Perilaku Menyimpang Remaja & Keberfungsian Sosial Keluarga

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998). Sebagian besar pada fase remaja, mereka belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama mereka juga bukan anak-anak lagi. Oleh karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial.
Menurut Sri Rumini dan Siti Sundari (2004; 53) masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga tahap, yaitu masa remaja awal antara 12-15 tahun, masa remaja pertengahan dari 15-18 tahun dan masa remaja akhir 18-21 tahun.
Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang.  Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui  jalur tersebut berarti telah menyimpang.
Untuk mengetahui tentang latar belakang kenakalan remaja, dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual, individu sebagai  satuan pengamatan sekaligus sumber masalah. Untuk  pendekatan sistem, individu sebagai satuan pengamatan sedangkan sistem sebagai sumber masalah.
Pembaca yang budiman, terdapat hubungan antara kenakalan remaja dengan keberfungsian keluarga. Artinya semakin meningkatnya keberfungsian sosial  sebuah keluarga dalam melaksanakan tugas kehidupan, peranan, dan fungsinya maka akan semakin rendah tingkat kenakalan anak-anaknya atau kualitas kenakalan remaja semakin rendah. Di samping itu penggunaan waktu luang yang tidak terarah merupakan sebab yang sangat dominan bagi remaja untuk melakukan perilaku menyimpang.
Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan nilai dan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Kartini Kartono (1988 : 93) mengatakan remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut “kenakalan”. 
Dalam Bakolak inpres no: 6 / 1977 buku pedoman 8, dikatakan bahwa kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku/ tindakan remaja yang bersifat anti sosial, melanggar norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat.                                               
Singgih D. Gumarso (1988 : 19), mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu: (1) kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diatur dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum; (2) kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa.
Menurut bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan ; (1) kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit (2) kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin (3) kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dan sebagainya. 
Dari paparan di atas, penulis lebih melihat sebuah penyimpangan yang dilakukan oleh remaja terhadap hukum yang berlaku dan cenderung menimbulkan kerugian pada pihak lain sebagaimana yang diatur dalam hukum pidana, dan juga agama seperti kasus pengedaran narkoba, mencuri, memerkosa, pencabulan, tawuran pelajar dan sejenisnya, hal ini lebih tepat disebut sebagai tindakan kriminal remaja. Aktivitas di atas tidak pas bila disebut sebagai kenakalan remaja. Pelakunya layak diberikan sanksi sesuai dengan norma yang berlaku.
Pembaca yang budiman, berikut ini penulis paparkan beberapa teori yang memengaruhi terjadinya kenakalan yang dilakukan oleh remaja, yaitu pertama teori labelling (pemberian cap atau julukan). Seseorang yang telah diberi cap perilakunya pada tahap primer (pertama) sebagai perilaku menyimpang seperti diberi julukan pencuri, penipu, wanita nakal, orang gila, dan sebagainya, biasanya orang tersebut akan terdorong untuk melakukan penyimpangan sekunder (tahap lanjut) dengan alasan “kepalang tanggung”. Teori labelling dikemukakan oleh Edwin M. Lemert.
Kedua, Robert K. Merton mengemukakan teori merton yang menjelaskan bahwa perilaku menyimpang merupakan bentuk adaptasi terhadap situasi teretentu. Merton mengidentifikasi beberapa tipe cara beradaptasi, yaitu: konformitas (conformity), sebuah perilaku mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut (cara konvensional dan melembaga). 
Artinya, perilaku seseorang atau sekelompok orang dipengaruhi oleh perasaannya yang berusaha untuk diterima lingkungannya sehingga orang tersebut berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungannya tanpa memikirkan hal itu positif atau negatif. Gambarannya, yaitu ketika ada seseorang yang pertama kali ingin bergabung dalam salah satu kelompok geng motor. Pengurus mensyaratkan kepada calon anggota yang ingin bergabung harus berani dalam melanggar rambu lalu lintas dan lain-lain. Maka berdasarkan teori ini, orang tersebut akan beradaptasi agar bisa diterima dalam kelompok geng motor tersebut sehingga terjadilah apa yang disebut dengan kenakalan remaja. Tipe adaptasi yang kedua, yaitu inovasi (innovation). Perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat, tetapi ada seseorang atau sekelompok orang memakai cara yang dilarang oleh masyarakat (termasuk tindak kriminal). Misalkan dalam suatu kampung terdapat tradisi syukuran menyambut tahun baru. Di setiap rumah tersaji makanan berupa daging, kue-kue dan lain-lain. Ada sebuah keluarga yang kemudian tidak mau dianggap tidak menghormati tradisi tersebut. Keluarga ini miskin dan tidak memiliki cukup uang untuk menyajikan semua makanan tadi. Oleh karenanya ada anggota keluarga yang berusia 16 tahun melakukan pencurian sepeda motor dan kemudian menjualnya. Hasil curian kemudian dibelanjakan untuk membeli makanan hari raya tersebut. Tindakan seperti ini tindakan yang melawan hukum.
