Pertambangan Rawan Timbulkan Konflik

  • Whatsapp
BONGKAR TAMBANG – Tim gabungan tampak membongkar ponton tambang yang kerap menambang pasir timah illegal di kawasan DAS Baturusa, Kabupaten Bangka. Sebanyak enam ponton tambang ditarik dan dibongkar dalam penertibka Rabu dini hari (18/7/2018). Dan sebanyak 13 orang pelaku penambangan ditangkap. (Foto: IST/Bambang Irawan)

Ada 4 Titik Perlu Diwaspadai
KEK dan Fluktuatif Sawit Berpotensi

Pangkalpinang – Pertambangan timah yang ada di provinsi Bangka Belitung (Babel) rentan menimbulkan konflik di masyarakat. Bahkan, banyak konflik yang terjadi hanya karena ketidaksetujuan masyarakat terhadap pertambangan timah.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Tarmin mengatakan, beberapa konflik yang terjadi di Babel juga dipicu karena pertambangan.
“Potensi konflik di Babel masalah pertambangan. Ini berkaitan dengan sikap pro dan kontra di masyarakat sehingga terjadi Miss komunikasi,” ujar Tarmin usai membuka rapat Koordinasi Bersama Monitoring verifikasi dan Evaluasi Rencana Aksi Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial Tingkat Provinsi tahun 2018, di Bangka City Hotel, Rabu (18/7/2018).
Selain pertambangan legal, pertambangan Illegal pun kerap memicu konflik yang dilaksanakan di tempat terlarang.
“Pertambangan laut ada nelayan yang tidak suka, dan adanya penambangan liar. Ini potensi konflik yang ada di kita,” imbuhnya.
Jika tidak ditangani dengan baik, maka potensi yang ada ini rawan menimbulkan konflik dan yang dirugikan adalah masyarakat. Oleh karenanya, ia berharap harus ada deteksi dini terhadap konflik sebagai bentuk antisipasi terhadap penanganan konflik.
“Kalau sekarang kita sosialisasi, kalau memang ada ketidakpuasan kelompok masyarakat terhadap suatu kegiatan, kita tetap berkoordinasi dengan pihak terkait seperti keamanan, jangan sampai terjadi konflik yang berkepanjangan,” bebernya.
Kesbangpol juga bekerjasama dengan intelijen untuk memantau, mengawasi pergerakan di masyarakat, dan melakukan langkah persuasif agar tak terjadi konflik.
Di tempat sama, Kabag Binlatops Biro Ops Polda Babel, Kompol Wagianto menyebutkan, data yang ada di Babel terdata 32 potensi konflik. Namun yang nge-tren dalam minggu-minggu ini, adalah konflik pertambangan.
“Ada empat titik yang perlu diwaspadai saat ini, KIP di Babar, Bangka dan Basel, kemudian yang perlu diantisipasi juga terkait KEK. Kami siap sedia untuk melakukan pengamanan,” terangnya.
Di lapangan, kata dia, peran melakukan antisipasi konflik belum ada sinergi, ketika terjadi unjuk rasa yang berperan hanya satu instansi saja, oleh karenanya ia berharap penanganan konflik bisa ditingkatkan.
Kepala Kesbangpol Kabupaten Bangka Selatan (Basel), Doni menyebutkan beberapa potensi konflik ada di Basel. Salah satunya yang baru tejadi adalah aliran sesat di Desa Nyelanding dan sudah diproses.
“Kemudian berkaitan dengan Ponton Isap Produksi PT Timah, kalau KIP gak ada gejolak, sudah selesai difasilitasi yang akhirnya penghentian sementara, tetapi ini juga berpotensi konflik,” terangnya.
Ia menyebutkan, kewenangan UU Nomor 23 dimana perizinan ada di provinsi, kabupaten menurutnya hanya terkena imbasnya tanpa mengetahui persoalan izin.
“Kita gak tau tiba-tiba ada izin, kami hanya ketiban masalah. Kemudian ada juga konflik karena HTI, seperti bom waktu yang akan meledak pada moment yang bisa diprediksi, izinnya luar biasa banyak 100 lebih ribu hektar,” urainya.
Potensi lain, kata dia, dengan harga fluktuatif sawit juga berpotensi menimbulkan konflik. Apalagi beredar kabar bahkan perusahaan sawit di Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) lebih mengutamakan sawit petani dari Bateng, sedangkan wilayah lain tidak diutamakan. (nov/6)

Related posts