Petuah Najur Atau Mancing Orang Jerieng Peradong

  • Whatsapp

Oleh: Suryan
Guru SDN 14 Parittiga, Pemerhati Manuskrip Kuno Lokal

Potongan Manuskrip bacaan ketika hendak mancing atau najur yang ditulis oleh Kek Yasir (dokpri)

Memancing adalah salah satu aktivitas yang sangat digemari oleh kalangan tertentu. Pasalnya, memancing juga dijadikan sebagai hobi. Terkadang jumlah hasil yang didapatkan bukanlah sebuah prioritas dari aktivitas ini, akan tetapi sensasi strike dalam memancinglah yang mereka cari. Istilah strike (baca strike mancing) dikatakan demikian apabila pemancing sedang menarik ikan (ketika umpan disambar ikan), strike pun sering dirasakan pemancing sangat istimewa hal itu disebabkan karena strike adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh semua pemancing.
Pembahasan ini bukan pada penjelasan tentang memancing, akan tetapi mengenai petuah yang dilakukan oleh Orang Jerieng yang ada di kampung Peradong Kecamatan Simpang Teritip dalam hal memancing. Penitik-beratan dalam pembahasan ini ketika memancing di air tawar atau sungai.
Saat musim kering tiba (kemarau), inilah saat untuk melakukan aktivitas memancing tersebut. Dalam istilah Orang Jerieng Peradong, atau beberapa daerah sekitar yang sama dalam penyebutan istilah, ada dua istilah yang sering dipakai dalam memancing ini. Istilah pertama dikenal dengan najur, yang diartikan dengan aktivitas memancing dilakukan dengan cara memberikan umpan untuk beberapa pancing/kail (jumlah yang banyak) yang dipasang di anak aliran sungai (air tawar), dipasang berjarak kurang lebih 4 sampai 5 meter (atau sesuai dengan keinginan) antara pancing yang satu dengan lainnya. Biasanya najur ini dilakukan pada sore hari (waktu memasang) dan mengangkatnya keesokan harinya.
Istilah yang kedua dikenal dengan nyirep, yang diartikan dengan aktivitas memancing dilakukan pada waktu sore hari menjelang malam. Nyirep ini dilakukan sebagaimana memancing biasanya dengan menggunakan stik atau kalau istilah Peradong baur dengan umpan cacing atau lainnya. Biasanya ikan yang didapatkan adalah ikan baong (baung), keleik (lele), aron/kiong (gabus), patong, kelperas, lunduk, kelmureng, ben, seluang, tepalak, dan beberapa nama lokal lainnya.
Selain dua istilah tersebut, aktivitas memancing dilakukan sebagaimana biasanya. Ada hal unik lainnya dalam memancing ala Orang Jerieng Peradong, yakni ngeraben. Ngeraben adalah suatu yang menjadi pantangan yang sangat dijauhi oleh orang yang hendak memancing, pasalnya jika orang hendak memancing ini di raben, maka secara kepercayaan setempat tidak bakalan mendapatkan hasil ketika memancing, bahkan akan mendapatkan gangguan dari makhluk-makhluk halus. Oleh karena itu ketika orang yang hendak pergi mancing ada yang ngeraben, biasanya niat tersebut akan diurungkan (tidak jadi pergi mancing).
Ngeraben ini diartikan dengan orang yang ingkar janji saat hendak memancing atau ada seseorang yang menyebutkan hendak ikut memancing tetapi tidak jadi ikut, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Kalaupun masih mau pergi, harus ganti niat dan tujuan tempat memancingnya. Selanjutnya ada istilah debul, yang dimaknai dengan ketiadaan kepuleh, yakni tidak mendapatkan hasil tangkapan pancing alias zonk.
Istilah lainnya ada sebuah ucapan semacam serapah yang disebutkan ketika telah mendapatkan tangkapan pertama, yang diucapkan pada saat melepas ikan dari kail/pancing. Bunyi istilahnya adalah “kundang-kundang kawak kau, sak dak ngundang matei seikok-ikok kau”. Artinya undang-undanglah kawanmu (untuk ke sini), jika tidak kamu undang kamu mati sendirian. Bacaan ini dimaksudkan agar ikan banyak datang menangkap umpan pancing.
Ada juga petuah lain, yakni dilarang ngelakah baur pacing (dilarang melangkah stik/tongkat pancing). Ini dipercaya apabila stik pancing dilangkah, maka akan menjadi pantang untuk ikan menyambar umpanpancing. Oleh sebab itu, melangkah stik pancing menjadi pantangan bagi masyarakat Peradong. Kemudian pada saat memasang umpan pancing ada satu hal yang biasa dilakukan, yakni ngeludah upan (meludahi umpan) yang tujuannya untuk menarik ikan agar tercium bau umpan.
Selain itu, secara ajaran Islam juga orang tua-tua dahulu mengenal bacaan atau jampi pada saat hendak memancing. Bacaan tersebut tertulis dalam sebuah manuskrip yang ditulis oleh Kek Yasir (Muhammad Yasir) Peradong tahun 1970. Untuk sumber menjadikan bacaan tersebut sebagai bacaan/jampi ketika hendak memancing belum diketahui, tetapi secara riwayat pengajaran beliau disebutkan berguru kepada Haji Batin Sulaiman Peradong yang dikenal sebagai penyebar Islam di Peradong dan sekitarnya. Menurut pengamatan penulis, bacaan ini dinisbatkan kepada Nabi Sulaiman sang penakluk para binatang.
Bacaan tersebut berdasarkan potongan manuskrip berbunyi “ini do’a jika hendang mancing atau najur bacalah ya, bismillahirrahmanirrahim, wattaba’uu ma tatluunasy syayaatiin ,alaa mulki sulaimaan wamaa kafara sulaimaan walaakinnasy syayaatiin kafarau yu’allimuunan naasas sihra wamaa unzila ‘alal malaakaini bibaabila haaruta wamaaruuta (QS. Al-Baqarah: 102). Wallahua’lam.(***).

Related posts