by

PT. MBA Tuding PT BMM Merampok Lahan

PT Timah Diminta Cabut SPK

SUNGAILIAT – Perebutan lahan di Kawasan Industri Jelitik Sungailiat, Kabupaten Bangka yang diduga memiliki banyak kandungan timah masih terus terjadi. Kali ini, dua perusahaan penambangan mengklaim sebagai pemilik lahan. Keduanya yakni PT. Mitra Bersaudara Abadi (MBA) dan PT. Bangka Mineral Minning (BMM) yang bekedudukan di Sungailiat, Bangka.
Jika PT MBA mengaku telah menguasai lahan itu yang sebelumnya milik Bujang Su dan Hasan Tarjo dengan kepemilikan berdasarkan surat tanah, sedangkan PT BMM mengklaim sudah memenangkan perseteruan tersebut dengan putusan inkrah pengadilan.
Made, selaku petugas lapangan PT. MBA kepada wartawan di Perumahan Batavia Beach Sungailiat, Minggu (17/3/2019) menyesalkan lahan milik perusahaan mereka itu kini kondisinya sudah berantakan karena ulah pertambangan timah oleh PT BMM.
Menurutnya, lahan tersebut diduga telah diserobot tanpa ada persetujuan dari PT. MBA dilakukan oleh PT BMM milik Yanto alias Angiat. Ironisnya, penambangan itu dilakukan Yanto dengan memegang Surat Perintah Kerja (SPK) yang dikeluarkan pihak Kepala Unit PT Timah Tbk Bangka, untuk melakukan penambangan timah di lokasi tersebut hingga sekarang.
Karena penambangan tersebut telah berlansung sejak bulan Febuari 2019 hingga sekarang, Made juga menyayangkan PT Timah menerbitkan SPK.
”Kita menyayangkan apa yang dilakukan oleh Yanto, begitu juga dengan PT Timah Tbk yang mengeluarkan SPK di lahan milik orang lain. Hal ini sama saja dengan merampok, bekerja di lahan milik orang,” kata Made.
Terkait hal itu, Made mendesak PT Timah mencabut SPK yang telah dikeluarkan kepada PT. BMM secepatnya. Sebab, pihaknya menilai jelas PT Timah telah salah mengeluarkan SPK di lahan milik orang lain, tanpa ada persetujuan pemilik lahan.
“Kami minta PT Timah mencabut SPK yang diberikan kepada PT BMM diatas lahan kami. Sebelumnya kami juga sudah bertemu dengan pihak PT Timah dengan himbauan yang sama, untuk mencabut SPK tersebut, tetapi tidak diindahkan hingga sekarang,” kata Made.
Ditegaskan dia, kalau himbuan dan usaha lainya telah dilakukan pihaknya namun tetap terjadi penambangan di lahan itu maka, jangan salahkan bila permasalahan tersebut akan dibawa PT MBA ke ranah hukum.
”Kalau dengan penjelasan serta himbau yang kami lakukan, tetapi tetap saja pihak PT.Timah tidak mengubris, jangan salahkan kami akan membawa peramasalahan ini ke ranah hukum, karena negara kita negara hukum, dan kami berhak mencari keadilan terkait permasalahan ini,” ucapnya.
”Saya juga mitra PT Timah, saya santun dengan mereka, tetapi kalau dengan itikad baik saya sampaikan bahwa ada suatu kesalahan mengeluarkan SPK di lahan milik orang lain, maka kita akan bawa ke ranah hukum sehingga masalahan ini ada penyelesaiannya, karena terkait dengan hak kita yang diganggu orang lain,” imbuh Made.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bagian Humas PT Timah Tbk, Anggi Sihaan tak menampik PT BMM adalah mitra PT Timah. Terkait dengan keluarnya SPK yang diberikan PT Timah Tbk kepada PT. BMM, hal itu menurutnya atas permintaan pihak mitra.
”Apakah pengeluaran SPK tersebut sudah sesuai prosedur yang ada, nanti saya tanya dulu pihak Wasprod Bangka sehingga permasalahan ini menjadi jelas adanya,” kata Anggi kepada para wartawan di Belinyu, Senin (18/3/2019).
Sedangkan Yanto alias Angiat selaku Direktur PT BMM ketika dikonfirmasi justru menantang PT MBA untuk melakukan gugatan ke ranah hukum. Sebab, ia merasa mengenai lahan yang dituding telah diserobot oleh PT BMM, adalah tidak benar. Menurutnya lahan seluas 3.7420 m2 tersebut sudah selesai setelah diproses di Pengadilan dan PT BMM memenangkan perseteruan tersebut.
“Permasalahan tersebut sudah selesai. Dan pihak kami telah memenangkan atas lahan tersebut. Kalau pun mereka (Made-red) belum puas silahkan gugat perdata ke Pengadilan jangan hanya berkoar koar,” tantang Angiat tadi malam. (2nd/1)

Comment

BERITA TERBARU