by

Pilih Politisi Idealis atau Sekuleris?

-Opini-163 views

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Menjelang pemilu baik pemilihan umum untuk kepala daerah, legislatif maupun presiden dan wakil presiden sering kita dengar seruan dari KPU, Bawaslu hingga tokoh masyarakat bahkan tokoh agama untuk menjauhi politisi yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan kontestasi. Politisi yang tidak memiliki idealis akan menjadi benalu dan nantinya akan melahirkan kebijakan-kebijakan dzalim atas rakyatnya. Oleh karenanya, penting bagi kita sebagai pemilih untuk mengetahui standar kriteria politisi idealis.

Pembaca yang budiman, “kaca mata” bagi seorang muslim dalam memandang sesuatu itu baik atau buruk, ideal atau tidak, terpuji atau tercela tidak boleh disandarkan pada nafsu
dan pemikiran manusia yang serba terbatas. Satu-satunya yang layak menjadi standar dalam menilai sesuatu adalah apa yang kemudian sudah menjadi ketetapan dari Dzat yang menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan. “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan mana yang benar dan Dia Pemberi syariat.” QS. Al An’am: 57.

Dalam sudut pandang Islam, politisi idealis itu adalah politisi yang menjalani kehidupannya baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat selalu terikat pada hukum syara’. Pemikiran, perasaan dan perbuatannya selalu terpaut pada Qur’an dan Sunnah.
Ia menjadikan standar halal dan haram dalam bersikap dan berprilaku sehingga dalam melakukan aktivitas politik (mengurusi urusan umat/ rakyat) tidak melabrak apa yang dilarang oleh Allah Azza Wajalla.

Secara pribadi, politisi idealis tidak melakukan aktivitas kesyirikan seperti mendatangi tukang ramal/ dukun/ “orang pintar”, memakai jimat dan lain sebagainya dalam rangka untuk memenangi kontestasi pemilu. “Siapa saja yang mendatangi seorang peramal, lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka sholatnya tidak diterima selama empat puluh malam.”
HR. Muslim.

Hal ini berbeda dengan politisi sekuleris yaitu politisi yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik. Disatu sisi ia mengimani, mengambil dan menjalankan sebagaian ajaran Islam dan di sisi lain meninggalkan sebagian ajaran Islam lainnya. Contohnya ada seorang politisi yang berama Islam tapi tidak percaya pada alam akhirat. Ia menganggap ajaran agama (Islam) ini seperti hidangan prasmanan yang bisa dipilah-pilih, diambil sesuka hati. Syariat Islam yang menguntungkan diambil dan yang berat (merugikan bagi dirinya) dicampakkan begitu saja. Menjelang pemilu biasanya mereka mendatangi penasihat spiritual dalam hal ini dukun dan lain sebagainya meminta jimat kemenangan.

Mengambil/ mengimani sebagian dan meninggalkan/ mengingkari sebagian ajaran Islam tidak dibenarkan. Allah SWT berfirman, “Apakah kamu mengimani sebagian dai Al-Kitab (Qur’an) dan mengingkari sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi yang berbuat demikian melainkan kenistaan di dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat.” QS. Al Baqoroh: 85.

Politisi idealis menjadikan Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukum. Mereka meyakini dengan berpegang teguh pada dua hal tersebut mereka akan selamat dunia dan akhirat.
Hal ini tidak berlebihan dikarenakan Rosululloh Saw pada hai wada (haji perpisahan) berwasiat kepada kaum muslimin agar berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah supaya tidak tersesat.

Politisi sekuleris gemar mempermainkan agama dan “menjual” ayat-ayat Allah
untuk kepentingannya pribadi/ golongannya. Seringkali mereka memelintir tafsir dalil Qur’an dan/ atau Sunnah untuk membenarkan kedzaliman yang mereka lakukan. Bahkan digunakan untuk menyerang dan membungkam lawan politiknya. Sebaliknya, jika ada kepentingannya yang terusik, mereka tanpa malu dan tak takut dosa menyembunyikan dalil-dalil yang jelas.

