by

Praktik Pekerjaan Sosial Menangani Masalah Psikososial Keluarga

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat. Keberadaan keluarga yang harmonis di tengah masyarakat akan mempegaruhi corak suatu entitas masyarakat. Selain itu juga, hadirnya keluarga sebagai wadah pertama pendidikan generasi yang akan datang memiliki peran strategis dalam membentuk insan-insan muda yang berkualitas dan sumber daya manusia yang unggul dalam pembangunan nasional.

Posisi keluarga yang strategis ini, seyogyanya harus diimbangi dengan upaya peningkatan ketahanan keluarga. Hal ini sangat penting mengingat bahwa masalah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keluarga. Permasalahan keluarga seringkali terjadi karena lemahnya daya tahan keluarga dalam menghadapi dan memecahkan masalah. Dampak dari lemahnya ketahanan keluarga mengakibatkan anggota keluarga mengalami masalah psikososial.

Pembaca yang budiman, masalah psikososial keluarga adalah masalah personal dan interpesonal yang dihadapi oleh keluarga yang bersumber dari tekanan-tekanan psikologis dan lingkungan sosial. Kedua faktor ini, saling berinteraksi secara dinamis, sehingga menimbulkan masalah dalam penyesuaian diri keluarga yang selanjutnya akan mengganggu keluarga dalam menjalankan fungsi sosialnya. Pemasalahan sosial yang timbul di tengah masyarakat kerapkali terjadi disebabkan disfungsi keluarga. Anggota keluarga tidak mampu mengoptimalkan peran dan fungsinya secara baik dan benar sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Gejala masalah psikososial dapat diihat berdasarkan gejala yang tampak terkait dengan afeksi, kognisi, konasi kondisi fisik dan hubungan sosial. Gejala afeksi, dapat dilihat dari perasaan yang muncul, diantaranya merasa sedih karena kehilangan sesuatu. Contoh, khawatir bahwa orang-orang dekat yang disayangi akan meninggal atau berpisah darinya. Selain itu juga, perasaan yang bisa muncul adalah rasa marah, putus asa, kehilangan percaya diri, kekhawatiran yang berlebihan dan lain sebagainya.

Gejala kognisi, dapat dilihat dari aspek pola pikir yaitu tidak berminat pada hal yang dulu disukainya. Sulit untuk mengambil keputusan meskipun untuk hal-hal yang sederhana. Pemikiran yang muncul berorientasi pada pikiran-pikiran negatif dan lain sebagainya. Gejala terkait konasi yaitu berkenaan dengan tindakan/ perilaku. Anggota keluarga yang mengalami masalah psikososial akan menampakkan perubahan perilaku, misalnya menjadi pemarah, agresif, menarik diri dari lingkungan, apatis, tidak bertanggug jawab, over protektif pada anggota keluarga, membatasi aktivitas anggota keluarga.

Selain itu juga kita bisa melihat gejala lainnya, yaitu kurang bersemangat, hilang nafsu makan, gelisah (tidak dapat duduk tenang). Biasanya gejala ekstrim terjadi pada generasi remaja dan fase dewasa awal. Mereka terjebak pada penyimpangan perilaku seperti konsumsi miras, narkoba, judi, seks bebas, LGBT, penganiayaan, bullying dan lain sebagainya sebagai bentuk eksistensi diri.

Gejala psikososial terkait kondisi fisik dapat dilihat melalui intensitas waktu tidur. Cukup sering mereka yang bermasalah psikososial mimpi buruk, mudah terbangun oleh suara-suara yang pelan sekalipun, tidur tidak nyenyak, insomnia dan lain sebagainya. Merasa sakit kepala, mual, muntah, jantung berdetak kencang dan tidak teratur dan merasa lesu. Gejala yang terkait dengan hubungan sosial: mudah tersinggung, marah, kasat pada orang lain, sulit percaya pada orang lain, senang menyendiri, menolak hubungan sosial dan cenderung terlibat dalam kelompok yang melakukan tindakan destruktif sebagaimana penulis paparkan sebelumnya.

Menurut Collins (1995) tanda-tanda seseorang mengalami masalah psikososial keluarga, yaitu: hilangnya harga diri sebagai manusia, komplikasi antara cedera fisik yang kerapkali menimbulkan kecacatan dan cidera psikis atau trauma, berkembangnya kecemasan dan trauma berkelanjutan yang menyebabkan terjadinya kelumpuhan mental kronis berupa ketidakmampuan mengambil keputusan, prasangka berlebihan terhada lingkungan sosial, merasa berdosa, menarik diri dari lingkungan sosial, bersikap dan berprilaku memusuhi lingkungan sosial dan mengalami berbagai bentuk penyakit jiwa.

