Puasa Mengantarkan kepada Ketaqwaan

  • Whatsapp

Oleh : Andika Purnama, S.E

Sebagai seorang muslim kita sangat sering mendengar kata-kata dan wasiat “Taqwa”. Hampir setiap muslim pasti tidak asing dengan istilah “Taqwa’. Terutama para laki-laki muslim, setiap melakukan aktivitas rangkaian ibadah sholat Jumat, khotib selalu mengingatkan tentang kalimat atau wasiat Taqwa.
Dalam Islam takwa adalah sebaik-baiknya bekal. Takwa adalah sebaik-baik pakaian yang dikenakan seorang muslim. Takwa inilah yang jadi wasiat orang terdahulu dan belakangan. Takwa itulah jalan keluar ketika seseorang berada dalam kesulitan. Takwa itulah sebab mendapatkan pertolongan ketika mati. Takwa itulah jalan menuju ketenangan. Dan Taqwa adalah sebaik-baik sifat dan kedudukan yang akan mengantarkan kita menuju posisi mulia disisi Allah, sebagaimana Firman-Nya “Inna Aqromakum ‘Indallahu atsqookum” Sesungguhnya Orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. (TQS: Alhujurat :13)
Banyak naas dan dalil baik dalam Alqur’an, hadist maupun atsar yang menyebutkan Fadhilah dan keutamaan Taqwa. Dalam Alquran pun Allah menyebutkan ciri-ciri dan sifat-sifat orang yang bertaqwa dan Apasaja yang Allah siapkan untuk orang yang bertaqwa. Diantaranya adalah sebagaimana yang Allah sebutkan dalam surat Ali Im’ran ayat 133 ; (Menginfakkan harta dikala lapang dan sempit, menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain) dibayar dengan surge seluas langit dan bumi.
Namun demikian, menjadi Orang yang bertaqwa dan istiqomah dalam keadaaan taqwa sampai akhir hayat bukanlah hal yang gampangan dan mudah. Diperlukan tekad yang kuat, Ilmu dan konsistensi untuk menginstal ketaqwaan itu kedalam diri manusia beriman. Dan dalam hal puasa inilah, Islam mengajarkan proses penginstalan taqwa ke dalam diri manusia beriman. Manusia beriman adalah Input, puasa adalah proses dan Taqwa adalah outputnya. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Alquran Q.S Albaqarah : 183 ‘’ hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa)’
Puasa adalah salah satu proses yang diajarkan Islam kepada umatnya agar dapat menjadi manusia yang bertaqwa. Menjadi Insan yang taat. Menjadi hamba yang takut kepada Rabbnya. Melaksanakan puasa Ramadhan sesuai dengan bimbingan syari’at Islam dan dihayati secara mendalam akan menanamkan sifat kepatuhan dan kepasrahan yang menyeluruh pada diri setiap insane muslim terhadap Allah SWT. Kepatuhan dan kepasrahan seperti itu merupakan langkah awal yang sangat menetukan untuk meraih derajat taqwa. Dapat Kita bayangkan ketika Puasa, Allah menyuruh kita agar tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan dengan istri, sementara waktu (saat puasa) yang mana hal ini adalah hal hal yang mubah dan halal sebelumnya. Ini menandakan Allah mengajarkan kita taat tanpa batas. Taan tanpa kata “tapi”. Belum lagi Allah mengajarkan kita untuk meninggalkan perkataan dusta, dan hal-hal negatif lainnya agar puasa kita sempurna.
Spirit dan aura puasa inilah yang meningkatkan kenektivitas ruhiyah (kesadaran akan hubungan dengan Allah) dalam diri kita. Sebab itulah, ketika kita berpuasa kita lebih semangat untuk mengerjakan amal kebajikan seperti membaca Alquran, bersedekah, dan menahan diri dari maksiat lainnya, hanya demi memperoleh nilai puasa yang maksimal dari Allah SWT.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. (HR. Bukhari)
. Ibarat Puasa ulat yang akan menjadi kupu-kupu. Ulat yang menjijikkan tidak disukai orang-orang berubah menjadi kupu-kupu yang cantik yang disenangi banyak orang. Ketika ulat berpuasa akan mengasingkan diri dan menyepi, sampai tiba akhirnya ia kembali keluar dengan tampilan yang berbeda, bukan hanya tampilannya saja yang begitu cantik jelita yang membuat jatuh cinta setiap insan yang melihatnya. Nama, sampai makanannya pun ikut berubah, dari memakan daun-daunan sampai makan madu yang begitu manis, dari yang tadinya merusak tanaman ia berubah ikut membantu penyerbukan bunga. Ketika ulat berpuasa ia akan masuk kedalam kepompong untuk beberapa waktu, melalui proses sampai tiba saatnya ia berubah menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.
Demikianlah kita. Dengan puasa kita yang sebelumnya mempunyai tabiat, karekter, sifat yang buruk, tidak disenangi orang lain, dengan puasa diharapkan menjadi orang-orang yang hadir dengan kepribadian yang mulia. Yang disenangi orang lain, yang bermanfaat bagi orang lain,. Maka dari sanalah makna puasa mengantarkan orang yang beriman menjadi orang yang bertaqwa. Wallahu A’lam Bishshowabi….

Related posts