by

Pesan Misterius

Karya: Musda Quraitul Aini

Awan hitam menyelimuti suasana pagi hari itu. Udara dingin serta aroma khas bunga Kamboja tercium jelas di sekitarnya. Di sana, terlihat beberapa orang berpakaian serba hitam berkumpul, menangis dan menatap penuh rasa iba. Tatapannya tertuju pada dua orang anak kecil yang sedari tadi duduk bersimpuh dan menangisi kepergian ibunya untuk selamanya.
Air mata mengalir di wajah manis mereka kemudian jatuh membasahi pusara ibunya yang dipenuhi berbagai macam bunga. Rerintikan hujan pun ikut turun ke permukaan bumi seolah merasakan kesedihan mendalam kedua anak itu. Perlahan orang-orang meninggalkan tempat itu.
“Dani, Dini.. Ayo Nak, kita pergi,” ajak seorang pria.
“Tapi, Pah.. Mamah…” kata Dini sesegukan.
“Mama kalian udah tenang di sana, Nak,” kata seorang wanita di sampingnya.
“Ayo, Nak,” kata pria itu lagi.
Lelaki itu beserta kedua anaknya lalu pergi meninggalkan pemakaman diikuti para kerabatnya.
***

Tiga tahun setelah sepeninggal ibunya, Dani dan Dini tumbuh menjadi remaja belia yang cantik dan tampan. Kini mereka telah duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kesehariaan mereka dihabiskan hanya di dalam rumah. Selama ayahnya pergi, mereka tak diizinkan untuk keluar rumah. Ayahnya sangat menyayangi kedua anak kembar ini. Ia tak mau apa yang dialami oleh istrinya dulu, terulang menimpa anak kembarnya.
Segala keperluan Dani dan Dini sudah dipenuhi oleh Bik Aisyah. Perempuan setengah baya itu merupakan orang kepercayaan ayah Dani Dini untuk menjaga serta mengurusi mereka saat ayahnya pergi ke luar kota.
“Bik, kapan Papa pulang?” tanya Dini.
“Nanti malam, Non. Papa Non juga bilang kalau ia akan membawa seseorang yang mau diperkenalkan sama Mas Dani dan Non Dini,” jawab Bik Aisyah.
“Siapa, Bik?” tanya Dina.
“Entahlah Non, Bibik juga kurang tahu. Sepertinya Papa Non ingin bikin surprise buat Non Dini dan Dani,” kata Bik Aisyah.
Malam harinya, terdengar suara mobil ayahnya berhenti. Dani dan Dini bergegas keluar dari kamar untuk menemui.
“Paapaa…” seru Dini saat menuruni tangga rumahnya.
Ayahnya terlihat memasuki rumah. Ia diikuti seorang wanita cantik. Bik Aisyah tampak mengambil jas dan tas yang dibawa Pak Andi, ayah Dani dan Dini. Pak Andi memeluk kedua anak kembarnya itu.
“Papa, Dani kangen,” kata Dani.
“Dini juga Pa. Papa lama banget sih pulangnya,” sahut Dini.
“Iya sayang, Papa juga kangen dengan kalian,” kata Pak Andi.
“Oh iya, Papa punya oleh-oleh buat kalian,” imbuhnya sembari memberikan bingkisan berwarna merah kepada Dini dan Dani.
Mereka berdua lalu membuka bingkisan yang diberikan. Ternyata Pak Andi menyiapkan hadiah boneka lucu untuk Dini dan sebuah mobil remote control untuk Dani.
“Makasih ya, Pa. Aku suka,” kata Dani dan Dini sembari memeluk ayahnya.
“Oya, Papa hampir saja lupa. Papa membawa seseorang yang ingin Papa perkenalkan dengan kalian,” kata Pak Andi.
Seketika muncul seorang wanita cantik dari belakang ayahnya. Sontak saja, Dani dan Dini terkejut melihat kehadiran wanita yang berada di belakang ayahnya.
“Bu Tyas!!!” kata Dani Dini kompak.
Pak Andi bingung karena kedua anaknya telah mengenal wanita yang ingin diperkenalkannya. Begitu juga sebaliknya. Tyas, wanita yang berada di samping Pak Andi terkejut bahwa Dani dan Dini merupakan anak lelaki itu.
Dini lantas menjelaskan kepada ayahnya bahwa Bu Tyas adalah guru Bahasa Indonesia tempat mereka bersekolah. Mendengar itu, Pak Andi merasa senang karena kedua anaknya telah mengenal baik Tyas.
Sebenarnya ia ingin mengenalkan Tyas kepada kedua anaknya dengan maksud untuk memberitahu bahwa ingin menikahi Tyas. Dan berharap Tyas dapat menggantikan sosok ibu yang dapat memberikan kasih sayang bagi kedua anaknya.
***

