Plagiator

No comment 326 views
Plagiator,5 / 5 ( 1votes )

Karya: Rusmin

Usai menerima penghargaan sebagai penulis cerpen terbaik, sejuta keresahan melanda sekujur tubuh Markudut. Tak ada rasa kebanggaan yang disandang lelaki muda itu usai turun dari panggung kehormatan yang sangat meriah. Tak ada kesumringahan yang terpancar dari wajahnya sebagai pemenang yang dielu-elukan orang. Tak ada rasa bahagia yang membungkus tubuhnya, walaupun sejuta narasi pujian diterimanya dari publik. Tak ada sama sekali.
Padahal acara pemberian penghargaan sebagai cerpenis terbaik itu diserahkan langsung oleh Pak Menteri dan dihadiri seluruh stakeholder dunia sastra dalam sebuah acara yang sangat meriah dan tergolong mewah.
Kilatan blitz dari kamera para jurnalis foto dan pancaran lampu kameramen televisi yang menyorotnya, juga tak membuat wajahnya sumringah. Tak ada sama sekali tanda-tanda kebahagian yang terpancar dari wajahnya. Entah kenapa. Usai menerima penghargaan itu justru kemurungan selalu terlihat dari mimik mukanya.
Malam itu sebelum acara pemberian penghargaan, ketika dirinya masih berada di hotel tempatnya menginap, sebuah pesan masuk ke telepon genggamnya. “Selamat ya, Bung. Kamu memang layak mendapatkan penghargaan itu. Karyamu sungguh hebat. Sebagai teman aku bangga, karena kamu mampu menyisihkan para sastrawan Kota yang hebat-hebat,” bunyi SMS itu.
Markudut terdiam. Lantas dibalasnya SMS itu. “Harusnya kamu yang mendapatkan penghargaan itu, sahabat,” tulisnya.
“Oh, ndak. Itu karyamu. Aku tak berhak,” balas SMS itu lagi. Markudut hanya menelan ludah. Ibarat dirinya bertinju di ring, sebuah pukulan jab telak menghantam mukanya dengan telak. Sangat telak yang bisa membuatnya sempoyongan bahkan kalah TKO.

___

Ketika tiba di rumahnya, usai menerima penghargaan bergengsi itu, jiwa Markudut kembali terpukul. Bagaimana tidak, sebuah koran nasional yang tergeletak di lantai rumah menulisnya sebagai cerpenis terbaik tahun ini yang penuh talenta di halaman satu. Genre tulisannya dianggap baru dan penuh dengan alur-alur yang tak lazim sebagaimana kelaziman sebuah alur cerita dalam cerita pendek. Ada sebuah revolusioner dalam perkembangan dunia cerpen.
“Apakah aku harus mengembalikan penghargaan ini kepada panitia? Atau apakah penghargaan ini kuserahkan kepada dia?” pikirnya.
Markudut masih ingat dan ingat sekali bagaimana cerpen itu lahir. Saat itu dirinya sedang melakukan tour literasi keliling kampung. Di Kampung Damai, dia bertemu dengan seorang penggiat sastra. Namanya Lintang. Sebaya dengan dirinya.
Selama berada di Kampung Damai, Lintang menjadi sahabat karibnya. Mereka berdua bak sahabat lama yang baru bertemu setelah sekian lama tak berjumpa. Hanya dalam waktu singkat keduanya sangat akrab. Kemana-mana keduanya selalu bersama dengan motor tua milik Lintang. Bak Romi dan Yuli. Selalu lengket. Apalagi Lintang mempersilahkan Markudut menggunakan rumah bacanya sebagai tempat tinggalnya selama berada di kampung.
“Semoga Bung betah tinggal disini. Dan saya siap membantu kegiatan literasi Bung untuk pembangunan rumah baca di kampung kami,” ujar Lintang saat menyambut kedatangan Markudut.
“Rumah ini sangat istimewa sekali bagi saya, Bung. Malah terlalu istimewa sekali,” jawab Markudut.
Markudut masih ingat pada suatu malam yang bening. Pada malam cahaya rembulan bercahaya dengan indahnya, dia secara tak sengaja menemukan sebuah cerita pendek yang tergeletak di atas meja kerja milik Lintang. Saat itu dia sedang menyusun buku yang berserakan di atas meja kerja Lintang. Sebuah cerita pendek yang ditulis dengan pulpen itu menarik perhatiannya.
Sebagai penulis cerpen, dia sangat merasakan getaran yang hebat dan luarbiasa dalam alur cerita pendek milik Lintang itu. Sebuah alur yang tak lazim dan belum pernah diperkenalkan penulis cerpen manapun di negeri ini. Sebuah eksprimen yang berani dan berhasil.
Diam-diam dia amat mengagumi karya sahabat barunya itu. Dia sama sekali tak menyangka di kampung yang jauh dari kota ada sorang pengarang cerpen yang hebat.
“Bung. Kalau tulisanmu ini dipublikasikan di media nasional, saya yakin akan menggemparkan jagad raya sastra negeri ini,” puji Markudut. Dan Lintang cuma tertawa.
“Bung ini ada-ada saja. Bisa juga berguyon ria untuk menyenangkan hati orang kampung seperti saya ini,” jawab Lintang dengan penuh tawa.
“Serius Bung. Serius. Karya ini bisa mengemparkan jagad raya dunia sastra kita,” ujar Markudut dengan mimik muka serius.
“Bung. Aku ini siapa. Cuma penulis kampung. Mana kampungnya tak terdaftar pula dalam peta dunia. Mana mungkinlah,” elak lintang.
“Bisa-bisa bagai pungguk merindukan bulan. Sudahlah, lebih baik kita makan. Perutku sudah lapar nih,” sambung Lintang sembari mengajak Markudut makan.

