Persekusi

  • Whatsapp

Markudut kaget setengah mati. Jantungnya bergedup kencang. tak beraturan. Bagaimana tidak? Saat pagi, saat dimana matahari mulai memberi cahaya kepada penghuni bumi, menjadi waktu tersendiri bagi Markudut untuk membuka akun media sosialnya. Setiap matanya terbuka usai terlelap dalam mimpi dan melihat cahaya dunia yang indah dan penuh dengan kedamaian, dirinya langsung membuka medsosnya. Dan itu menjadi tradisi paginya. Pagi ini begitu banyak yang memention akunnya. Sangat banyak sekali. Dan anehnya, semua akun yang memention di akun twitternya @Markudut86 mencacinya. memakainya dengan bahasa yang sangat kasar bahkan sadis. Bahkan ada yang mengancamnya. Kurang puas dengan twitter, lelaki muda itu membuka akun facebooknya. siapa tahu ada info baru dari sahabat dunia mayanya. terutama info dari sahabat dunia mayanya yang tinggal di Kampung halaman. tentang keadaan orang tua dan Kampung halamannya. Lagi-lagi lelaki muda bergelar sarjana itu kaget setengah mati. Bahkan jantungnya mau copot dari katupnya. Semua balasan di akun facebooknya menerima hal yang senada dengan akun twitternya. Ada yang mengancam. Ada yang mengintimidasi walaupun hanya secara verbal. lelaki muda itu membuka akun instagramnya. Siapa tahu beda. Lagi-lagi lelaki muda kaget. bahkan terasa putus asa. Semua mention ke akun instagramnya menerima mention hal yang senada dengan akun twitter dan facebooknya. ” Apa salahku,” pikir lelaki muda itu. ” Toh apa yang kutulis dalam medsos tak ada yang mengganggu kaum tertentu? Apalagi menyinggung perasaan umat,” desisnya dalam hati. ” Bukankah berbeda pandangan dalam melihat masalah bangsa tak diharamkan? Kita kan negara demokrasi,” desisnya dalam hati dengan penuh rasa keanehan yang menjalari sekujur tubuhnya.. Markudut makin kaget, saat membuka jendela rumahnya. Dihalaman rumahnya banyak orang berkumpul. Mareka berkerumun. Wajah mareka amat garang. Markudut keder. Bagaimana mungkin dia mampu melawan orang seramai itu, walaupun sebelum ke Kota, dia sempat belajar ilmu silat di kampung. Belum hilang rasa takut Markudut, telpon di smartphonenya berbunyi. Dengan rasa kewaspadaan yang amat tinggi, mengingat nomor yang masuk ke smartphone nomor tak dikenal, akhirnya Markudut menerima telpon itu. Dan diseberang, terdengar seseorang berbicara dengan nada emosional bahkan mengancam. ” Saya ingatkan dengan saudara. kami akan memburumu hingga kemana pun. Bahkan ke liang kubur sekalipun,” ujar nada dari seberang lewat smartphonenya. ” Apa salah saya,’ tanya Markudut dengan nada membernaikan diri. ” Baca status yang kamu unggah di medosmu. Kamu telah menghina pemimpin kami,” jawab suara itu sembari menutup telponnya. Markudut tergagap. Kepalanya terasa sakit bahkan sangat sakit sekali yang belum pernah dia rasakan selama ini. Markudut kembali dikagetkan saat tiba di kantornya. Ramai sekali orang dihalaman kantornya. ” Apakah kantor mengadakan bazar murah? Ataukah kantor mengadakan pemberian zakat untuk kaum dhuafa? Tapi tak ada pemberitahuan dari pimpinan,” desisnya dalam hati. Wajah mareka menampakkan permusuhan yang luarbiasa. Wajah- wajah kelompok massa itu memuncratkan rasa kebencian yang teramat dalam. Markudut makin kaget setengah mati ketika dia masuk ke kantornya, sekelompok orang yang berkerumun tersebut berteriak menyebut namanya. ” Itu orangnya. itu orangnya,” teriak mareka secara serentak. Suara mareka menghingarbingarkan pagi yang indah. Hanya dengan kesigapan para satpam Kantornya yang sudah terlatih, dia bisa terhindar sementara dari amukan massa yang amat beringas dan tanpa kontrol diri itu. Markudut makin tak mengerti. Sungguh tak mengerti dengan proses yang terjadi terhadapnya. Sejuta tanya tentang apa salahnya terus menggelayut