by

Pergulatan Aktualisasi Ilmu Sosial di Bangka Belitung

-Opini-226 views

Oleh: Muhammad Tahir
Ketua Kumunitas Aksarra Muda Bangka Belitung

Muhammad Tahir

Lingkungan dan manusia tidak lepas dari hubungan timbalik atau (Causalitas). Lingkungan juga dapat mempengaruhi kehidupan manusia atau social, dan manusia dapat mempengaruhi lingkungan. Sosiologi yang selalu berkutat pada kajian hubungan interksi manusia dan kehidupan sosial yang dimana pada kali ini sosiologi lambat dalam menanggapi hal lingkungan tersebut.

Sosiologi lingkungan mulai berkembang pada saat dua seorang ilmuan membuat sebuah artikel yang berjudul Environment Sociology karya Dunplap dan Catton. Meraka adalah penyumbang inti dari teori sosiologi lingkungan sala satunya juga termaksud Shnaiberg yang membantu mengilustrasikan teori sosilogi lingkungan.

Banyak hal yang ditawarkan dari segi persoalan-persoalan lingkungan yang mana sosiologi konveksional tidak mempu membicarakan persoalan-persoalan tersebut, kemudian masyarakat modern dalam menghadapi SDA yang terbatas serta ekosistem yang ada. Selanjutnya masalah ekologi, krisis lingkungan sampai pergeseran paradigma masyakat mengenai lingkungan. Semua hal tersebut akan dikupas habis dalam sosiologi lingkungan.

Ditambah lagi dengan teori-teori mendasar yang mesti diketahui dari teori dominasi, teori kemungkinan, penakluk lingkungan (Antroposentrisme), dan pejuang lingkungan (Ekosentrisme).

Mempelajari sosiologi lingkungan tidak serta merta mengetahui dampak lingkungan semata, namun juga menjadi momentum perbaikan lingkungan rusak diakibat krisis lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat atau manusia itu sendiri. Oleh karenanya, sosiologi lingkungan akan memberikan pemahaman seperti bagaimana malakukan kebijakan lingkungan kemudian Analisi kebijakan lingkungan dan sampai pada cara menjaga lingkungan tersebut dengan mengetahui kearifan apa yang ada pada masyarakat.

Sosiologi lingkungan ini juga berangkat dari pandangan Bapak Sosiologi yaitu Aguste Comte dalam Hukum 3 tahap, dimana terdapat fase-fase dalam memahami lingkungan. Tahap pertama mengenai Teologi, dimana masa ini manusia dikuasai oleh spitual yang sangat kuat, sehingga pelestarian lingungan bergantung pada spiritual kepercayaan. Kemudian tahap kedua Metafisika dimana manusia sudah mampu mengetahui perkembangan pemanfaatan lingkungan yang sudah tidak begitu mengikat dengan spiritual keagamaan tau roh-roh dan menganggap alam semesta dan seisinya diatur perubahannya dari hukum-hukum alam. Terakhir, tahap ketiga paham positivis, pada tahap ini manusia sudah mempu berfikir secara logis dan sudah memfanaatkan lingkungan tanpa mencari sesuatu yang sia-sia seperti asal dan tujuan dari alam itu.

Penjelasan di atas merupakan pemahaman dasar tentang lingkungan. Untuk itu, agar lebih memahami lebih dalam, kita akan coba membedah permasalahan lingkungan di Bangka Belitung dengan pemhaman yang kita ketahui.

Lingkungan di Bangka Belitung tidak dapat dipungkiri tingkat kerusakannya sangat besar, dikarenakan adanya penambangan timah. Dari penambangan timah ini, banyak lahan yang dibuka untuk mengeruk timahnya, tak hanya berada di darat di daerah perairan pun ikut ditambang.

Kerusakan lingkungan di daratan meliputi rusaknya lahan, ekosistem hewan, pencemaran air dan lain sebagainya. Begitunpun dengan pertambangan di perairan ekosistem laut rusak, terumbu karang semuanya mati, penangkapan ikan bagi nelayan berkurang, terjadi terjalanya pinggir pantai, air keruh dan lain sebagainya.

Melihat permasalahan itu, maka sosiologi lingkungan sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan permasalahan agar mampu meminimalisir kerusakan lingkungan lebih lanjut. Bahkan memberikan solusi dalam menyelesaikan masalah tersebut. Yang ditawarkan oleh sosiologi lingkungan dalam permasalahan tersebut, peran aktif dari masyarakat dalam memperjuangkan lingkungan seperti yang dilakukan oleh para organisasi Wahana Lingkungan (WALHI) yang ikut terlibat dalam pencegahan bahkan menjadi aktivis lingukungan dalam sela-sela pertambangan dan ikut andil dalam pelestariannya.

