Perundungan Siswa Terjadi, Salah Siapa?

  • Whatsapp

Oleh: Durrotul Munawwaroh, Karimah Ulfah, Mita Kurniawati
Mahasiswi STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

Pendidikan era Soeharto dengan era kini sangatlah berbanding terbalik. Prestise guru yang sangat disegani, dihormati, bahkan ditakuti menjadi cerita lama. Dengan dalih konsep pembelajaran yang mengutamakan kasih sayang dan perlindungan HAM, justru berpengaruh terhadap karakter peserta didik. Degradasi moral kian lama memuncak. Kasus-kasus yang miris dan tak sepatutnya terjadi pun mulai bermunculan. Layaknya dalam sebuah film yang diangkat dari sebuah novel karya Pidi Baiq dengan judul Dilan. Di dalam film tersebut, menceritakan Dilan sebagai seorang siswa yang tidak terima ditegur sampai melakukan pemukulan terhadap gurunya saat upacara ia tidak pada barisan yang semestinya.
Setelah film tersebut dirilis, kasus-kasus Perundungan peserta didik kepada guru kian marak terjadi, bahkan semakin merajalela. Persoalan ini harus segera disikapi oleh semua pihak, seperti keluarga, sekolah, maupun pemerintah. Apakah masalah ini timbul karena kesalahan pendidik yang kurang profesional dan bermental kuli? Pendidik yang bermental kuli layaknya pekerja yang mengincar materi, tidak peduli tugas pokoknya sebagai pembentuk kepribadian bangsa? Ataukah bawaan dasar anak dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sosialnya yang kurang baik?
Rentetan aksi Perundungan peserta didik terhadap guru seperti dikutip dari tirto.id yang dilansir oleh Felix Nathaniel, bawasa seorang guru kesenian meninggal setelah dipukul oleh muridnya pada awal tahun lalu hanya karena masalah sepele. Budi Cahyono mencoret muka pelaku, HI, karena Siswa SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Jawa Timur tertidur di kelas. HI membalas teguran Budi dengan berulang kali. Lalu baru-baru ini, dua kejadian serupa terulang di Gresik, Jawa Timur dan Takalar, Sulawesi Selatan.
Di SMP PGRI Wringinanom, seorang siswa mencekik gurunya karena ditegur saat merokok didalam kelas. Di SMP Negeri 2 Galesong Takalar, seorang guru honorer di keroyok karena menampar murid yang menghinanya dengan sebutan anjing (detiknews.com). Disayangkan sekali rata-rata kasus ini berakhir damai, karena peraturan perundang-undangan perlindungan anak dibawah umur tidak menghendaki kasus tersebut diselesaikan di jerusi besi.
Jika dilihat dari sisi pendidik, kualifikasi pendidik dalam kasus tersebut kurang melihat perkembangan zaman, dimana anak-anak yang beberapa langkah lebih maju. Teknologi dan lifestyle akibat globalisasi menjadi musuh besar pendidikan saat ini. Mirisnya, kemudahan akses komunikasi ini condong ke arah negatif. Gaya hidup konsumtif dan hedonis mulai mempengaruhi gaya hidup anak-anak. Menyikapi hal ini, seorang pendidik tentu harus mampu mengikuti perkembangan zaman dengan membekali diri dengan ideologi bangsa Indonesia.
Selain itu, menurut buku berjudul Filsafat Pendidikan Islam karya Haris Hermawan menyatakan bahwa sesuai asas pendidikan Nabi Muhammad SAW menekankan pembelajaran dengan metode pemberian contoh. Dimana terjadi proses imitasi tingkah laku dan sifat orang dewasa oleh anak. Secara sadar maupun tidak disadari hal ini menyatukan psikis anak dengan orang lain.
Pendidikan sekolah lah yang harus mengembangkan kepribadian anak secara keseluruhan. Diharuskan ada pihak-pihak non-teaching specalist seperti dalam sekolah modern-modern saat ini. Pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, melainkan juga conselor, sosial worker, perawat dan dokter sekolah, speach theraphist, school psikologis, dan sebagainya yang menjadi komponen sekolah. Komponen sekolah tersebut berkolaborasi dengan keluarga menjadi agen pendidikan utama bagi anak-anak. Jangan sampai anak-anak mendapatkan pendidikan di tempat-tempat yang salah, seperti tempat-tempat nongkrong di pinggir jalan, warnet, warkop, dan lain sebagainya.
Selain itu, keluarga sebagai agen pendidikan primer haruslah membentuk jaringan interaksi antar pribadi, menciptakan kecintaan, persahabatan, rasa aman secara berkelanjutan yang merupakan hak dasar bagi perkembangan kepribadian anak. Corak keluarga yang terbuka mendorong anak bergaul dengan masyarakat luas, sehingga dapat mengurangi beban emosional, namun tetap dalam batasnya. Seperti pepatah, Buah Tidak Jauh dari Pohonnya.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, telah berupaya mencegah kasus penganiayaan terhadap tenaga pengajar tersebut. Bahkan Mendikbud Muhadjir Effendi meminta untuk meningkatkan komunikasi antara guru dan orang tua. Selain itu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemendikbud Ari Santoso mengatakan, meski ada kasus kekerasan yang menewaskan seorang guru, namun tidak berarti sistem pendidikan di Indonesia gagal atau cacat. Kemendikbud juga mengupayakan sosialisasi hak dan kewajiban guru secara umum kepada masyarakat. Meskipun tidak bisa merinci hasilnya diyakini cukup memberikan pengertian bahwa guru boleh menegur siswanya.
Sebaiknya pendidikan moral serta etika yang baik terhadap anak ditanamkan sejak dini, agar mereka bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan adanya kerja sama yang baik antara guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah diyakini mampu menghindari kegagalan krisis moral. Yang ada hanyalah murid yang berkarakter, berprestasi, bermoral serta berakhlak mulia untuk mengharumkan nama baik Indonesia. (***).

Related posts