Perusahaan BTS Ambruk Belum Ganti Rugi

  • Whatsapp

Keluarga Mirza Minta Kepastian
Niat Pindah Rumah

SUNGAILIAT – Hingga Selasa siang kemarin keluarga Mirza masih belum mendapatkan kepastian ganti rugi dari PT Daya Mitra Telekomunikasi atas kerusakan parah rumahnya yang tertimpa tower milik perusahaan provider tersebut.

Mirza berharap setelah menerima ganti rugi nanti, keluarganya akan segera pindah rumah karena trauma berada dekat menara BTS. Kedua anaknya yang berusia 6 dan 2 tahun masih sering merengek nangis karena takut.

“Kemungkinan besar pindah tapi kita liat dulu gantiruginya. Anak kami juga takut tinggal disini lagi, apalagi nanti jika tower ini masih dibangun,” ungkapnya, Selasa (16/7).

Ia berharap pihak perusahaan segera melakukan kewajibannya untuk mengganti rugi semua kerugian yang dialaminya mengingat ia juga harus bekerja dan beraktivitas.

“Kita minta untuk cepat diproses, saya sudah dua hari tidak bisa kerja. Kita juga ada aktivitas lain bukan cuma menunggu mereka datang saja,” tambahnya.

Menurutnya pihak provider berjanji akan datang menemuinya dan mengganti semua kerugian yang diakibatkan oleh jatuhnya tower tersebut.

“Infonya hari ini tapi sampai sekarang belum datang juga. Tolonglah diperhatikan, cepat diproses karena ini bukan lilin yang jatuh tapi tower nimpa rumah,” ungkapnya saat ditemui dikediamannya di Nangnung Tengah, Sungailiat.

Tiang tower yang terbuat dari besi tersebut sangat membahayakan karena belum diturunkan oleh pihak provider. Hal ini sangat mengganggu terlebih lagi masih ada barang-barang berharga di dalam rumahnya.

“Kita minta penanggung jawabnya cepat datang, katanya semalam terus diundur ke pagi sekarang sudah siang belum juga datang,” tambah Mirza.

Keluarganya terpaksa tinggal sementara di rumah orang tua yang berada di depan rumahnya sampai ada pertanggungjawaban dari pihak provider. “Sementara tinggal di rumah mertua dulu,” ungkapnya.

Pantauan sekitar lokasi tower sudah terpasang garis polisi. Sayangnya, awak media sudah berusaha menghubungi penanggungjawab tower namun belum mendapatkan jawaban.

Kabid Penegakan Perda Satpol PP Bangka, Achmad Suherman mengatakan pihaknya sudah mendatangi lokasi dan melakukan pengecekan langsung.

“Kalau hasil dari penyelidikan anggota PPNS serta kasi penyidik dan pengawasan kita, tiang tersebut patah disambungan,” ungkapnya.

Patah atau lepasnya sambungan tersebut diduga karena lalainya pihak perusahaan dalam melakukan pengawasan dan perawatan.

“Perusahaan wajib melakukan perawatan secara berkala karena dampaknya sangat berbahaya terlebih lagi bagi masyarakat yang terdapat disekitar lokasi,” tambahnya.

Namun Herman mengatakan pemilik tower yakni PT Daya Mitra Telekomunikasi memiliki izin lengkap dari pemda sehingga pembangunan tower tersebut dapat berjalan pada tahun 2015 lalu.

“Kalau dari kita sebatas perda perizinan, dan izinnya lengkap. Kalau kelalaian pengusaha atau musibah alam, kita periksa dan minta pertanggungjawaban perusahaan,” terangnya.

Untuk itu, pihaknya sendiri akan mempertimbangkan kembali perizinan tower tersebut dan meminta pihak perusahaan mengganti rugi korban.

“Kita akan pertimbangkan kemabali perizinannya dan meminta perusahan harus melakukan perbaikan dan ganti rugi ke korban secepatanya,” tegas Herman.

Terpisah, Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu (KPTSP) Kabupaten Bangka hanya melakukan monitoring terhadap izin yang dimiliki oleh perusahaan tower BTS.

Kepala KPTSP Bangka, Asnawi Ali mengatakan pihaknya hanya merupakan anggota tim pengawas yang mengawasi izin bangunan.

“Pengawasan dan monitoring tetap kita lakukan tapi hanya mengeluarkan izin dan melihat masih berlaku atau tidak,” ungkapnya saat ditemui diruangannya, Selasa (16/7/2019).

Ia mengatakan bahwa pihaknya bekerja sesuai dengan aturan yang berlaku baik sebelum mengeluarkan izin hingga setelah adanya izin.

“Kita akan tetap mengacu pada aturan. Izin mendirikan tower ini sama seperti membangun rumah jadi pakai IMB,” tambahnya.

Namun dalam IMB pembangunan tower tersebut harus ada izin yang ditandatangani oleh seluruh warga yang berada dalam radius tower dengan bukti kepemilikan lahan atau surat tanah.

“Jika tinggi towernya 50 meter, jadi warga yang berada dalam radius 50 meter keliling tower itu harus tandatangan, satu saja tidak tandatangan, izinnya tidak akan keluar tapi warga itu juga harus jelas dan ada bukti kepemilikan tanahnya,” terang Asmawi.

Sepanjang 2019, terdapat sembilan pembangunan tower baru yang sudah terdaftar di KPTSP.

Dilansir, Tower Base Transceiver Station (BTS) roboh dan menimpa satu rumah warga di Jalan Nangnung Tengah, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Senin dini hari (15/7/2019).

Ambruknya tower yang diduga milik provider Telkomsel atau PT Daya Telekomunikasi tersebut membuat rumah milik Mirza mengalami rusak parah. Hingga pukul 10.00 WIB, tiang tower tersebut masih berada di atas rumah. Bahkan puing-puing bekas runtuhan rumah pun masih berserakan.

Terlihat beberapa ruang dan atap rumahnya ambruk dan bolong karena tertimpa tiang tower yang terbuat dari besi.

Pemilik rumah, Mirza mengatakan sebelum kejadian sempat mendengar suara baut yang menghubungkan antar bagian bawah dan atas tower tersebut lepas.

“Saya memang sudah menyangka kalau tower yang jatuh menimpa rumah ini, soalnya sebelum kejadian kayak ada bunyi baut lepas ‘kreok kreok kreok’ terus langsung ambruk,” ungkapnya kepada Rakyat Pos ketika disambangi kediamannya.

Dia juga mengatakan sebelum roboh, angin di sekitar sangat kencang dan menimbulkan bunyi dahan buatan di tower tersebut.

“Kalau angin kencang, daun (dahan-red) tower kamuflase ini bunyi dan goyang. Dulu juga pernah daunnya jatuh ke sini tapi sudah kita laporkan,” terang pria berusia 35 tahun itu.

Beruntung saat kejadian semua keluarganya selamat karena berada di kamar tidur. Namun istri Mirza, Hana mengalami luka memar di kedua kakinya karena tertimpa reruntuhan.

“Saat itu istri saya dari kamar mandi sebelum kejadian, pas mau masuk kamar towernya jatuh dan reruntuhannya kena kaki istri saya,” tambahnya.

Pasca rumahnya tertimpa tower BTS, Mirza langsung mengajak istri dan dua anaknya keluar rumah. Dia mengaku takut reruntuhan bangunan rumah akan menimpa keluarganya yang saat itu masih tertidur di kamar.

“Pas kejadian langsung keluar rumah, takut kena runtuhan susulan dan langsung ngungsi di rumah mertua di depan,” ungkap Mirza. (mla/6)

Related posts