PLN Siap Akomodir Listrik Sektor Pertambangan dan Pariwisata

  • Whatsapp
Babel CEO Forum di Novotel Bangka, Selasa (18/12/2018). (foto: Nurul Kurniasih)

PANGKALANBARU – General Manager PLN Unit Induk Wilayah Bangka Belitung (Babel) Abdul Mukhlis menegaskan pihaknya siap mengakomodir kebutuhan listrik untuk sektor pertambangan dan pariwisata. Hal itu ia katakan dalam Babel CEO Forum yang dilaksanakan di Novotel Bangka, Selasa (18/12/2018).

“Listrik sebagai lokomotif pertambangan dan pariwisata kini sudah tidak ada lagi persoalan, kita sudah kelebihan 80 MVA, di Bangka kapasitas kita 188 Mw demand 145 MW beban tertinggi, kita masih surplus, di Belitung 78 Mw dimana kebutuhan baru 40 Mw,” kata Mukhlis.

Pada kesempatan ini, dia menyebutkan rencana PLN untuk menambah pasokan listrik mulai dari pembangunan PLTU 2×50 Mw di Air Anyir, kemudian di Belitung dan beberapa titik lainnya, termasuk transfer listrik dari Sumsel ke Babel melalui kabel bawah laut.

“Kami juga memperkuat keunggulan sistem dan sedang membangun transmisi 150 KV. Untuk trnamisi eksisting Koba- Toboali, Kelapa- Muntok. Dengan ketersediaan listrik ini, PLN siap mendorong perekonomian di Babel,” kata Mukhlis.

Gubernur Babel Erzaldi Rosman mengapresiasi apa yang sudah dikerjakan PLN untuk mensuplai listrik di Babel termasuk hingga ke pelosok dan pulau-pulau terluar.

“Listrik juga mendukung pariwisata, membuat pandangan lebih indah di waktu malam, sehingga kata kuncinya PLN memberi berkah bagi Babel, tinggal di sektor swasta meraih peluang ini,” katanya.

Erzaldi berharap, melalui Babel CEO Forum, dapat memberikan motivasi dan peluang bisnis baru bagi CEO yang ada di Babel.

“Kepada perusahaan-perusahaan tambang tak hanya membangun pabrik smelter tetapi juga bisa membangun produk hilir dengan pembangunan pabrik lainnya,” katanya.

Dia  mendorong, agar pelaku bisnis untuk dapat mengembangkan inovasi dan produk hilir di Babel dan PLN sudah siap mendukung ketersediaan listrik. Selama ini pun, katanya perusahaan tambang di Babel hanya memproduksi balok timah saja.

“Tak pernah dari ingot jadi handpone, jadi solder. Kalau kita mau berdaya saing tinggi, mutlak harus berpikir menjadikan hilirisasi pertimahan. Harus bicara ada pabrik solder di Babel, perangkat handphone dan ada pabrik industri sekalipun barang jadi tapi menjadikan komponen siap pasar tinggal klik dirangkai jadi barang jadi,” bebernya.(nov)

Related posts