yang digelar di Desa Batu Betumpang, Sabtu (9/2/2019).

Ngarak Pusaka Kampung dan Kirab Sedekah Bumi dilatarbelakangi dari motivasi Pimpinan Daerah Kabupaten Bangka Selatan, agar setiap kecamatan dapat memunculkan icon budaya pada setiap perayaan Hari Ulang Tahun Bangka Selatan.

lcon Budaya tersebut, harus moncerminkan karakter masyarakat, memiliki nilai edukasi, disepakati oleh seluruh masyarakat, dapat bertahan lintas generasi, tidak berunsur SARA dan diterima oleh seluruh keberadaan agama-agama.

Camat Pulau Besar, Sumindar memaparkan nilai filosofis dari Simbol Ngarak Pusaka Kampung dan Kirab Sedekah Bumi. “Ngarak Pusaka Kampung adalah satu kegiatan yang melibatkan orang banyak (arak-arakan) dengan memikul gunungan berlantai 5 dengan isi berbagai macam sedekah makanan beraneka warna, yang dipuncak gunungan disemayamkan Pusaka Kampung,” ungkapnya.

Arakan, imbuh dia, dilaksanakan dari lapangan timur menuju lapangan barat Desa Batu Betumpang, sebagai perlambang asal-muasal penduduk kampung dani laut. Sebelum berjalan (ber arak) didahului dengan melantunkan Adzan oleh sesepuh kampung yang dituakan, sebagai tanda awal kehidupan manusia ketika menerima amanah sebagai kholifal fil ardh didahului oleh Adzan (Bayi Lahir).

Lalu, berjalan dengan gunungan didepan dan dibelakangnya masyarakat berjalan, dengan melafazkan dzikir kepada Allah.

Hal tersebut mengingatkan kewajiban sebagai manusia yakni beribadah kepada Allah SWT. Kemudian dilanjutkan sampai ke lapangan barat dengan ditutup oleh Adzan, yang melambangkan akhir kehidupan manusia juga di tutup dengan Adzan lalu kumpul di padang mahsar, mengabaikan seluruh perbedaan, tidak melihat amalan-amalan yang terucap ketika diperjalanan hidup, disimbolkan dengan kumpul bersama ditanah lapang.

Terakhir, dilakukan pembacaan Pusaka Kampung. Hal itu, mengingatkan pada manusia sesungguhnya kegembiraan itu, karena semua mengamalkan dan berpedoman pada Pusaka Kampung. Itulah makna Ngarak Pusaka Kampung di Kecamatan Pulau Besar.

Sementara, Kirab Sedekah Bumi adalah berjalan membawa beraneka macam makanan sebagai wujud rasa syukur. Diakhiri dengan penarikan ketupat lepas, atau ketupat luar sebagai simbol telah kelar apa yang menjadi keinginan masyarakat.

Ketupat Luar atau Ketupat Lepas adalah sebuah ketupat yang didesaign sekali tari bisa lepas. Ketupat dalam bahasa Jawa artinya mengaku lepat (Mengaku Salah). Pengakuan kesalahan ini sebagai simbol kesadaran manusia, bahwa setiap kesalahan harus saling dilepaskan, dalam bahasa Melayu disimbolkan lepasnya dosa – dosa kesalahan dari dua orang atau lebih melalui ketupat yang ditarik sekaligus.

Lepasnya do’a kesalahan diiringi dengan munculnya berkah dan rejeki, disimbolkan beras kuning yang keluar dan uang receh, yang dinikmati oleh handai taulan dan sanak keluarga. Ketupat lepas terbuat dari janur. Janur berasal dari bahasa Arab Jaa Nuur, keluar cahaya, orang yang sudah bisa saling melepaskan dosa kesalahan, dirinya akan dilingkupi cahaya kebaikan dari Allah SWT.

Ketupat lepas dibuat oleh tetua adat dengan didahului tirakat atau puasa selama tujuh hari sebelum ritual Ngarak Pusaka Kampung dan Kirab Sedekah Bumi dilaksanakan.

Bupati Bangka Selatan, Justiar Noer dalam sambutannya mengingatkan banyaknya hal-hal yang mesti dilaksanakan dalam mengisi pembangunan ini, sedangkan sumber dana dan SDM terbatas, maka perlu di adakan proritas kegiatan, dengan strategi pembangunan dengan skala prioritas yang berbeda.

Ia mencontohkan, di Kecamatan Pulau Besar ini, potensi pertanian, perkebunan, peternakan sangat potensial, selain karena lahannya yang subur tetapi juga sebagian besar masyarakatnya hidup bercocok tanam, jadi tidak menutup kemungkinan pengembangan sentra peternakan, dan juga parwisata berbasis technopark harus dibangun disini.

Dikatakan Justiar, Kecamatan Pulau Besar sangat potensial, selain karena lahannya yang subur, tetapi juga sebagian besar masyarakatnya hidup bercocok tanam. Jadi, tidak menutup kemungkinan pengembangan, sentra peternakan, dan juga pariwisata berbasis technopark harus dibangun disini.

“Pengembangan potensi pertanian dan perkebunan, peternakan bahkan industri dapat kita kembangkan di kawasan Kecamatan Pulau Besar, dengan telah berdirinya kawasan kota terpadu mandiri. Ini dapat kita jadikan pendorong pembangunan di kawasan pulau besar. Kawasan kota terpadu mandiri banyak memperoleh dukungan anggaran dari pusat yang bisa kita alokasikan dalam meningkatkan sektor sektor produktif yang ada di kecamatan pulau besar,” ucap dia. (raw/3)

Related posts