Sosiologi lingkungan juga sangat dibutuhkan dalam kontes pembangunan seperti halnya adanya AMDAL Analisis Mengenai Dampak Lingkuang, sebelum diadakannya pembanguan ini menjadi tonggak awal dalam pembangunan keberlanjutan agar dapat pembangunan yang dihasilkan tidak merusak lingkungan sekitar dan tidak membangun pembangunan yang akan meresahkan masyarakat. Disamping itu, adanya sebuah kajian sosial pemberdayaan yang harus ditempatkan sesuai pada porsinya, untuk mengkaji persoalan yang ada di Bangka Belitung.

Pemberdayaan atau keberdayaan adalah sebuah kajian yang berbeda dalam kontek berbeda pula. Pemberdayaan merupakan sesuatu yang akan membawa pada titik kesejahteraan masyarakat lebih konteks pada sisi ekonimi sehingga lahirnya sebuah jargon dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat yang disebut demokrasi ekonomi. Dalam pemberdayaan ini berusaha membentuk birokrasi ekonomi agar masyarakat mamampukan dirinya dan memandirikan dirinya. Konsep ini menyakut pada penguasaan teknologi, pemikiran modern, dan akses pasar. Kemudian dari itu, suatu Negara memerlukan birokrasi yang efisien, karena masyarakat hanya membutuhkan pembangunan sedangkan Negara hanya sebagai fasilitatot atau penyedia yang di kehendaki penerima manfaat.

Selanjutnya, yaitu keberdayaan dalam konteks masyarakat, bahwa kemampuan individu yang bersenyawa dan membangun keberdayaan dalam masyarakat. Dalam hal ini dapat disangkut pautkan dengan nilai-nilai intirisik dari masyarakat seperti bergotng royong, kekeluargaan dan keperjuangan dan jika dikontekskan dalam Indonesia itu ada kebinekaan. Keberdayaan juga salah satu unsur yang menjadikan masyarakat bertahan, sehingga dapat mengetahui permainan perpolitikan antara lainnya ketahanan nasional.

Pemberdayaan ini tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat, dimana masyakat lokal dalam ikut berpartisipasi dalam kegitan apapun itu kurang. Maka tak heran jika pemberdayaan dianggap sebagai proses, pembelajaran dan partisipasi karena itu hal yang mesti iya kembangkan, dan ia akan merusaha memobilisasi masyakarat agar ikut serta dalam kegiatan yang mengarahkannya pada kesejahteraan atau kearah yang lebih baik. Pada dasarnya pemberdayaan juga sebagai fasilitator, pembimbing dan pengarah.

Pemberdayaan dalam konteks pembangunan juga menjadi hal yang serius baik dari pembangunan SDM maupun pembangunan fisik. Maka dalam pemberdayaan itu ada yang namanya gerakan sosial, pemetaan sosial, modal sosial dan gerakan social, agar mereka mampu melihat sebuah potensi yang ada dalam masyarakat setempat untuk dikembangkan agar pembangunan yang direncanakan tidak terjadi hal yang tidak kehendaki seperti pembangunan tidak tepat sasaran.

Pemberdayaan pada dasarnya bertujuan mengubah dari usaha tani masyarakat menjadi perbaikan usaha tani dan perbaikan kehidupan tani kearah yang lebih baik lagi. Pemberdayaan itu sendiri memiliki pendekatan-pendekatan tertentu dalam melakukan pemberdayaan dapat dikatakan pendekatan makro dan mikro, dan dalam strategi mengetahui permasalahan di daerah tersebut dengan melakaukan FGD, MPA dan lain sebagainya.
Pembangunan berkelanjutan selalu menjadi prioritas dalam pemberdayaan masyakarat, karena dengan poritaskan hal tersebut menjadi cikal bakal kesejahtraan mayarakat yang ditompang dengan partipasi yang baik dari masyakatat.

Dalam pemberdayaan juga bukan hanya serta merta melakukan pembinakan pada manusia saja, namun juga pada bina lingkungan, bina lembaga, bina manusia dan bina usaha. Semua hal itu menjadi ruang lingkup kosen dari pemberdayaan. Oleh karenya penting adanya pemberdayaan dalam masyarakat saat dibutuhkan, mengingat masyakat di Bangka Belitung masih sangat terpaku pada kegiatan tradisonal dan masih banyak angka buta huruf dan partisipasi serta pengetahuan tentang teknologi. Maka hadirnya pemberdayaan untuk menangani semua itu, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Menjadi catatan hari ini, ketika melakukan pemberdayaan jangan menganggap manusia sebagai subjek melainkan sebagai objek, agar pemberdayaan kita lakukan tidak ada kendala untuk kedepannya. (****).

Comment

BERITA TERBARU