by

Pertamina Bantah Kurangi Kuota BBM Subsidi

Ngaku Ada Kendala dalam Distribusi
Tepis Juga Kelangkaan Elpiji di Babel

Pangkalpinang – PT. Pertamina membantah tudingan telah mengurangi pasokan atau kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dan solar kepada masyarakat Bangka Belitung (Babel). Kelangkaan BBM di sejumlah SPBU beberapa hari terakhir ternyata dikarenakan permasalahan dalam pendistribusian.
Hal itu disampaikan Sales Executive Retail PT. Pertamina Area Sumbagsel, Denny Nugraha kepada Rakyat Pos. Dia mengatakan, justru saat ini penyaluran BBM di Babel sudah melebihi kuota.
“Saat ini penyaluran sebenarnya lebih dari ketentuan yang kita salurkan 5-6 persen sudah lebih untuk solar, premium di 97 persen. Kita sudah salurkan sesuai jumlah yang ditetapkan pemerintah, dari regulator BPH Migas dan pusat,” katanya usai talkshow BBM berkualitas, Kamis (8/11/2018).
Kuota BBM bersubsidi untuk Provinsi Babel dalam satu tahun masing-masing 180.000-190.000 KL solar dan premium. Sehingga menurutnya cukup untuk konsumsi masyarakat.
Namun saat disinggung mengularnya antrean kendaraan di SPBU hampir seluruh Babel, Denny menyebutkan pihaknya tidak bisa bertindak sendiri. Apalagi jika ada SPBU yang nakal. Pertamina harus bekerjasama dengan pihak terkait seperti Disperindag dan kepolisian.
Tapi dia menegaskan jika memang ada SPBU yang bermain dengan memberikan jatah BBM kepada kendaraan melebihi batas, maka pihaknya bisa melakukan tindakan.
“Selama satu bulan kami sudah menutup 5 SPBU yang sudah ditindak karena dugaan mengisi di luar batas wajar,” tegasnya.
Ia meminta, masyarakat juga aktif melaporkan jika ada dugaan SPBU melanggar batas maksimal ini.
“Kami akan tetap mengawasi dan menerima laporan serta segera menindaklanjuti jika ada laporan,” janjinya.
Denny menjelaskan, beberapa hari terakhir memang terjadi kendala dalam distribusi, dimana kapal pengangkut BBM terhambat masuk ke Pelabuhan Pangkalbalam Kota Pangkalpinang lantaran pasang surut air di pelabuhan. Akibatnya, distribusi solar dan premium kepada 52 SPBU di Pulau Bangka mengalami hambatan.

Masih Ketergantungan
Sementara itu, Denny menyebutkan masyarakat Babel secara keseluruhan masih belum bisa move-on dari BBM bersubsidi. Padahal Pertamina sudah menyediakan BBM alternatif lain selain Premium dan Solar, yakni Pertalite, Pertamax, kemudian Biosolar, Dexlite dan Pertamina Dex.
BBM non subsidi ini, jelasnya memiliki keunggulan yang lebih baik dibanding BBM bersubsidi. Yakni Research Octane Number (RON) untuk pertalite mencapai 90 dan Pertamax (RON 92) yang semakin baik untuk kendaraan.
“Untuk di wilayah Babel, kalau dibandingkan areal wilayah Sumbagsel, Babel tergolong masih rendah penggunaan BBM berkualitas, baru 50 persen. Sedangkan daerah lain sudah 70-80 persen gunakan BBM Pertalite, Dexlite dan lainnya,” terang Denny.
Masyarakat versinya masih cenderung menggunakan premium dan solar, padahal kedua bahan bakar ini memiliki oktan yang lebih rendah.
“Intinya, semakin tinggi angka oktan, semakin sempurna mesin pembakaran kendaraan bermotor dan jelas lebih irit, secara harga akan terlihat besar tetapi untuk pengunaan lebih irit,” bebernya.
BBM jenis premium, lanjutnya pembakaran kendaraan tidak sempurna. Dan beberapa kendaraan keluaran baru saat ini, sangat direkomendasikan untuk menggunakan BBM dengan oktan yang tinggi.
Denny berharap, masyarakat semakin cerdas dalam menggunakan BBM, dan dapat memilih bahan bakar yang berkualitas untuk keawetan mesin serta kenyamanan dalam berkendara.

