by

Pers Diajak Lawan Kebiadaban Baru

-Berita Kota-246 views

“Karena kalau kepo itu hilang, berhenti bertanya dan berhenti ingin tau, itu berarti hal tragis bagi seorang jurnalis,”
Yan Megawandi

Momentum Hari Pers Nasional 2019

PANGKALPINANG- Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari. Tahun ini peringatan HPN dipusatkan di Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Tema yang diangkat pada HPN 2019 yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini yakni ‘Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital’.

Menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bangka Belitung, Yan Megawandi momentum HPN diharapkan ada sinergi dari insan pers dengan pemerintah dalam mempublikasikan dan memberikan informasi yang berkualitas dan baik kepada masyarakat. Dia juga mengajak agar insan pers dapat memerangi kebiadaban baru alias berita hoaks yang meresahkan masyarakat.

“Media dengan memanfaatkan sumber dayanya bisa untuk memerangi dalam tanda kutip kebiadaban baru atau berita hoaks. Jurnalis punya peran dan jangan sampai terlibat menyebarluaskannya, serta mencegah. Dengan demikian akan membuat orang makin menghargai berita yang baik dan berkualitas,” pesan Yan ketika dimintai tanggapannya perihal HPN, Jum’at (8/2/2019).

Dengan berita yang baik dan tidak bohong, lanjut mantan wartawan ini, merupakan bentuk penghargaan kepada harkat jurnalis. Dimana di satu sisi, harus bijak dan disisi lainnya juga bebas namun bertanggung jawab terhadap apa yang dipublikasikan. Dia mengakui memahami tugas jurnalis dan produk yang dihasilkan merupakan bagian dari sumbangan sudut pandang untuk pemerintah dalam menyikapi suatu masalah.

Akan tetapi, dia melihat, perkembangan media dan jurnalis saat ini sangat berbeda dibandingkan saat ia berkecimpung di dunia jurnalistik. Dimana ketika itu, kecepatan dalam memberitakan belum didukung oleh teknologi seperti saat ini. “Memang ada perubahan mindset lebih cepat instan, pada saat itu juga berita sudah update bahkan ada siaran langsung, berita yang dulu didefinisikan yang telah berlangsung, sekarang sedang berlangsung juga diberitakan,” bebernya.

Demikian juga halnya ketika mencari referensi dalam menulis berita. Menurut Yan, saat ini cukup dituliskan bagian yang akan dicari di layar handphone atau komputer, Google sudah bisa memberikan banyak tulisan sebagai bahan referensi. Sementara dulu, katanya, dia harus perlu ke perpustakaan atau toko buku untuk mendapatkan referensi mengenai tulisan yang akan dibuat. “Sekarang kemampuan wartawan sudah di atas dulu, dalam arti kecepatan. Kemahiran menggunakan peralatan,” imbuhnya.

Bagian yang tak terpisahkan dari media ditengah perkembangan media saat ini, lanjut Yan adalah bidang minat yang sama, keberpihakan kepada publik dan rasa ingin tau atau kepo merupakan jurus maut yang harus dipunyai setiap jurnalis. “Karena kalau kepo itu hilang, itu berarti hal tragis bagi seorang jurnalis, berhenti bertanya dan berhenti ingin tau,” ulasnya.

Pernah menjadi wartawan, Yan juga memiliki kenangan yang tak bisa dilupakan selama bertugas mencari berita, banyak pengalaman dan hal lain yang ia rasakan. “Yang selalu saya ingat, ketika menjadi orang media, saat itu mewawancarai tukang becak dalam rangka HUT Golkar, jawaban (tukang becak) agak kaget, dia bilang nanti, mau ngumpul teman-temannya dulu, padahal jawaban yang saya butuhkan personal, dipancing bagaimanapun ia tetap tidak mau jawab,” kenang Yan sambil mengenang masa sekitar tahun 1988.

Setelah duduk di kursi birokrasi, Yan mengaku tetap masih mengingat profesinya dulu. Bahkan ketika sudah diangkat menjadi PNS pun, dia masih kerap membantu Sriwijaya Pos, sebagai koresponden di Pulau Bangka. Saat sudah menjadi pejabat, Yan, memang merupakan salah satu pejabat Pemprov Babel yang paling enak diwawancarai, tidak pernah menolak meskipun diakuinya dalam keterbatasan waktu.

“Pernah jengkel (kepada wartawan) ketika diuber, kita pengen cepet dipanggil atasan misalnya, tapi pada saat bersamaan sadar harus memberikan informasi, dua hal ini yang harus disikapi, kemudian adanya juga sedikit kesal kepada yang bertanya padahal sudah dijelaskan tetapi enggak bisa dipahami,” ceritanya.

Baginya, pers adalah mitra pemerintah dan mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Babel ini percaya bahwa kritik dan saran dari media massa adalah bagian dari untuk tumbuh dan berkembang. “Kalau enggak dikritik sering lupa bahwa kita belum optimal, belum sempurna, walaupun ada juga yang dengan alamnya sendiri enggak mengerti, media dan pers memberikan sudut pandangan yang mungkin berbeda, alternatif sudut pandangan yang kami alami sehari-hari akan makin melengkapi membuat sesuatu menjadi utuh dan bulat,” jelasnya.

Dia menyebutkan, bahwa setiap orang memang dilahirkan dengan sudut pandangan berbeda, namun jika saling melengkapi akan menjadi lebih bagus. Walaupun tak semua bisa diterima, tetapi berupaya memahami sudut pandangan yang berbeda. “Misalnya, karena kami keterbatasan waktu tidak menemukan fakta di lapangan, tapi media dengan keluwesan dan lainnya menemukan fakta, nah itu dijadikan sesuatu yang komprehensif akan bisa saling melengkapi,” jelasnya.

Disinggung mengenai profesionalisme pers saat ini, Yan berharap, semakin banyak wartawan yang profesional. Karena siapapun, lanjutnya pasti menginginkan berharap dengan orang-orang yang profesional, termasuk awak media.

“Kalau kita profesional akan enak, mestinya bisa diterima dan profesional bagian upaya institusi membuat standar profesionalitas, karena banyak tingkatkan profesionalisme yang berkembang, barangkali disepakati berapa standar itu,” ulasnya. “Awak media sepakat pengen profesional, supaya bisa dibedakan dengan yang enggak profesional, yang ngaku-ngaku wartawan,” pungkasnya.

Minta Pers Kawal Pembangunan

Sementara itu, Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil alias Molen mengajak mengajak pers untuk ikut mengawal pembangunan di Kota Pangkalpinang agar menjadi lebih baik.

Menurutnya, peran pers sangat penting dalam pembangunan. Pers memiliki peran yang sangat penting dalam menyampaikan informasi seluruh kegiatan maupun program Pemkot Pangkalpinang kepada masyarakat.

“Peran pers ini sangat penting bagi pemerintah daerah, selain bisa mempromosikan daerah, juga sabagai kritik terhadap pemerintah daerah serta penyeimbang dalam kepemimpinan saya agar menjadi lebih baik lagi,”kata Molen, Jumat (8/2/2019).

Dia berharap kedepan hubungan antara pers dengan Pemkot Pangkalpinang dapat ditingkatkan dan bersama-sama membangun Kota Pangkalpinang sebagai Kota Beribu Senyuman.

“Dalam memperingati Hari Pers Nasional ini, saya berharap seluruh wartawan khususnya di Kota Pangkalpinang terus bekerja secara profesional dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Jadikan saya kawan dalam membangun Pangkalpinang,” ujar Molen.(nov/bum/10)

Comment

BERITA TERBARU