Persatuan Hakiki dalam Islam

  • Whatsapp

Oleh: Nurul Aryani
Founder Smart With Islam Bangka Tengah

Kaum muslimin sebagai ummat yang satu tidak terlepas dari ketaatannya kepada Al-Qur’an dan Al-hadist. Di dalam Al-Qur’an sendiri terdapat ayat-ayat yang memerintahkan kaum muslimin untuk bersatu dalam satu kesatuan. Kesatuan aqidah, syariah dan wilayah. Diantaranya firman Allah SWT : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara”. (QS Ali Imran:103).
Kaum muslimin sepanjang sejarahnya dalam kejayaan islam tidak pernah meninggalkan aqidah dan syariah islam dalam mengatur semua urusannya. Selama 13 abad kaum muslimin hidup dalam satu kesatuan wilayah tanpa batas, tanpa sekat menyatu dalam perbedaan suku, bangsa, bahasa, ras dan wilayah hingga menguasai dua pertiga dunia dengan satu kepemimpinan. Tidak ada satu ideologipun yang mampu bertahan selama itu mempersatukan manusia kecuali islam.
Islam telah mewujudkan persatuan jauh sebelum koar-koar persatuan dalam demokrasi digaungkan. Bahkan telah diwujudkan dengan rill di tengah-tengah ummat. Semua itu terjadi karena kaum muslimin mengambil Islam sebagai pedoman hidup dan bernegara. Sehingga pendapat mereka, hawa nafsu mereka tunduk kepada perintah Allah SWT. Maka, ketika Islam tidak diterapkan secara kaffah (menyeluruh) dalam kehidupan ketika itulah ummat islam menjadi terpecah belah. Menjadikan mereka kembali terpisah dengan sekat-sekat wilayah. Sehingga ummat yang dulunya disegani oleh dunia, ditakuti oleh musuh menjadi ummat yang tak berdaya menghadapi lawannya. Sebagaimana kita saksikan bagaimana Palestina hingga kini masih dijajah oleh Zionis Israel laknatullah, muslim Rohingnya dibantai dan diusir dari wilayah mereka, muslim di Uighur disiksa dengan keji oleh komunis Cina, dll. Apa yang mampu dilakukan kaum muslimin melihat saudaranya disiksa dan bahkan dibom bertubi-tubi? Sampai detik ini tentara kaum muslimin tak mampu bersatu menyerang lawan saudaranya. Tidak terdengar komando yang sama untuk kaum muslimin diseluruh dunia hingga musuh leluasa dan berdansa di atas darah kaum muslimin. Memalukannya ditengah-tengah Negara muslim.
Tak ada yang menyelamatkan saudara kita selain muslim yang berada di wilayah mereka sendiri, mereka berjuang sendirian ingin mengakhiri penyiksaan dan pembantaian atas mereka. Sementara tentara kaum muslimin tak bisa menolong mereka karena sekat wilayah, karena hukum internasional yang tak memperbolehkan. Sungguh satu tubuh yang bernama kaum muslimin itu telah dimutilasi dengan sekat nasionalisme yang dibuat oleh penjajah.
Padahal, sejarah telah mencatat bagaimana sekat wilayah pernah dilibas oleh ummat islam menjadikan mereka satu tubuh yang kuat dan mampu melawan penjajah terberat sekalipun. Adalah Khalifah Turki Utsmani yang pernah membantu Aceh ketika mereka berhadapan dengan penjajah Portugis. Pada Juni 1562 M, utusan Aceh tiba di Istanbul untuk meminta bantuan ketentaraan Usmani untuk menghadapi Portugis. Duta itu dapat mengelak dari serangan Portugis dan sampai di Istanbul. Ia mendapat bantuan Khilafah dan menolong Aceh membangkitkan pasukannya sehingga dapat menaklukkan Aru dan Johor pada 973 H/1564 M. (http://acehsumatera.blogspot.com).
Begitulah ketika kaum muslimin bersatu dalam satu kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Islam maka batas wilayah bukanlah masalah inilah yang dialami oleh Eropa saat ini. Ada 28 negara Eropa yang beda agama, ras, politik, dan bahasa berhasil bersatu membentuk masyarakat bersama dan 19 di antaranya memiliki mata uang yang sama, yaitu Euro. Penduduk antar negara Eropa bebas tinggal dan bekerja di negara Eropa yang lain. fakta lain di era tahun 90-an, tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur, dirobohkan oleh rakyat mereka sendiri, karena mereka ingin bersatu dalam satu negara. Dan akhirnya sekarang mereka bisa bersatu dalam satu negara Jerman. Jika di dunia ini boleh ada negara kapitalis, boleh ada negara sosialis/komunis, lalu apa salahnya jika umat Islam punya cita-cita bersatu dalam satu negara Islam, atau dalam istilah fikih siyasah adalah khilafah Islamiyah? (www.syariahnews.com).
Persatuan yang diterapkan oleh Negara khilafah inilah yang seharusnya kita contoh, kita bawa dalam bernegara jika kita memang betul-betul menginginkan persatuan yang hakiki. Bukan hanya kekuatan untuk mengusir penjajah kita juga mampu menggapai kesejahteraan yang tak pernah riil diberikan oleh ideologi lain selain islam. Hal ini diungkapkan oleh Will Durant seorang sejarahwan barat. Dalam buku yang ia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, ia mengatakan: “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”
Begitupula dengan non muslim, seorang mantan biarawati, Karen Amstrong mengatakan bahwa kaum Yahudi menikmati zaman keemasan di Andalusia. “Under Islam, the Jews had Enjoyed a golden age in al-Andalus” tulis Karen Amstrong. (www.voa-islam.com).
Begitulah penerapan islam sebagai sebuah ideologi, mampu menyatukan wilayah yang luasnya dua pertiga dunia, menyatukan berbagai bangsa, suku, ras bahkan agama. Semua manusia hidup dalam aturan yang menyejahterakan mereka, yaitu aturan tanpa diskriminasi yang datang dari pengatur alam semesta yaitu Allah SWT.
Mari kembali kita renungi firman Allah dalam Al-Qur’an mengenai persatuan ini. Kaum muslimin adalah ummat yang satu menyembah Tuhan yang satu yaitu Allah SWT dimanapun mereka berada Tuhan yang kita sembah adalah sama. “Dan sungguh, inilah umat kalian, umat yang satu dan Aku adalah Tuhan-mu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mu’minun 52).
Kita adalah ummat yang satu. Maka sudah saatnya kita mengabaikan batas Negara yang membuat kita terpecah belah dan mudah dijajah oleh asing baik secara politik maupun sumber daya alamnya. Menyatukan kembali dua pertiga dunia yang telah terkoyak menjadi 50 lebih negara kecil oleh penjajah. Kembali meraih kegemilangan islam tanpa sekat ras, suku, bangsa dan tanpa batas wilayah. Melebur menjadi satu dalam aqidah, syariah dan wilayah khilafah islamiyah. Dan itu akan kita gapai tidak lama lagi, insya Allah.
Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, –Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, “Saya hafal khuthbah Nabi saw.” Hudzaifah berkata, “Nabi saw bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam” (HR. Imam Ahmad).Wallahu’alam.(***).

Related posts