Contoh dari hal di atas yaitu dalil tentang haramnya memakan riba. “Hindarilah tujuh hal yang membinasakan.” Ada yang bertanya, “Apakah tujuh hal itu wahai Rosululloh?” Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa dengan cara yang haram, memakan riba, memakan harta anak yatim, kabur dari medan perang, menuduh berzina wanita suci yang sudah menikah karena kelengahan mereka.” HR. Bukhori dan Muslim.

Sistem ekonomi ribawi yang mendarah daging dan menjadi sumber pendapatan dan belanja suatu negara mengakibatkan sulit rasanya kita mendengar para elit politisi bersuara lantang untuk menghentikan praktik ribawi tersebut. Seakan mereka menyembunyikan dalil larangan Allah berkenaan ribawi. Kita harus mengasihani politisi semacan ini, karena Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa saja yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab (Qur’an) dan menjualnya dengan harga yang tidak sedikit (murah), mereka itu tidak menelan ke dalam perutnya melainkan api; Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak menyucikan mereka dan bagi mereka siksaan yang amat perih. QS. Al Baqoroh: 174.

Politisi idealis adalah politisi yang berahlakul karimah, memiliki keahlian, kemampuan dalam memimpin, memiliki etos kerja dan amanah (bertanggung jawab). Sebaliknya, politisi sekuleris adalah politisi yang tidak memiliki ahlak yang baik. Ia tidak sekedar menipu rakyatnya, tidak menepati janji (terutama janji saat kampanye) atau pernyataannya tidak sinkron dengan perbuatannya, namun ia juga secara terang-terangan melanggar dan menolak penerapan hukum syara’. Misalkan melegalkan LGBT, miras, melarang penerapan syariah Islam dalam kehidupan dan lain sebagainya.

Politisi idealis adalah politisi yang tidak mengambil harta yang bukan haknya. Ia yang tidak tunduk pada kapitalis penjajah. Bentuk ketidaktundukannya yaitu tidak memberikan jalan bagi kapitalis penjajah untuk menguasai sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak. Politisi idealis tidak akan tidur nyenyak sebagaimana Amirul Mukminin Umar bin Khottob yang selalu berkeliling di malam hari memastikan rakyatnya tidak ada yang kelaparan.
Umar pun sangat khawatir bila ada jalan yang rusak (berlubang) sehingga ada yang menjadi korban walau itu seekor keledai.

Di sisi lain, secara sosial politisi sekuleris tidak lagi memperhatikan kesejahteraan rakyat. Hal yang dipikirkannya yaitu balik modal, memperkaya diri, memfasilitasi kapitalis penjajah untuk menguasai SDA yang menguasai hajat hidup orang banyak, menjual aset-aset rakyat untuk kepentingan mereka. Politisi sekuleris selalu menipu rakyatnya atas nama kepentingan rakyat. Padahal, Rosululloh SAW bersabda “Tidaklah seorang pemimpin kaum muslim mati dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali diharamkan baginya masuk surga.” HR. Muslim.

Pembaca yang budiman, lahirnya elit politisi sekuleris tidak lepas dari lingkungan masyarakat dan sistem kehidupan yang sekuler, materialistik dan hedonis. Hal inilah yang menyebabkan elit politisi tidak lagi menjadikan Qur’an dan Sunnah sebagai standar dalam berpikir, bersikap dan berprilaku. Dampak buruknya sudah pasti, ketika mereka terpilih akan melahirkan kebijakan yang tidak pro rakyat melainkan pro kepada kapitalis penjajah yang mensubsidi kemenangannya. Oleh karennya, menyikapi hal ini kita harus melek politik Islam sehingga dapat membentengi diri dari politisi sekuleris.Wallahu’alam [****].

Comment

BERITA TERBARU