Proses sosialisasi yang dilakukan remaja dapat dianggap tidak berhasil jika individu tidak mampu mendalami dan mengamalkan (menaati) norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Orang-orang yang demikian tidak memiliki perasaan menyesal setelah melakukan pelanggaran hukum. Dalam hal ini peran keluarga sangat penting dalam menanamkan norma-norma masyarakat dalam diri para anggotanya secara individual. Apabila keluarga tidak dapat menjalankan perannya tersebut, perilaku menyimpang akan dilakukan oleh anggota keluarganya.  Keberfungsian Sosial KeluargaDalam kerangka konsep telah diuraikan tentang keberfungsian sosial keluarga, diantaranya   adalah kemampuan berfungsi sosial secara positif dan adaptif bagi keluarga, yaitu jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, peranan, dan fungsinya serta mampu memenuhi kebutuhannya. Keutuhan keluarga sangat mempengaruhi perilaku remaja. Faktanya, banyak penyimpangan perilaku remaja bermula ketika ia mengalami broken home yang diakibatkan suasana KDRT di dalam rumah tangga, dan berakhir pada perceraian. Biasanya para remaja menjadi korban penyalahgunaan narkoba, seks bebas, tawuran, pemerkosaan, LGBT dan lain sebagainya.
Kehidupan beragama kelurga juga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian sosial keluarga. Sebab dalam konsep keberfungsian juga dilihat dari segi rohani anggota keluarga. Sebab keluarga yang menjalankan kewajiban agama secara baik, berarti mereka akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Artinya secara teoritis bagi keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik, maka anak-anaknya pun akan melakukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma agama. Keluarga adalah tempat pertama remaja mengenal nilai-nilai.
Hubungan antara sikap orang tua dalam pendidikan anaknya memengaruhi tingkat penyimpangan keluarga. Salah satu sebab penyimpangan yang disebutkan pada kerangka konsep di atas adalah sikap orang tua dalam mendidik anaknya. Hari ini sebagian orang tua hanya menilai kebutuhan anaknya sebatas material saja tanpa memperhatikan aspek yang lain. Sebagai contoh, banyak para orang tua yang tidak memiliki waktu yang cukup untuk anggota keluarga. Mereka sibuk setiap harinya mencari nafkah.Secara materi kebutuhan sang anak sebagai remaja mungkin terpenuhi, hanya saja mereka kekurangan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya. Hal ini menyebabkan tidak sedikit remaja yang melakukan penyimpangan perilaku seperti menjadi LGBT, seks bebas, penyalahgunaan narkoba dan lain-lain.
Selain itu, faktor yang memengaruhi perilaku remaja, yaitu hubungan antara interaksi keluarga dengan lingkungannya. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, oleh karena itu mau tidak mau harus berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Hubungan yang baik antar keluarga di tengah masyarakat akan melahirkan ketahanan sosial masyarakat. Artinya akan tercipta kontrol sosial masyarakat yang tinggi terhadap penyimpangan perilaku remaja. Masyarakat akan melakukan pencegahan, pembinaan dan pengawasan terhadap perilaku remaja yang ada di lingkungannya untuk dapat berjalan sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.
Selain itu juga solusi yang dapat digunakan dalam mengatasi kenaikan angka kenakalan remaja, yaitu meningkatkan keberfungsian sosial keluarga melalui program-program kesejahteraan sosial yang berorientasi pada keluarga dan pembangunan sosial yang programnya sangat berguna bagi pengembangan masyarakat secara keseluruhan. Di samping itu, untuk memperkecil perilaku menyimpang remaja dengan memberikan program-program untuk mengisi waktu luang, dengan meningkatkan program di tiap karang taruna. 
Sebagai penutup, penulis ingin tegaskan bahwa dalam pandangan Islam, keluarga merupakan bagian dari masyarakat. Keluarga menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan masyarakat yang islami, yaitu masyarakat yang berperan penting dalam menyebarkan pemikiran, perasaan dan aturan serta nilai-nilai Islam ke tengah masyarakat. Hal ini menjadi modal sosial dalam memperkuat ketahanan keluarga dan ketahanan sosial. Sebagaimana yang disampaikan Allah Swt dalam QS. At Tahrim: 6: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..”
Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, yaitu tanamkanlah kepada mereka adab dan tanamkanlah pada diri mereka kebaikan. Qotadah ra. Berkata, “Engkau memerintahkan mereka untuk menaati Allah Swt dan mencegah mereka bermaksiat kepada Allah, hendaklah engkau menegakkan perintah Allah terhadap mereka, memerintahkan mereka dengan perintah Allah dan membantu mereka dalam urusan tersebut, dan jika engkau melihat kemaksiatan dari mereka hendaklah engkau menegur mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/391).Wallahu’alam [****]     

 

No Response

Leave a reply "Perilaku Menyimpang Remaja & Keberfungsian Sosial Keluarga"