___

Tiga bulan usai tour keliling literasinya, Markudut mendapat info dari seorang redaktur budaya media nasional yang menyatakan cerpennya yang berJudul “Presiden Dan Istri Tirinya” akan dimuat di harian itu pada edisi minggu di rubrik budaya. Markudut kaget setengah mati. Soalnya dia tak teringat lagi dengan cerpen itu. Cerpen itu dititipkannya kepada rekannya yang bekerja sebagai redaktur budaya sebuah media massa, saat dirinya bertemu secara tak sengaja dalam sebuah acara peluncuran buku. Saat itu dia menitipkan cerpen itu.
Dan yang amat mengagetkan Markudut, cerpen itu ditulis atas namanya mengingat saat dia meminta izin kepada Lintang untuk mengirimkanya ke media massa, tak ada nama pengarangnya. Dan oleh redaktur budaya media massa, karya itu dianggap sebagai karya Markudut.
Dan yang kembali mengagetkan Markudut, cerpen itu terpilih sebagai cerpen terbaik tahun ini oleh sebuah yayasan buku. Para penilai cerpen di yayasan buku itu menganggap alur dan tema dalam cerita itu tak lazim dalam alur sebuah cerita pendek, namun tetap mampu memikat pembacanya hingga selesai.
“Ini karya yang luarbiasa,” ujar seorang juri.
“Masterpiece dunia sastra kita,” sambung yang lain.

___

Usai Sholat Subuh, Markudut langsung menuju terminal. Tujuannya jelas menuju Kampung Damai, dimana Lintang berada. Dia ingin memberikan penghargaan ini kepada Lintang, sahabatnya. Dia yang layak menerimanya. Dialah penulis sesungguhnya. Lintang. Bukan Markudut. Markudut tak mau disebut sebagai seorang plagiat, sebuah julukan yang tabu dalam dunia sastra yang mengagungkan keaslian sebuah karya.
Sinar mentari pagi menghantarkannya menuju rumah Lintang di Kampung Damai. Sejuta senyum terpancar di wajah Markudut dalam perjalanan. Ya, dia akan mengembalikan penghargaan bergengsi itu kepada pemiliknya yang sah. Dia adalah Lintang, sahabatnya. (***)

No Response

Leave a reply "Plagiator"