Pernikahan Dini Basel Tertinggi di Babel

  • Whatsapp

Terungkap di Rakor Strategi Isu Kependudukan

TOBOALI – Bupati Bangka Selatan (Basel) Justiar Noer melalui Staf Ahli Herman mengungkapkan, tingginya angka pernikahan usia dini di Kabupaten Bangka Selatan menjadi isu kependudukan yang menonjol saat ini. Sebab, dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, jumlah angka pernikahan dini terbesar berada di Bangka Selatan.
Karena itu, rapat koordinasi kemitraan kependudukan dan strategi isu kependudukan tingkat kabupaten/kota menjadi sangat penting bagi Bangka Selatan. Dengan harapan, kegiatan rakor yang digelar pada Kamis (21/3/2019) siang di Gedung PKK Bangka Selatan itu dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan pencapaian program kependudukan keluarga berencana dan pembangunan keluarga (KKBPK).
“Dari seluruh kabupaten atau kota di Provinsi Bangka Belitung, Basel urutan pertama angka pernikahan usia dini. Secara umum tujuan dari kegiatan ini ialah menciptakan suatu kondisi dimana program pengendalian penduduk, dipantau serta dievaluasi,” ujar Herman.
Dia berharap, kegiatan rakor tersebut dapat memberikan dampak tidak saja pada dukungan program tetapi juga perbaikan capaian program KKBPK.
Secara khusus tujuannya yaitu adanya kesepakatan dari mitra kerja di tingkat kabupaten, kecamatan, serta di tingkat desa percontohan kampung KB untuk membentuk suatu strategi menangani masalah isu kependudukan di Basel.
“Dengan dilaksanakannya kegiatan pertemuan ini diharapkan adanya kesepakatan dari mitra kerja di tingkat kabupaten, kecamatan, serta di tingkat desa khususnya di kampung KB. Untuk mendukung program KKBPK di Basel,” harapnya.
Ia juga mengungkapkan, arah kebijakan BKKBN tahun 2019 perlu didukung dengan peraturan serta kebijakan di daerah yang menunjang. Oleh karena itu, kerjasama dan koordinasi dengan mitra dan stakeholder menjadi sangat penting baik dari segi anggaran, kecakapan SDM serta sarpras yang mendukung program KKBPK.
“Ini menjadi tantangan besar karena terdapat perubahan tata kelola pemerintah yang berimplimentasi pada perlunya strategi baru untuk meresponnya. Yakni kebijakan terdesentralisasi, SKPD KB di tingkat kabupaten dibiayai dan diatur oleh pemda. Serta adanya penguatan integrasi program lintas sektoral di kampung KB guna mempercepat terwujudnya kualitas SDM,” pungkasnya.
Sementara Kabupaten Bangka dalam data tahun 2018 menempati peringkat empat tertinggi angka pernikahan dini di Provinsi Babel setelah Bangka Selatan, Belitung dan Bangka Tengah. Sedangkan untuk level provinsi, Babel menempati urutan ketiga di Indonesia tertinggi pernikahan dini.
Plt Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bangka, Boy Yandra seperti dilansir pada Kamis (18/10/2018) mengatakan, di Bangka untuk yang paling tinggi angka pernikahan dini ada di Kecamatan Belinyu, Mendobarat dan Merawang.
Menurut dia, penyebab maraknya pernikahan dini karena tempat bermain anak-anak di desa yang masih kurang, minimnya pengawasan orangtua terhadap anak dimana anak yang keluar malam dibiarkan serta maraknya pergaulan bebas.
“Kalau yang kami lihat di dua desa, kejadian-kejadian itu dia sering kumpul malam. Ada umur 14, umur 15 yang ada di wilayah kita untuk pernikahan dini,” ungkap Boy Yandra.
Lebih lanjut Boy menyarankan agar pengawasan orangtua terhadap anak lebih maksimal saat anak keluar rumah. Orangtua, katanya, harus tahu jam berapa anak tidur malam dan pengunaan handphone juga harus diawasi dengan intens.
Dia menjelaskan, dampak pernikahan dini diantaranya terjadinya perceraian pada usia muda, bahaya terhadap kesehatan reproduksi yang belum siap dan dapat menyebabkan kematian terhadap ibu dan bayi.
“Gizinya dia belum paham pada saat hamil maka dari itulah pernikahan dini bisa menyebabkan stunting (gizi buruk) nantinya. Salah satu penyebab stunting itu pernikahan dini karena orang tua dak paham gizi untuk anaknya,” ujarnya. (raw/dok/1)

Related posts