by

Politik, tak Ada Kawan dan Lawan

Oleh: Muhammad Tamimi
Penulis dan Wartawan Bangka Belitung

Muhammad Tamimi

Ide tulisan ini, muncul ketika Penulis membaca sebuah majalah lupa apa namanya, tak sengaja membaca tulisan headline koran tersebut berjudul “Tak ada kawan dan lawan dalam politik, yang ada adalah kepentingan abadi”. Ada sesuatu yang menarik minat saya untuk mengupas kembali tulisan itu dalam format opini. Sebagai politikus yang berperan sebagai “pemain” tentu bukan hanya matang secara Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang politik, tetapi wajib matang pula dalam hal pengalaman politik, supaya lebih dewasa menyikapi setiap irama politik dilapangan permainan yang bernama Pemilu 2019.

Dalam permainan juga, pendidikan politik sangat penting dan dianjurkan malah. Cuma politik pendidikan yang tidak baik dan harus dihindarkan. Tentu, menjelang Pemilu Presiden dan Legislatif Tahun 2019 yang sedang berlangsung saat ini, tentu tensi politik sangat tinggi. Paling tidak, dengan banyaknya pengalaman pendidikan politik sedikit bisa meredam sekaligus menekan gangguan pada pesta demokrasi yang akan digelar tanggal 17 April 2019 mendatang.

Kalau mesin partai dan non partai sudah siap, langkah selanjutnya tinggal siapkan bahan bakar atau Penulis menyebutnya biaya politik. Jika biaya politik terpenuhi, maka akan mempengaruhi dalam kegiatan sosialisasi kepada masyarakat baik itu tentang menjual program, menjual ide atau pemikiran yang konstruktif untuk disumbangkan kepada masyarakat manakala diamanahkan sebagai wakil rakyat yang terhormat. Biaya politik berhubungan erat dengan logistik. Peserta Pemilu 2019 ini sangat beruntung karena sebagian Alat Peraga Kampanye (APK) ditanggung oleh negara, sehingga memberikan sedikit keringanan bagi peserta pemilu baik secara kepartaian maupun politikusnya. Sisanya baru ditanggung oleh peserta pemilu itu sendiri.

Dalam prakteknya, para peserta Pemilu 2019 khususnya Pemilihan Legislatif (DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kota dan DPRD Kabupaten) supaya mengedepankan etika berpolitik, agar jangan saling fitnah apalagi saling menghujat sesama calon. Berilah pemahaman politik yang baik untuk masyarakat demi menegakkan pemilu yang damai dan demokratis.

Dipenghujung tulisan ini, Penulis sampaikan berpolitik dengan sikap bijak, karena politik itu tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Sama halnya dengan Profesor Yusril Ihza Mahendra (YIM) yang baru-baru ini ramai diperbincangkan dipublik setelah mantan Menteri Hukum dan HAM tersebut memutuskan menjadi kuasa hukum pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Padahal pada Pemilu 2014 secara totalitas, YIM sendiri menjadi kuasa hukum pasangan Prabowo-Hatta. Situasi politik nasional ini mencerminkan bahwa politik itu adalah dinamis atau berubah-ubah terlepas pilihan itu adalah pribadi YIM sebagai lowyer. Pembaca sebagai masyarakat biasa yang tidak paham politik tetap bersikap dewasa dalam menyikapi setiap persoalan atas kebijakan politik di negeri ini.

Penulis berharap Wakil Rakyat dan pemimpin yang dihasilkan melalui produk Pemilu 2019 tersebut menghasilkan wakil rakyat dan pemimpin yang berkompetensi dan berstandarisasi. Jika yang terpilih sudah mengantongi kompetensi dan standarisasi rakyat, maka Insya Allah kedepannya bisa berbuat dan berjuang untuk membangun negeri menjadi lebih baik. (***).

Comment

BERITA TERBARU