Predator dari Segala Predator

  • Whatsapp

Oleh: Deddy Kristian Aritonang
Kolumnis Lepas, Guru SMP/SMA Sutomo 2 Medan dan Dosen PTS

Deddy Kristian Aritonang

Bagi para pecinta tembang-tembang lawas, tentu lagu ‘Hari Kiamat’ milik Black Brothers sudah sangat akrab di telinga. Lagu itu memiliki makna yang begitu mendalam soal arti kehidupan. Berikut penggalan lirik dari lagu tersebut yang dalam pandangan saya sangat relevan dengan situasi pada masa sekarang: Di tepi jalan, si miskin menjerit. Hidup meminta dan menerima. Yang kaya tertawa, berpesta pora. Hidup menumpang di kecurangan. Sadarlah kau, cara hidupmu.Yang hanya menelan korban yang lain, Bintang jatuh hari kiamat, pengadilan yang penghabisan.
Berbicara soal predator kejam, mungkin kita akan dengan cepat menyebut singa, ular, buaya atau hewan-hewan buas lainnya. Jika menyimak tayangan-tayangan National Geographic atau Discovery Channel, satwa-satwa ini memang terlihat begitu sadis dan tanpa kenal ampun tatkala memangsa hewan lain. Namun perlu diingat bahwa yang dilakukan oleh satwa-satwa liar ini adalah peristiwa alamiah sesuai konsep urutan food chain (rantai makanan), dimana masing-masing organisme punya peran sebagai konsumen, produsen, atau dekomposer (pengurai). Jadi, meski terlihat kejam, hewan-hewan tadi menjadi pemangsa atas satwa lain karena mengikuti naluri (instinct) dan demi keseimbangan ekosistem.
Lantas makhluk hidup mana yang menjadi predotor terkejam? Berdasarkan beberapa riset yang dilakukan para pakar, manusia dengan segala keserakahannya adalah predator terganas sejagad raya. Los Angeles Times pada tahun 2015 silam pernah membeberkan fakta-fakta menohok. Pertama, manusia telah membinasakan populasi ikan dengan perbandingan 14,1 kali lebih banyak daripada hewan predator di laut. Kedua, manusia 9,2 kali lebih kejam dibandingkan hewan karnivora di darat. Ketiga, tingkat naluri membunuh manusia 3,7 kali lebih tinggi dibandingkan hewan-hewan buas ketika sedang memangsa hewan herbivora.
Kerakusan manusia bahkan ditengarai telah menghilangkan sebanyak 20 persen spesies hewan buas setiap tahunnya. Kita, manusia, yang secara sepihak mengklaim diri kita sebagai makhluk paling mulia di antara ciptaan Tuhan lainnya, sudah merusak keseimbangan alam secara besar-besaran. Ironisnya, ketika alam kita tuduh mulai tidak bersahabat (padahal karena ulah kita sendiri!), kita mulai panik dan takut. Jika saja hewan dan tumbuhan dikaruniai kemampuan berbicara dan berpikir seperti kita, mungkin mereka akan mengatakan manusia adalah makhluk paling absurd. Kekonyolan watak manusia sudah pernah dikritik oleh Albert Einstein. Fisikawan jenius itu mengatakan “Two things are infinite: the universe and human stupidity; and I’m not sure about the universe.”
Alasan-alasan ini menjadi bukti betapa kita sebagai manusia benar-benar telah menjadi pongah terhadap alam dan ekosistemnya. Terkadang, yang semakin membuat miris, ada orang-orang yang memangsa hewan-hewan liar bukan melulu karena alasan mencukupi kebutuhan makanan. Mereka melakukan perburuan demi menambah koleksi hewan-hewan langka atau menghasilkan barang-barang branded (bermerek mahal) sebagai pemenuhan kebutuhan tersier seperti tas, tali pinggang, sepatu, gaun dan lain-lain yang bersumber dari kulit hewan. Harga barang-barang ini pun bisa mencapai angka ratusan hingga milyaran rupiah!
Seharusnya dengan predikat sebagai makhluk paling mulia tadi, kita bersyukur atas manfaat-manfaat yang diberikan alam dan punya komitmen tinggi untuk merawat lingkungan demi kehidupan yang lebih baik. Tapi justru kemuliaan itu yang membuat kita tergerus pada perilaku tidak manusiawi. Hidup menjadi soal berpacu dan berkompetisi demi ambisi. Asal hidup senang, tidak peduli apa yang terjadi di sekitar, semua harus disikat begitu kira-kira prinsip manusia pada zaman sekarang.
