Kiri Sayap
kanan Sayap Kategori
Dibawah Menu

Peserta Didik Slow Learner dalam Pembelajaran Daring

Pembelajaran daring merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan dalam kegiatan belajar belajar mengajar di sekolah agar terus berlangsung sebagaimana  mestinya walaupun harus dilakukan di rumah masing-masing peserta didik. Akibat dari terus bertambahnya kasus Covid-19 yang terus meningkat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. “Salah satunya Covid-19 di Bangka total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 sudah mencapai angka 984 dimana 906 dinyatakan sembuh.” (Rakyat Pos, 19 januari 2021). Dalam pembelajaran daring yang dilakukan oleh guru SMA Negeri 1 Kelapa melalui Google Classroom (GC), Ada kalanya ditemukan peserta didik yang slow learner dalam pembelajaran.

Slow Learner atau yang lebih akrab di telinga para pendidik di sekolah dengan nama lainnya peserta didik yang lambat belajar. Menurut Madani (2017), Peserta didk dengan lambat belajar adalah peserta didik yang lambat dalam proses belajar, sehingga waktu yang dibutukan peserta didik tersebut lebih lama dibandingkan dengan siswa lainnya dalam taraf potensi intelektual yang sama. Peserta didik slow learner kerapkali tidak terdeteksi di sekolahnya. Hal tersebut disebabkan oleh mereka bukanlah peserta didik yang tidak mampu atau mengalami kesulitan belajar serta tidak menunjukkan kelainan pada perkembangannya seperti yang terdeteksi pada anak dengan keterbelakangan mental. Melainkan, mereka seperti peserta didik yang normal sama seperti teman-temannya, namun lambat di dalam menyerap materi pembelajaran dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Sehingga terkadang orang mengidentifikasikan peserta didik slow learner ini dengan peserta didik yang bodoh.

Menurut Mahastuti (2011), ada beberapa ciri peserta didik slow learner yang dapat diketahui diantaranya: (1) anak lambat belajar umumnya mengalami kegagalan dalam memahami pelajaran dan konsep-konsep dasar di bidang akademik, misalnya membaca, menulis, berhitung dan bahasa; (2) kesulitan dalam menentukan arah, waktu, dan ukuran seperti arah kanan dan kiri, depan dan belakang, lebar dan sempit; (3) mempunyai daya ingat yang rendah. (4) sulit bersosialisasi dengan lingkungan; dan (5) lebih sering pasif, minder dan menarik diri dari pergaulan.

Berkaitan dengan ciri-ciri peserta didik slow learner, guru dalam pembelajaran biologi kelas XI materi sistem pencernaan menemukan adanya peserta didik SMA Negeri 1 Kelapa yang slow learner. Peserta didik tersebut diberikan link materi untuk dipahami ditambah dengan buku penunjang dari sekolah. Pada materi tersebut, ada penjelasan tentang Body Mass Indeks (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Basal Metabolic Rate (BMR). Kemudian pada saat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dengan menghitung berat badan, tinggi badan kemudian dimasukkan ke dalam rumus BMI dan BMR, peserta didik ada yang kebingungan. Guru bisa mengetahui hal tersebut dari pertanyaan peserta didik melalui WhatsApp (WA). Hal ini membutikan bahwa peserta didik tersebut slow learner dari segi membaca dalam hal kurang sanggup mempraktikkan isi bacaan menghubungkan antara teori dan praktik. Padahal guru berpikir bahwa materi tersebut sangat mudah bagi mereka untuk dipahami sendiri di dalam pembelajaran daring dari rumah.

Menurut Artikel Pendidikan Menulis bersama Aswir (2018), ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh peserta didik dalam menghadapi peserta didik yang slow learner, yaitu: Pertama, Tentukan target capaian. Artinya Dimanapun guru mengajar di sekolah akan selalu menemukan adanya anak slow learner sehingga pencapaian hasil belajarnya tidak bisa dipaksakan sama dengan kelompok siswa lainnya. Di dalam dunia pendidikan secara garis besar guru menghadapi tiga kelompok peserta didik yang dikenal dengan istilah fast students, average students dan slow students. Fast studeents adalah peserta didik yang selalu menjadi kebanggaan gurunya baik dari segi penampilan dan terkenal cerdas karena cepat dalam menangkap materi pembelajaran. Biasanya kelompok peserta didik fast students selalu menjadi juara di kelasnya.Sedangkan average students adalah kelompok peserta didik yang punya kemampuan rata-rata, tidak terlau cerdas tetapi tidak pula terlalu lambat. Kalau slow students adalah mereka yang lambat dalam menyerap materi pembelajaran. Sehingga untuk siswa yang slow learner, capaiannya bisa mendapat nilai minimal saja atau kkm saja.

Kedua, Memelihara kesabaran. Aspek terpenting dalam menghadapi  peserta didik slow leraner adalah kesabaran guru selama proses belajar mengajar. Sebab, masalah utama peserta didik kelompok ini adalah lemahnya kemampuan kognitif mereka. Contoh pada pembelajaran biologi kelas XI materi pencernaan yang dianggap sulit maka guru harus mengarahkan dengan sabar, menjelaskan bagaimana cara mereka bisa menghitung BMI dan BMR, menjelaskan bagaimana mereka bisa menghitung jumlah kalori yang di makan pagi hari tadi dengan mengingatkan bahwa merekaharus membaca tabel kalori makanan dengan benar. Sehingga diharapkan peserta didik dapa menghitung, BMI, BMR dan jumah kalori makanan dengan benar.

Ketiga, gunakan pendekaan dan alat peraga pembelajaran yang menarik. Keempat, Libatkan teman sebaya. Lima, Beri mereka penghargaan. Di dalam pembelajaran daring, guru dapat memuji dengan mengatakan excellent, bagus atau ungkapan sejenisnya agar dapat membangkitkan semangat untuk berprestasi. Contoh guru dapat memberikan respon kepada peserta didik SMA Negeri 1 Kelapa terhadap tugas yang mereka kerjakan dengan memberikan komentar yang positif berupa “betul sekali dengan pemahamanmu”, agar motivasi mereka meningkat dalam pembelajaran. Keenam, menciptakan kerjasama yang baik dengan orang tua peserta didik. Sering berkomunikasi dengan orangtua peserta didik akan mendatangkan hasil yang lebih baik.

Semoga guru dapat memahami perbedaan individu yang ada pada peserta didik slow learner agar tujuan pembelajaran dapat tercapai sebagaimana mestinya, walaupun pembelajaran harus dilaksanakan daring di masa pandemi Covid-19.(***).

 

Diatas Footer
Light Dark