by

Perlukah Otonom(is-me) Terhadap Anak?

-Opini-332 views

Siti Aya Zulaikha
Alumni FISIP UBB

Siti Aya Zulaikha

Di Bangka Belitung sendiri angka putus sekolah terjadi di berbagai daerah, apalagi di tingkat pedesaaan. Tidak heran beberapa hal yang lalu fokus pendidikan ada tiga indikator utama yaitu guru, murid dan orangtua murid. Sekolah, guru dan murid tidak bisa dipisahkan, ketiga unsur tersebut menyatu dan mutlak dalam ruang lingkup pendidikan. Pendidikan merupakan proses peradaban bangsa atau proses pembelajaran yang dilakukan berbagai pihak yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, dan pelatihan. Pendidikan juga bisa dilakukan dibawah bimbingan belajar oleh orang lain tetapi juga memungkinkan belajar secara otodidak. Anak-anak usia produktif usia sekolah harus mendapatkan pendidikan yang layak. Usia produktif anak sekolah minimal 7-19 tahun.
Dinas pendidikan daerah, dewan pendidikan daerah, komite sekolah, komisi perlindungan anak daerah bahkan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk itu. Persamaan untuk mendapat pendidikan dan akses kesempatan untuk mendapatkan pendidikan secara merata, dan di sekolah hal ini dikembangkan.
Sekolah merupakan lembaga yang produktif untuk menghasilkan anak-anak dan tempat pembelajaran hal-hal yang baru di lingkungannya. Kemajuan kultur di masyarakat seolah telah merubah dan merambah di sisi bidang pendidikan. Apa yang bisa di respon terus membantu untuk merubah kemajemukan di dunia sosial. Kemajuan pendidikan di negeri ini banyak dirasakan oleh para akademisi. Tetapi, tidak pada anak didik yang tingkat kesadaraan pendidikan yang belum sepenuhnya ditanamkan. Apalagi Memungkinkan terjadinya intimidasi terhadap pola hubungan antara guru dengan murid. Ketika dihadapkan persoalan siswa yang putus sekolah pada usia produktif memungkinkan terjadinya efek ganda didalam di dunia pendidikan.
Seperti halnya anak didik, sebenarnya harus menjadi perhatian bukan hanya di lingkungan formal saja. Otonomi dalam menciptakan pendidikan yang berkarakter oleh tenaga pendidik meliputi hak dan kewajiban. Pendidik bukan hanya tranfer ilmu kepada murid, namun lebih kearah implementasi hak dan kewajiban. Dengan kata lain, ilmu yang didapatkan tidak hanya sebatas yang ada di buku dan kelas. Lebih dari itu, segala adab dan tata krama perlu menjadi prioritas.
Ada baiknya juga anak perlu mendapatkan pembelajaran di lingkungan informal seperti keluarga. Institusi sekolah mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik, peran keluarga juga seperti orang tua juga sangat diperlukan dalam menciptakan proses pendidikan. Misalnya, di dalam keluarga orang tua mengajarkan anak tentang nilai agama, nilai moral ataupun nilai kesopanan. Pendidikan mentalitas pada anak sejak dini, sehingga dapat membentuk karakter. Setelah itu, selanjutnya anak didik dimasukan ke lembaga formal seperti sekolah. Karakter guru sangat lebih diutamakan untuk mengajar anak didik yang berkualitas. Sehingga guru bisa menopang proses pendidikan menuju peradaban yang komprehensif.
Misalnya proses pendidikan bisa di lihat dari peran komite sekolah, tujuan utama dibentuknya komite sekolah untuk menanggapi persoalan-persoalan anak didik. Anggapan yang keliru jika komite sekolah hanya dijadikan sebagai ladang untuk mencari tambahaan pendanaan. Perlu diluruskan bahwa komite sekolah juga merupakan lembaga pendidikan yang bisa memfasilitasi keluhan walaupun tak sepenuhnya juga keluhan itu dapat difasilitasi secara utuh. Hal ini bisa menjadi wadah untuk terus belajar membenahi pendidikan yang secara diferent dan inheren.
