Pesisirku, Kampungku, Tanjung Ketapangku

  • Whatsapp

Oleh: Herman, SP.,M.Eng.
Forum Kopiah Resam Bappelitbangda Basel

SUDAH semestinya kita melihat segala potensi dan permasalahan keberadaan kampung pesisir dengan segala pernak pernik lingkungan, karakteristik serta hubungan sosial budaya masyarakatnya yang multi etnis di kawasan pesisir, keikhlasannya selama ini dalam menerima dogma bahwa kampung mereka merupakan kampung yang marginal dan kumuh sebagai suatu penanganan serius yang harus dirumuskan melalui kebijakan-kebijakan yang berkeadilan, mengingat berbagai fenomena yang terjadi baik lingkungan pemukiman, estetika, pertumbuhan ekonomi lokal pesisir, isu-isu kerasnya karakter masyarakat mereka, ketidakteraturan dan inkonsistensi spasial pesisir serta interaksi/transformasi nilai-nilai sosial kultural.

Sudah sekian lama kita menutup mata dan terlupakan atau sengaja untuk dilupakan, sehingga Pengambil Kebijakan terlihat tidak berdaya dengan tidak berbuat apa-apa. Terbukti sebelumnya, hampir tidak ada satupun aksi nyata alih-alih memperhatikan lingkungan mereka mengenai penataan pemanfaatan ruang pesisir baik lingkungan pemukimannya, pemberian motivasi, permberdayaan masyarakatnya ataupun pendampingan kepada mereka untuk mendampingi mereka agar ada keberdayaan dalam segala kekurangannya, yang pastinya bukan saja karena prilaku mereka, tapi akumulasi dampak dari prilaku kita semua dalam menerjemahkan lingkungan. Tentunya kita semua sepakat bahwa sangat terbuka peluang dan harapan untuk mereka hidup dengan semestinya, tertawa dan menari ria dengan estetika keunikan lingkungannya dan bermartabat dengan lingkungannya.

Mestinya pernyataan yang muncul: “segala permasalahan dari berbagai sudut yang negatif dapat kita jadikan potensi untuk membalikkannya menjadi sesuatu yang positif dengan uluran pemikiran, bagaimana mengidentifikasikannya, bagaimana memetakannya, bagaimana mengkoordinasikannya, bagaimana mendesignya, bagaimana merumuskannya dan terakhir bagaimana mengimplementasikannya?

Baca Lainnya

Secara pemahaman, makna dan fungsi laut sebagai suatu sumber daya alam (SDA) yang bersifat common property maupun open acces memberikan konsekuensi bahwa laut terbuka untuk dimanfaatkan oleh siapa saja dan sekaligus dipergunakan untuk apa saja dalam kontek kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Kondisi bentang topografinya yang landai dan menjadi outlet keluarnya berbagai material atau sisa-sisa material dari lingkungan pemukiman diatasnya telah menyebabkan kekumuhan dan tetidakaturan lingkungan pemukimannya. Selama ini mereka menerima kenyataan itu, kewalahan dalam mengantisipikasikannya meskipun kita juga tidak menutup mata memang masih ada faktor kesengajaan dari mereka sendiri, masih ada ketidakpedulian dengan lingkungannya yang semuanya menambah rumit kondisi lingkungan pemukimannya. Lantas apakah di antara kita yang notabene memiliki kapasitas pemikiran, memiliki kapasitas sensitivitas lingkungan sosial, memiliki intuisi terhadap estetika ataupun yang lebih menyadari kita karena keberadaan kita secara takdir sebagai entitas yang harus berbuat dengan apa yang harus kita berbuat.

Potensi atau Masalah?
Kiranya tidak perlu kalau kita selalu melihat sisi negatif segala persoalan yang ada, salah satu contonya di pesisir Kampung Tanjung Ketapang Toboali, karena kita hanya akan membongkar aib sendiri, dimana selama ini pemerintah tidak berdaya dan kehilangan solusi dalam menanggapi permasalahan klasik tersebut yang tentunya benar-benar mereka saksikan. Kita atau para pengambil kebijakan lupa bahwa mereka sangat terlibat dalam menumbuhkembangkan ekonomi lokal yang bermartabat di kampungnya sendiri?

Kalau kita mencoba memandang persoalan kampung pesisir Tanjung Ketapang Toboali secara utuh baik dari segi ketata-ruangan, keunikan sosial budayanya, keharmonisan akulturasi budaya masyarakatnya apalagi potensi kekuatan ekonomi lokalnya, agaknya kita mendapatkan jawabannya. Kuncinya adalah melihat potensi pada permasalahan atau melihat sisi positif pada sesuatu yang negatif merupakan suatu kreativitas (Olson, 1980). Kreativitas mempositifkan yang negatif ini akan memunculkan pemecahan masalah dengan cara mengembangkan potensi.

Fritjof Capra dalam bukunya The Tao of Physics mengatakan bahwa dari kacamata perencanaan lingkungan dikenal adanya dua paradigma. Pertama, adalah paradigma Newtonisme atau Cartesian yang serba deterministik dan reduksionis. Dalam konteks ini segala pernak pernik bangunan pemukimannya dengan berbagai sudut negatifnya harus dihapuskan. Hal ini mungkin dapat dicontohkan dengan pembongkaran pemukiman atau bangunan-bangunan lainnya disertai dengan pengawasan intensif dari para pengambil kebijakan. Penulis yakin kita semua sepakat untuk tidak menyetujui paradigma yang satu ini. Yang kedua, paradigma Taoisme
yang mempertahankan dan memberikan ruang yang cukup terhadap keberadaan pemukiman pesisir Tanjung Ketapang dengan penciptaan kesan yang unik, eksotis dan arsitektural berlandaskan keunikan nilai-nilai keharmonisan akulturasi sosial budaya, pendampingan dan pemberdayaan masyarakat (advokasi and community empowerment) serta peningkatan kapasitas (capacity building) atau kedepan mungkin saja regulasi guna keberlanjutan lingkungannya.

Sudah semestinya kita semua, baik pemerintah setempat dan stakeholders yang lainnya harus melihat permasalahan keberadaan pemukiman pesisir Kampung Tanjung Ketapang di kawasan pesisir Toboali sebagai suatu potensi yang dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang positif atau bermanfaat. Bahkan kita harus optimis suatu saat nanti diberi kesempatan untuk melihat Kampung Pesisir Tanjung Ketapang sebagai suatu kawasan pesisir yang unik dan eksotis. Kita akan berbuat, kita sedang berbuat, kita terus berbuat untuk mewujudkan itu semua. (***)

Related posts