by

Polisi Tangkap Ahon Penimbun Gas Melon

DIINTEROGASI – Ahon (baju kuning) saat diinterogasi di rumahnya usai gudangnya yang menyimpan 27 tabung gas melon digerebek polisi. Ia diduga menimbun gas elpiji 3 kg untuk dijual kembali dengan harga tinggi. Dalam foto lain tampak tabung gas di bak mobilnya. (Foto: IST/Bambang Irawan)

Ambil Gas di Basel, Simpan di Bateng
27 Tabung dan Mobil Disita

PANGKALPINANG – Aparat Sub Subdit 1 Indag Ditreskrimsus Polda Kepulauan Bangka Belitung (Babel) diam-diam rupanya menyikapi keluhan masyarakat yang sulit mendapatkan gas elpiji bersubsidi 3 Kg belakangan ini di Provinsi Babel. Terbukti, polisi berhasil menangkap Ahon warga Desa Benteng, Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah, yang diduga kuat melakukan penimbunan gas LPG 3 kilogram (kg) atau gas melon di rumahnya.
Dari gudang Ahon yang digerebek Jumat (9/2/2018) sekitar pukul 18.00 WIB, petugas kepolisian mengamankan barang bukti sebanyak 27 tabung gas melon, dan satu unit mobil pick up dengan nomor polisi (Nopol) BN 8836 PN yang diduga digunakan untuk mengangkut tabung-tabung gas.
Kabid Humas Polda Babel, AKBP Abdul Mun’im membenarkan penangkapan Ahon berikut barang bukti lantaran telah melakukan pengangkutan, penyimpanan dan penimbunan gas LPG 3 kg subsidi sebanyak 27 tabung.
“Tersangka Ahon ini kami tangkap karena membeli dari pangkalan LPG 3 kg di Desa Delas dan pangkalan LPG 3 kg di Sadai, Kabupaten Bangka Selatan seharga Rp18.000. Kegiatan yang dilakukan oleh Ahon ini bertujuan untuk mencari keuntungan dan dijual kembali dengan harga Rp20.000 ke masyarakat yang mengakibatkan kelangkaan,” katanya saat dihubungi Rakyat Pos, Minggu (11/2/2018).
Menurut Mun’im, Ahon dalam perkara ini menggunakan modus yakni membeli gas yang disubsidi oleh pemerintah dan dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi diatas harga eceran tertinggi (HET).
“Ahon telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penimbunan gas 3 kg ini dan telah dilakukan penahanan sejak Sabtu 10 Februari 2018,” ungkap Abdul Mun’im.
Untuk sementara ini tersangka dijerat penyidik dengan pasal berlapis guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, yakni Pasal 53 huruf b jo Pasal 23 Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas (Migas).
“Setiap orang yang melakukan pengangkutan tanpa izin usaha pengangkutan akan dipidana hukuman penjara paling lama 4 tahun dan denda paling tinggi Rp40 miliar,” tegasnya.
Lebih lanjut Mun’im menambahkan, penimbun gas melon itu juga akan diancam dengan Pasal 107 jo Pasal 29 Ayat 1 UU RI Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.
“Pelaku usaha yang menyimpan kebutuhan pokok atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga, atau hambatan lalu lintas perdagangan barang akan dipidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling sebesar Rp50 miliar,” tandasnya. (bis/1)

Comment

BERITA TERBARU