Orang tua murid seharusnya lebih mempercayai kinerja seorang guru. Sehingga terjalinnya sebuah kepercayaan yang terjalin didalam dunia pendidikan. Guru juga akan merasa teguh berada di sekolah, dan juga memiliki rasa tanggung jawab atau sense of belonging rasa yang dimiliki bersifat aktif. Dalam hal ini ada keterkaitan ataupun keterikatan antara guru dan anak didik. Artinya, sang guru berada di dalam kelas benar-benar menjalankan kewajibannya mendidik seperti layaknya mendidik anak-anaknya sendiri. Jika sudah terjadi hal seperti itu, harus ada dorongan dari orangtua murid untuk mempercayai anaknya kepada sang guru.
Permasalahan yang kerap terjadi diranah pendidikan adalah sang guru dan murid sering mengalami kesalahpahaman. Head to head kedua belah pihak ini mempengaruhi cara kerja guru atau psikologi pada anak akan berubah. Hal ini merupakan fenomena yang tidak sehat, bahkan ini juga merupakan benih yang sering muncul dan menyebabkan disintegrasi. Sisi lain sang guru juga akan merasa bahwa guru kurang dihargai oleh anak didik sehingga otomatis ini, menyebabkan pola pengajaran atau transfer of knowledge yang terjalin dengan seadanya. Hal ini tentunya sangat tidak diharapkan oleh dunia pendidikan. Bahkan sang guru bisa menjadi depresif dan ini tentunya tidak bagus terhadap nilai-nilai pendidikan ataupun kualitas pendidikan. Karena dasarnya setiap anak didik memilih karakter yang berbeda-beda begitu pula dengan cara sang guru untuk harus mampu membaca karakter anak. tindakan yang bersifat preventif. Pentingnya pendidikan karakter menjadi batu loncatan untuk membentuk sikap dan perilaku secara sosial. Setiap guru setidaknya harus memahami psikologi pada anak didik. Seperti interpretasi Gidens untuk menekankan adanya karakter refleksi pada tindakan adanya sifat mampu mengetahui pada pelaku. Akhir kata, hal ini perlu dipahami betul-betul oleh berbagai pihak seperti guru, murid, wali murid dan penggiat pendidikan.
Untuk itu, Permendikbud No 10 Tahun 2017 tentang perlindungan bagi pendidik dan tenaga kependidikan perlu diperhatikan oleh berbagai pihak. Baik pihak yang berkecimpungan di dunia pendidikan atau stakeholder lainnya. Bukan hanya dimaknai sebagai hitam di atas putih ataupun pernyataan di atas kertas yang memiliki payung hukum. Namun, pemaknaannya bisa lebih dari itu, perlu dipahami prinsip dasarnya peraturan itu dibuat bukan bersifat kooperatif, koersif atau represif. Namun, ada baiknya mengarah dan bersifat preventif. Misalnya hal yang sering dilakukan oleh guru dilingkungan sekolah menegur anak didiknya yang melakukan kesalahan melalui tindakan persuasif. Atau ajakan untuk tidak mengulangi kesalahan yang kurang baik.
Akan tetapi, tindakan persuasif itu jarang di dengar dan lebih sering tidak dihiraukan oleh anak didik, biasanya guru memilih pilihan lain yaitu dengan tindakan fisik yang halus hal itu wajar. Seharusnya tindakan itu dapat dimaknai sebagai splash educational atau percikan pendidikan. Dengan kata lain ketika itu telah terjadi akan adanya hubungan antara guru dengan murid untuk saling mengisi dan menghargai sehingga terciptalah perdamaian. Dari papararan di atas, perlukah otonom(is-me) terhadap anak?. (****).

Comment

BERITA TERBARU