Saat ini, isu soal lingkungan yang menjadi perhatian publik adalah perang melawan sampah plastik. Banyaknya sampah plastik sudah menjadi kekhawatiran dunia (global concern). Masalah ini juga muncul lagi-lagi karena ketamakan manusia. Lihat saja bagaimana paus sperma (Physeter macrocephalus) yang mati membusuk setelah terdampar di Pulau Kapota, Wakatobi November tahun lalu. Saat dibedah, isi perut paus itu didominasi oleh sampah plastik yang beratnya mencapai 5,9 kg. Paus sperma itu hanya satu dari sekian banyak satwa laut yang harus meregang nyawa secara sia-sia karena ulah kita.
Kita, dengan segala kenikmatan hidup, seakan tak bisa lepas dari penggunaan plastik. Mulai dari sedotan, bungkus makanan dan minuman, tempat barang-barang belanjaan hingga keperluan ikat-mengikat barang begitu didominasi oleh plastik. Kebiasaan ini telah menjadi kelaziman hidup saban hari demi yang kita sebut efisiensi dan efektifitas. Tingginya kesibukan dan padatnya aktifitas membuat kita tidak mau repot dengan hal-hal kecil, tapi membawa perubahan besar seperti belanja dengan membawa tas berbahan ramah lingkungan.
Parahnya lagi, kita masih kerap abai dengan bahaya plastik yang telah diperingatkan berulang kali oleh para ilmuwan. Plastik-plastik yang telah menjadi sampah kita buang seenaknya saja. Tak hanya mengotori lingkungan, sampah-sampah plastik tadi juga mendatangkan setumpuk persoalan lain. Berdasarkan data yang diperoleh dari Helmholtz Centre for Environmental Research terdapat lebih dari 8 juta ton sampah plastik yang dibuang ke laut tiap tahunnya. Laporan dari Science Advances menyebutkan bahwa selama 60 tahun manusia telah memproduksi sampah plastik seberat 6,3 milyar ton. Para ahli memperkirakan pada tahun 2050 jumlah sampah plastik akan melebihi jumlah ikan di laut.
Jika hendak ditelusuri, sebenarnya manusia sangat paham bahwa plastik tidak bisa terurai dalam waktu singkat. Meski sudah tertimbun oleh tanah, sampah-sampah plastik butuh waktu yang begitu lama (bisa ratusan atau malah ribuan tahun) agar dapat benar-benar diuraikan. Pelajaran mengenai sampah yang terurai dan tidak terurai juga sudah kita dapatkan ketika duduk di bangku sekolah dan belakangan marak dikampanyekan kembali oleh para aktivis peduli lingkungan.
Tapi itulah, kita tidak pernah benar-benar belajar. Kita punya telinga tapi tidak mendengar. Kita punya mata tapi tak melihat. Kecemasan kita memang muncul. Tapi kecemasan itu tidak cukup besar untuk mengubah perilaku buruk kita pada lingkungan. Ini mirip dengan para pecandu rokok yang tahu betul bahwa merokok bisa menyebabkan kanker. Bahkan gambar keadaan tubuh setelah mengalami pembedahan akibat racun nikotine yang sengaja ditampilkan di bungkus rokok juga tak menyurutkan adiksi mereka.
Pada fase seperti ini, kita bukan cuma menjadi predator dari makhluk hidup lainnya, tapi juga atas sesama manusia dan diri kita sendiri. Kita tak sungkan saling sikut demi berebut kekuasaan dan kemewahan. Dan pada akhirnya keserakahan kita sendirilah yang akan menghentikan semua itu. Kita akan sampai pada suatu masa ketika bumi berubah menjadi musuh yang menakutkan. Permukaan air laut naik karena es di kutub utara dan selatan mencair. Jumlah daratan akan berkurang karena sebagian sudah tenggelam. Satwa-satwa di laut bukan cuma tidak lagi menjadi santapan bergizi, tapi akan menjadi racun berbahaya. Kita terlalu jumawa dengan hidup kita sekarang, sehingga abai terhadap masa depan. Mungkin tak perlu menunggu hari kiamat seperti yang dilantunkan Black Brothers tadi untuk mengadili keserakahan kita selama ini. Semua itu karena kita tidak pernah mau adil terhadap alam.(***).

Related posts