Hari pernikahan Andi dan Tyas pun tiba. Pernikahan keduanya dilangsungkan dengan acara yang begitu meriah. Pesta itu tampak begitu ramai dihadiri beberapa kerabat dan kolega Pak Andi. Namun, di sana tak terlihat kehadiran Dani dan Dini. Ternyata si kembar itu tak menyetujui ayahnya menikah lagi dengan Bu Tyas. Mereka tidak ingin Bu Tyas menggantikan posisi ibu yang telah lama ditinggalkan mama mereka.
Sejatinya Pak Andi telah mencoba meyakinkan Dani dan Dini, namun keduanya tetap tidak ingin Bu Tyas menjadi ibu tiri mereka. Apalagi setelah menikah dengan Pak Andi, Bu Tyas tinggal bersama Dani dan Dini. Walaupun telah tinggal serumah, Bu Tyas jarang sekali berbicara dengan kedua anak tirinya tersebut.
Meski Bu Tyas telah berusaha bersikap baik kepada kedua anak tirinya tersebut, namun Dani dan Dini tetap tak pernah menganggap Tyas sebagai ibunya. Bahkan, di sekolah mereka tak saling menyapa. Tak ada satu pun warga sekolah yang tahu bahwa Bu Tyas, adalah ibu tiri dari Dani dan Dini.
***

Lalu, terdengar seseorang mengetuk pintu. Bik Aisyah membuka pintu rumah. Pintu terbuka, tampak beberapa polisi berpakaian dinas di balik pintu tersebut.
“Permisi, apa benar ini rumah Pak Andi?” tanya seorang polisi.
“Iya benar. Ada apa, Pak?” jawab Bik Aisyah.
“Begini.. Pak Andi mengalami kecelakaan. Dan mohon maaf, ia tewas dalam kecelakaan tersebut. Saat ini, jasadnya telah berada di rumah sakit,” jelas polisi itu.
Mendengar itu, Bik Aisyah menangis histeris. Ia memanggil Dani dan Dini serta Bu Tyas. Setelah semua berkumpul, mereka bergegas pergi ke rumah sakit.
Tampak kesedihan di wajah Dani dan Dini. Mereka harus kembali kehilangan orang tua yang begitu menyayangi mereka.
Setelah beberapa hari kematian Pak Andi, seseorang datang ke rumah mereka. Ternyata ia adalah notaris yang mengurusi surat wasiat yang pernah diminta oleh Pak Andi sebelum dirinya meninggal. Dani, Dini, Bu Tyas, dan Bik Aisyah mendengarkan penjelasan dari notaris tersebut. Notaris itu menyebutkan kekayaan yang miliki oleh Almarhum Pak Andi telah dilimpahkan kepada kedua anaknya yakni Dani dan Dini. Namun, mereka baru bisa menggunakan kekayaan yang ditinggalkan ayahnya saat mereka telah berusia 17 tahun.
“Seluruh kekayaannya Pak?” tanya Bu Tyas.
“Tidak semuanya, ada satu rumah Pak Andi diberikan kepada istrinya yang bernama Bu Tyas” kata notaris.
“Hanya itu??” kata Bu Tyas.
“Iya,, di surat ini tertulis begitu,” jawab notaris.
Setelah memberitahukan hal itu, notaris segera meninggalkan rumah. Bu Tyas terdiam. Ia tak tau lagi apa yang harus dilakukannya. Setelah Pak Andi meninggal, ia seperti orang asing di rumah besar itu. Dani dan Dini tak pernah menganggap dirinya ada. Ia merasa begitu kecewa. Apapun yang ia lakukan untuk menyakinkan Dani dan Dini tampak sia-sia. Akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke rumah yang telah diberikan Andi. Sejak hari itu, Bu Tyas tak pernah terlihat di rumah besar itu lagi.
***