Elpiji Lebihi Kuota
Sama halnya dengan BBM, Pertamina juga menyebutkan bahwa pihaknya sudah menyuplai gas elpiji 3 kg ke Babel melebihi kuota.
Comunication and Relation MOR II Pertamina Sumbangsel Bramantio Rahmadi mengatakan, pihaknya dibatasi oleh kuota dalam penyaluran gas bersubsidi. Sebab gas subsidi ini hanya boleh digunakan masyarakat yang tidak mampu, dan bukan untuk rumah makan atau ASN.
“Per Oktober ini kita sudah lebih menyalurkan dari kuota, sudah 2,2 persen lebihnya,” sebut Bram.
Pihaknya juga sudah menerima laporan, bahwa gas di Babel, khususnya di Pangkalpinang mengalami hambatan, namun untuk penindakan Pertamina tidak bisa sendiri.
“Pengawasan, kami butuh bantuan semua pihak, biasanya kalau ada laporan kami rutin akan sidak, tetapi enggak sendiri, aparat kepolisan dan Disperindag,” imbuhnya.
Ia mengakui, dari sidak ini memang belum langsung dilakukan tindakan penukaran tabung dari subsidi 3 kg ke 12 kg atau 5 kg, tetapi baru sebatas sosialisasi berlanjut.
“Kalau sanksi kami hanya bisa ke pangkalan, kalau pedagang yang menjual diluar pangkalan kami enggak bisa tindak,” tegas Bram.
Oleh karenanya, ia juga berharap keterlibatan pemerintah daerah agar distribusi gas bersubsidi bisa lebih baik. Khususnya mengawasi yang membeli di pangkalan kemudian menjual kembali elpiji melebihi HET.
“Kita juga minta kalau ada penyalahgunaan laporkan ke kita, biar bisa dilakukan tindakan,” pintanya.
Gas elpiji subsidi yang masuk ke Babel, kata Bram dipasok dari Palembang, dan terkadang dalam pendistribusiannya mengalami hambatan seperti cuaca buruk dan lainnya.
Ia mengakui, gas bersubsidi ukuran 3 kg ini, sebetulnya dikhususkan untuk masyarakat menengah ke bawah. Tetapi pada kenyataannya saat ini gas subsidi dibeli bebas oleh siapa saja, termasuk pemilik warung makan, pegawai pemerintah dan bahkan orang-orang kaya. Yang semestinya, menggunakan bright gas 5kg serta gas ukuran 12 kg.
“Kami tidak bisa melarang orang (kaya) untuk beli gas, karena memang kami tidak punya kewenangan, dan Pertamina sebagai operator, hanya menjual, dan mengajak konsumen untuk menjadi konsumen cerdas,” tukasnya.
Untuk diketahui, Pertamina (Persero) Tbk menggandeng Perum LKBN Antara Biro Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar talk show bahan bakar minyak berkualitas guna mengajak masyarakat beralih pada produk terbaru perusahaan minyak berplat merah itu.
Talk Show bertemakan “Yuk Move On ke Produk Berkualitas” itu menghadirkan narasumber dari Komunitas Karimun Provinsi Kepulauan Babel, Andrian Djalaludin, Education Devisi Servis CV Sumber Jadi Babel, Humaidi, Comunication and Relation MOR II Pertamina Sumbangsel Bramantio Rahmadi, yang dimoderatori Kepala Perum LKBN Antara Biro Kepulauan Babel Irwan Arfa.
Dalam diskusi talkshow ini, Bram menyikapi pertanyaan dari peserta yang menanyakan isi gas tidak penuh ketika dilihat melalui regulator di tabung gas. Dia menegaskan, bahwa meteran yang ada pada regulator tabung gas ini sebetulnya bukan untuk mengetahui isi tabung.
“Meteran di regulator gas itu untuk mengukur tekanan gas yang keluar, bukan mengukur isi. Untuk ukur isi ditimbang aja tabungnya, dan kalau digoncang seperti ada air, memang gas ini isinya cair ketika dihidupkan (dipanaskan) baru dia keluar gasnya,” pungkas dia. (nov/1)

Comment

BERITA TERBARU