dalam pikirannya seharian itu. Saat naik angkot, semua mata memandang dengan sikap permusuhan. Tak ada senyum di wajah mareka yang selama ini dilihatnya selama puluhan tahun di Kota ini. Tak ada lagi saling sapa. Semua wajah menampakkan wajah-wajah saling bermusuhan. Tak ada lagi wajah-wajah bersahabat yang diterimanya saat pertama kali menginjakkan kakinya di Kota ini. Tak ada lagi keramahan jiwa dari para warga yang dulu menjadi ikatan hidup mareka sesama warga Kota yang sepenanggung senasib. Tak ada lagi. Hilang bersama angin . Terbang entah kemana. Tak tahu rimbanya. Padahal saat pertama kali datang menginjakkan kaki ke Kota ini, Kota yang katanya lebih ganas dari ibu tiri, sejuta senyum warga menyambutnya bak pahlawan yang baru saja memenangkan pertempuran di medan perang. Tak heran Markudut betah tinggal di Kota ini. Toleransi hidup antara masyarakatnya sangat tinggi. Demikian juga dengan semangat kegotongroyongan warga sangat guyup. Dulu setiap minggu pagi, mareka para warga selalu bersama-sama membersihkan got yang mampet. Menolong warga yang sakit hingga mengumpulkan uang untuk membantu kalau ada warga yang menderita hidupnya. Sungguh sebuah tata kehidupan yang amat harmonis. Tak heran Markudut enggan pulang ke kampungnya saat kuliahnya selesai. Dia merasa sangat istimewa berada di Kota ini. “Saya betah sekali tinggal disini,’ ungkapnya kepada ayah dan ibu serta keluarganya saat ditanya kenapa dia enggan tinggal di kampung atau mengabdi di Kota lain. “Kota ini telah mengajarkan aku tentang filosofi hidup yang damai walaupun kami berasal dari suku dan agama yang berbeda. Kota ini simbol kebhinnekaan tunggal ika. Ya, sama seperti kita hidup di kampung ini. Saling menghargai antar warga. Kota itu sudah kuanggap seperti tempat lahirku sendiri. ,” ceritanya membanggakan Kota besar itu kepada sahabat-sahabatnya di kampung. ### Kini Markudut seakan-akan ingin kembali ke kampungnya. Kampung kecil yang tak ada dalam peta dunia global. Kampung yang telah membesarkannya hingga dewasa. Kampung yang telah mengajarkannya tentang simbol-simbol kehidupan saling menghargai dan tak menindas satu sama lain. Dikampungnya tak ada kelompok minoritas diintimidasi kaum mayoritas. Tak ada sama sekali. Malahan kaum minoritas merasa terayomi dengan perilaku kaum mayoritas yang selalu melindungi mareka. Suasana damai dan tentram pun selalu menyertai warga kampung dalam beraktivitas sehari-hari. Tak heran kalau kedamaian selalu mengiringi langkah warga setiap hari. Keharmonisan hidup menjadi simbol kehidupan antar warga. Markudut kembali dikejutkan dengan suara koor dari sekelompok massa yang kembali mendatnagi rumahnya. Wajah mareka beringas. Bahkan teramat beringas. Selama puluhan tahun dia tinggal dan berkehidupan di Kota ini belum pernah dia menyaksikan wajah beringas warga Kota seperti yang dilihatnya dari jendela rumahnya. Wajah mareka sungguh beringas sekali. Tak bersahabat sama sekali, seolah-olah ingin melumatkan musuh-musuhnya sebagaimana tukang ulek melumat cabe dengan ulekannya saat membuat sambel khas warungnya. Mobil patroli keamanan Kota tiba. Massa pun bubar, walaupun beberapa mata masih memandangnya dengan kilatan mata yang amat beringas. Melemahkan jantungnya. Dengan cepat, Markudut mendatangi mobil patroli, dan langsung meninggalkan rumahnya. Sepanjang perjalanan dia terus bertanya apa salah dan dosanya terhadap warga kota sehingga mareka memperlakukannya bak binatang buruan yang siap di lumpuhkan. ‘Bapak mengalami peristiwa persekusi,” ujar seorang aparat keamanan saat dirinya tiba di kantor keamanan Kota. Markudut pun langsung lemas. Tubuh tegapnya roboh seketika. (Rusmin) Toboali, Bangka Selatan, hari ke enam ramadan 1408 H.

Karya: Rusmin

Related posts