Pagi masih buta. Dinginnya angin masih terasa menusuk-nusuk tulang. Dani dan Dini telah berada di sekolah. Mereka sengaja datang lebih awal untuk mencari buku di perpustakaan sekolah. Pagar sekolah masih tertutup, Dani mencoba untuk membukanya, tapi tetap tak bisa. Gembok masih terkunci, pagar sekolah tetap tak bisa terbuka.
“Kita tunggu aja di sini,“ saran Dani.
Dini mengangguk. Tak beberapa lama datanglah Pak Samad. Ia penjaga sekolah. Semua kunci pintu ada padanya. Rumahnya hanya berjarak dua rumah dari bangunan sekolahan. Setiap hari, ia datang lebih awal.
“Nungguin siapa kalian?” tanya Pak Samad.
“Bapak,” kata Dini tersenyum.
“Kami mau mencari buku di perpustakaan dulu, Pak sebelum masuk kelas,” tukas Dani.
“Oh.. begitu. Mari masuk,” kata Pak Samad sembari membuka pagar.
Dani, Dini berserta Pak Samad memasuki halaman sekolah. Mereka lalu menuju ke ruang perpustakaan.
“Itu ruangan apa, Pak?” tanya Dani menunjuk ruangan di sudut perpustakaan,
“Oh,, itu ruangan baru. Nantinya itu akan digunakan untuk menyimpan buku-buku lama,” jelas Pak Samad.
“Kalian saya tinggal ya, saya mau membuka pintu-pintu yang lain,” kata Pak Samad meninggalkan keduanya.
Dini dan Dani pun mencari buku-buku yang diperlukannya. Mereka mengambil satu demi satu buku pelajaran. Disaat Dani dan Dini asyik memilih buku, datanglah Bu Desi, petugas perpustakaan sekolah. Mereka menghampiri dan menyerahkan buku-buku yang telah dipilihnya. Setelah Bu Desi mencatat seluruh buku yang dipinjam, mereka bergegas meninggalkan ruang perpustakaan menuju kelas.
***

Bel berbunyi empat kali, pertanda pelajaran hari itu telah selesai. Serombongan siswa berbaris di depan pintu kelas. Terlihat mereka meraih telapak tangan gurunya, lalu menempelkan di pipinya. Sebagai tanda penghormatan kepada guru.
Tiba-tiba, terdengar suara teriakan dari arah belakang sekolah. Seluruh warga sekolah yang mendengar teriakan itu bergegas menuju ke arah sumber suara. Teriakan itu berasal dari suara Bu Desi. Ia histeris karena melihat ada dua mayat di belakang halaman sekolah.
Ternyata kedua mayat itu adalah Dani dan Dini. Di tubuh kedua anak itu terdapat luka sayatan benda tajam dan di leher mereka penuh dengan luka cabik. Mengetahui hal itu, salah satu guru menelepon polisi. Tak lama berselang, polisi datang ke lokasi kejadian. Mereka membawa kedua jasad anak itu ke rumah sakit untuk di otopsi.
Bu Desi sebagai saksi kejadian itu dimintai keterangan. Saat memberikan kesaksian, Bu Desi merasa ada yang memperhatikannya dari arah kejauhan. Tapi ketika ia berbalik tak ada siapapun di sana. Ia merasa aneh, tapi tak dihiraukannya hal itu. Keesokan harinya, Bu Desi mendapatkan secarik kertas tergeletak di meja kerjanya. “Pembunuhnya ada di sekolah ini. Berhati-hatilah!!” tertulis pada secarik kertas yang ditemukannya.
Ia tak tahu maksud dari pesan misterius tersebut. Suara dering telepon menyadarkan ia dari rasa kebingungannya.
“Halo.. selamat pagi,” kata Bu Desi.
“Apaaa!!! Hilang??” Bu Desi terkejut.
Bu Desi terlihat lemas setelah menerima telepon itu. Rupanya itu telepon dari polisi yang menyelidiki kasus kematian Dani dan Dini. Polisi itu memberitahu bahwa jasad kedua anak itu telah hilang sebelum dilakukan otopsi. Polisi untuk sementara menghentikan kasus kematian Dani dan Dini sampai ditemukannya jasad kedua anak itu. Dan kasus kematian itu pun terkubur bersamaan dengan hilangnya jasad kedua anak tersebut. (***)
Penulis adalah siswi binaan cerpenis Rakyat Pos, Rusmin.

Comment

BERITA TERBARU