Prestasi Anak Bangsa

No comment 189 views

Oleh: Ayu Zagita
Siswa Kelas X Bahasa SMAN 1 Koba

Ayu Zagita

Setiap yang namanya prestasi, tentu berhubungan dengan pendidikan.Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa atau tindakan dapat dianggap pendidikan.
Pada tingkat global, pasal 13 PBB 1966 Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mengakui hak setiap orang atas pendidikan. Meskipun pendidikan adalah wajib di sebagian besar tempat sampai usia tertentu, bentuk pendidikan dengan hadir di sekolah sering tidak dilakukan, dan sebagian kecil orang tua memilih untuk pendidikan home-schooling, e-learning atau yang serupa untuk anak-anak mereka.
Beralih ke prestasi, prestasi berasal dari bahasa Belanda yang artinya hasil dari usaha. Prestasi dapat dicapai dengan mengandalkan kemampuan, emosional dan spiritual, serta ketahanan diri dalam menghadapi situasi segala aspek kehidupan. Karakter orang yang berprestasi adalah mencintai pekerjaan, memiliki inisiatif dan kreatif, pantang menyerah, serta menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh.
Di Indonesia sendiri, banyak anak yang memiliki prestasi bahkan sampai internasional. Salah satu contohnya adalah Salman Trisnadi Wajrasena yang masih duduk di kelas 1 SD Prestasi Global, Kota Depok, Jawa Barat. Siswa ini meraih juara lomba robotik internasional di Korea Selatan. Akan tetapi, di sini lain masih banyak pula anak yang tidak menempuh pendidikan atau tidak menyelesaikan pendidikannya. Padahal, anak-anak Indonesia memiliki kecerdasan yang bisa dikatakan sangat cerdas.
Tentu hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu minimnya ekonomi yang menyebabkan mereka berhenti sekolah. Hal ini juga dipertegas oleh pernyataan Abduh Zen, Ketua Litbang PB PGRI dan Direktur Institute for Education Reformyang menilai penyebab terbesar anak putus sekolah adalah memang karena faktor ekonomi dan kemiskinan.
Berdasarkan data UNICEF tahun 2015 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan, yakni sebanyak 600 ribu anak usia Sekolah Dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berdasarkan Ikhtisar Data Pendidikan Kemdikbud Tahun 2015/2016, disebutkan pula bahwa siswa yang lulus SD tetapi tidak melanjutkan ke SMP berjumlah 946.013 orang. Ditambah dengan jumlah siswa yang melanjutkan ke SMP tetapi tidak lulus sebesar 51.541 orang, maka artinya terdapat 997.554 anak Indonesia yang hanya berstatus tamatan SD pada tahun 2015/2016.
Situasi ini, cukup memprihatinkan, karena ada 68.066 anak lainnya yang bahkan tidak melanjutkan studi di SD pada tahun 2015/2016. Kalau hal ini terus terjadi setiap tahun dan tidak dilakukan terobosan, jumlah orang Indonesia yang maksimal hanya memegang ijazah SD terus meningkat.
Berbeda dengan negara Jepang. Negara tersebut memiliki kualitas pendidikan yang bagus begitupun prestasi yang dimiliki oleh siswanya. Hal ini tentu didukung oleh minat baca masyarakat Jepang yang tinggi. Berbeda dengan Indonesia, minat bacanya masih terbilang sangat kecil. Berdasarkan survei UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,01 persen. Artinya, dalam seribu masyarakat hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca. Dan berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Dari hasil suvei tersebut, menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia masih dikatakan jauh tertinggal dengan negara-negara lain.
Belum lama ini, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menerbitkan peringkat pendidikan dunia atau World Education Ranking yang menentukan negara mana yang terbaik dari segi membaca, matematika dan ilmu pengetahuan. Seperti yang dilansir The Guardian, Indonesia menempati urutan ke 57 dari total 65 negara. Berdasarkan tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson, sistem pendidikan Indonesia berada di posisi terbawah bersama Meksiko dan Brasil.
Lebih lanjut menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), menyatakan kualitas pendidikan di Indonesia berada di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Data yang diperoleh dari The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di seluruh dunia. Dan masih menurut hasil survei yang sama, Indonesia hanya berpredikat sebagai follower, bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan anak bangsa dalam prestasi masih rendah dan belum mampu bersaing dengan dunia internasional.
Kemudian, berdasarkan data Balitbang (2003) dapat diketahui bahwa dari 146.052 SD di Indonesia, ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Programme (PYP). Untuk jenjang SMP, dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Programme (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Programme (DP).
Hal ini menandakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia perlu diperbaiki. Sesuai dengan amanat UUD 1945, tujuan negara salah satunya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Akan tetapi, hingga usia 71 tahun kemerdekaan RI segenap masyarakatnya masih belum mempunyai akses mengenyam dunia pendidikan formal selayaknya.
Berdasarkan uraian di atas, pendidikan di Indonesia perlu diperbaiki dari berbagai segi. . Pemerintah harus memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia sehingga mampu bersaing dengan dunia internasional. Begitupun dengan masyarakatnya, yang juga harus berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Kemudian kita sebagai generasi penerus bangsa harus belajar dengan rajin, sehingga prestasi kita dapat diakui di mata dunia. Mari kita budayakan gemar membaca. Karena dengan membaca, prestasi anak bangsa bisa berjaya.(****).

No Response

Leave a reply "Prestasi Anak Bangsa"