Masalah psikososial adalah kondisi yang dialami seseorang yang disebabkan oleh terganggunya relasi sosial, sikap dan perilaku meliputi ganggaun pemikiran, perasaan dan atau relasi sosial yang secara terus menerus saling mempengaruhi satu sama lain. Beberapa masalah psikososial diantaranya, yaitu anak berhadapan hukum (ABH), korban pelecehan/ tindak kekerasan seksual, ODHA, penyelahgunaan NAPZA, korban KDRT, kemiskinan, keterlantaran, kehamilan yang tidak diinginkan, diskomunikasi dalam keluarga, perceraiaan, perselingkuhan, korban bencana alam dan bencana sosial, disabilitas, pekerja migran, korban traficking, penyakit kronis dan lain sebagainya.

Pembaca yang budiman, berikut ini penulis akan paparkan praktik pekerjaan sosial dalam penanganan masalah psikososial. Tahapan pertama adalah pendekatan awal, yaitu suatu kondisi dimana pekerja sosial mulai membangun kontak awal (engagement) dan kontrak kepada klien. Kontak awal dapat dibagi menjadi tiga kondisi, yaitu klien sukarela mendatangi peksos untuk meminta bantuan, peksos secara aktif melakukan penjangkauan (outreach) kepada klien dan peksos yang menerima rujukan dari profesi/ mitra kerja yang lain.

Tahapan ini merupakan pintu gerbang yang menentukan apakah praktik pekerjaan sosial dapat dilaksanakan atau tidak. Praktik pekerjaan sosial akan dilanjutkan bila klien percaya kepada peksos untuk membantu menyelesaikan masalahnya. Oleh karenanya, keterampilan yang harus dimiliki peksos dalam upaya membangun trust (kepercayaan) klien adalah komunikasi efektif dan keterampilan untuk berempati pada klien. Teknik yang digunakan adalah small talk.

Apabila klien mulai merasa nyaman dan kepercayaan terhadap peksos terjalin, keduanya menyepakati suatu kontrak kerja guna memperlancar praktik pekerjaan sosial dan tercapainya tujuan pemecahan masalah klien. kontrak ini bertujuan untuk menciptakan kesepakatan dalam memahami tujuan kerjasama peksos dan klien, metode praktik pekerjaan sosial yang akan digunakan dalam menyelesaikan masalah, prosedur yang ditempuh, mendefinisikan peranan dan tugas kedua belah pihak (antara peksos dan klien).

Tahapan kedua dalam praktik pekerjaan sosial dalam penanganan masalah psikososial keluarga, yaitu pengungkapan dan pemahaman masalah (assesment), serta identifikasi faktor pendukung, faktor kerawanan dan faktor resiko. Kegiatan yang dilakukan pekerja sosial selama assesment, yaitu mengumpulkan data. Dalam hal ini, data yang dikumpulkan peksos adalah data yang valid yang relevan dengan situasi klien. Selanjutnya, melakukan pengedekan data guna menjaga akurasi data dan informasi. Setelah itu data tersebut dianalisa untuk ditarik sebuah kesimpulan mengenai fokus masalah klien, kebutuhan klien dan sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah klien.

Tahap ketiga, yaitu menyusun rencana intervensi. Setelah ditemukan fokus masalah, faktor pendukung, faktor kerawanan dan resiko, peksos bersama klien menyusun rencana intervensi. Dalam tahap penyusunan rencana intervensi, harus diperhatikan bahwa tujuan yang dicapai harus realistis. Selain itu juga, sudah ditentukan bentuk dan metode pelayanan yang tepat, menentukan peranan peksos, dan hal-hal yang menjadi komitmen klien untuk keluar dari masalahnya.

Tahap keempat, yaitu melakukan intervensi sesuai dengan perencanaan sebelumnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pelaksaan intervensi, yaitu: peksos membimbing penerima manfaat untuk melaksanakan peranannya secara sungguh-sungguh dalam pemecahan masalah. Selain itu juga, peksos memberikan bimbingan kepada pihak-pihak yang berpengaruh (anggota keluarga yang lain, tetangga, atasan tempat kerja dan lain sebagainya yang temasuk dalam faktor pendukung) dalam proses intervensi terhadap penerima manfaat.

Tahap kelima, yaitu melakukan monitoring dan evaluasi. Ketika dinilai intervensi yang dilakukan memberikan dampak perubahan positif pada penerima manfaat, maka masuk pada tahap selanjutnya, yaitu tahap terminasi (pemberhentian layanan oleh pekerja sosial atas kesepakatan bersama dengan penerima manfaat).

Sebagai tahap akhir yaitu diberikan bimbingan lanjutan supaya program yang sudah berlangsung tetap diaplikasikan dalan kehidupan sehari-hari penerima manfaat. Apabila pekerja sosial tidak dapat memberikan layanan lebih (misalkan penerima manfaat meminta bantuan hukum untuk kasus korban tindakan asusila) maka pekerja sosial dapat merujuk penerima manfaat ke lembaga bantuan hukum.

Demikianlah, profil praktik pekerja sosial dalam penanganan masalah psikososial yang dapat penulis paparkan. Semoga bermanfaat dan masyarakat secara umum dapat memaksimalkan peran pekerja sosial. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi). Wallahu’alam. [****].

Comment

BERITA TERBARU