Polisi Tangguhkan Afat, Kolektor Puput

  • Whatsapp

Terkait kaki tangan smelter yang ditangkap sebelumnya, polisi akhirnya memberikan penangguhan penahanan terhadap kolektor timah asal Jalan Kimjung Dusun Puput Bawah, Desa Puput, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat, yakni Tjen Sui Fat alias Afat.
Penangguhan penahanan diberikan penyidik Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Babel setelah mengabulkan permohonan yang diajukan istrinya sendiri kepada pihak kepolisian.
“Iya ditangguhkan, karena alasannya sudah tua dan diantara para kolektor dialah yang paling tua. Istrinya yang mengajukan permohonan penangguhan dan itukan hak tersangka,” kata Wayan.
Penangguhan penahanan menurutnya, boleh dikabulkan asalkan tersangka tidak melarikan diri dan tidak menghilangkan barang bukti (BB).
“Saya bisa saja nangguhkan, tetapi kasusnya tetap saya majukan. Dia juga tulang punggung keluarga. Alasan istrinya seperti itu. Yang mengajukan penangguhan ini istrinya dan kita tangguhkan,” ungkapnya.
Wayan mengungkapkan, Afat ditangguhkan penahanannya sudah sejak sepekan yang lalu. “Dia ditahan di sini kurang lebih selama dua minggu dan ditangguhkan seminggu lalu,” jelasnya.
Afat sebelumnya ditangkap saat peringatan Hari Kemerdekaan RI dengan barang bukti 51 karung mencapai 2.028 kilogram (Kg) pasir timah basah. Ia tak berkutik ketika polisi menggerebek gudang berikut rumahnya yang berisi pasir timah ilegal, Kamis (17/8/2018) sekitar pukul 11.00 Wib.
Usai dilakukan pemeriksaan, Afat yang diduga kaki tangan smelter PT Tinindo Internusa tidak dapat menunjukan lagalitas pasir timahnya, sehingga polisi menyita barang bukti (BB) dan mengangkut Afat untuk dijadikan tersangka (Tsk) ke Mapolda Babel.
Setelah Afat, polisi menangkap juga 2 orang kolektor timah di Kabupaten Bangka, satu kolektor diangkut dari Kabuten Belitung dan satu orang penadah timah ilegal di Kabupaten Bangka Salatan.
Polisi dalam menangkap 4 kolektor timah ini memperkarakan asal usul pasir timah yang didapat. Sebab ada kolektor yang membeli pasir timah dari hasil penambangan ilegal di kawasan hutan lindung dan timah diluar Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dimiliki perusahaan peleburan sebagai induk usaha mereka.
Seperti penangkapan Feri asal Belitung, polisi menduga pasir timah yang dimiliki hasil penambangan di luar IUP smelter. Begitu juga dengan pasir timah yang dimiliki JF dan teman joinnya di Kabupaten Bangka. Sedangkan timah milik Joko, kolektor asal Kabupaten Bangka Selatan yang diduga kaki tangan smelter PT Bangka Prima Tin (BPT), polisi menduga timah yang disimpan tersangka berasal dari hasil penambangan di kawasan hutan lindung.
Selain menangkap empat kolektor, polisi juga menyita beberapa ton pasir timah sebagai barang bukti kejahatan. Dari Belitung, sekitar 393 kilogram pasir timah disita. Sedangkan dari Joko Desiar alias Joko (34) di Desa Gadung, Kecamatan Toboali Bangka Selatan polisi mengamankan 69 kampil timah dengan total berat 3.092 kg dan pasir timah basah yang sudah dilobi/dipisahkan sebanyak 2 kampil dengan berat 68 kg. Sementara dari Kabupaten Bangka sebanyak 1,3 ton disita milik kolektor JF dan rekan joinnya. (bis/1)

Related posts